International

Suede Perkenalkan “Dancing With the Europeans”, Single Ketiga Dari Album Mendatang

Diterbitkan

pada

Suede
Suede (Photo by Dean Chalkley)

Suede bersiap untuk kembali menyapa para pendengarnya lewat album studio ke-10 mereka yang bertajuk ‘Antidepressants‘, yang dijadwalkan rilis pada 5 September 2025 melalui label BMG. Menjelang rilis resminya, band Britpop asal Inggris ini telah membagikan single ketiga dari album tersebut, “Dancing With the Europeans”. Video musik untuk lagu ini digarap oleh sutradara Chris Turner.

Dalam keterangan pers yang dibagikan bersama peluncuran single, sang vokalis Brett Anderson menyebut lagu ini sebagai momen yang cukup personal. Ia mengungkap bahwa meskipun dirinya tengah berada dalam masa sulit secara emosional saat proses penulisan lagu, pengalaman tampil dalam sebuah konser di Spanyol menjadi titik balik yang memberi semangat baru.

Kami sedang dalam tur, dan saya merasa cukup hancur saat itu. Tapi di atas panggung, ada momen luar biasa antara saya dan penonton. Rasanya seperti ada koneksi yang sangat kuat,” ujar Anderson.

Frasa “Dancing With the Europeans” lahir dari pengalaman tersebut, menggambarkan pencarian akan hubungan antar manusia di tengah dunia yang semakin terputus. “Saya suka kata ‘Europeans’. Ada sesuatu yang hangat tapi juga asing dari kata itu. Bagi saya, frasa itu merangkum betul momen di mana kita merasa terhubung, meski dalam dunia yang penuh jarak,” tambahnya.

Suede Band Dancing With the Europeans

Suede (credit: Kevin Westenberg)

Sebelum merilis single terbaru ini, Suede telah terlebih dahulu memperkenalkan dua lagu dari ‘Antidepressants’. Pertama adalah “Disintegrate”, yang dirilis lengkap dengan video musik. Kemudian disusul oleh “Trance State”, lagu yang juga mendapatkan banyak perhatian dari para kritikus musik. Mereka juga sempat menampilkan versi live dari lagu “Antidepressants” dalam konser di Alexandra Palace, London, tahun lalu.

Secara keseluruhan, ‘Antidepressants’ menjadi lanjutan dari album ‘Autofiction’ yang dirilis pada 2022. Dalam wawancara sebelumnya, Brett Anderson menggambarkan album ini sebagai “rekaman post-punk kami”, berbanding dengan ‘Autofiction’ yang ia anggap sebagai rekaman punk mereka.

Album ini berbicara tentang ketegangan dalam kehidupan modern: paranoia, kecemasan, neurosis. Kita semua mencari koneksi di tengah dunia yang memisahkan. ‘Antidepressants’ adalah musik yang rusak untuk orang-orang yang rusak,” jelasnya.

Proses rekaman untuk ‘Antidepressants’ dilakukan secara live di studio bersama produser lama mereka, Ed Buller, yang juga pernah menangani single debut Suede “The Drowners” pada 1992. Album ini direkam di beberapa lokasi, termasuk ICP Studios di Belgia, RAK dan Sleeper Sounds di London, serta RMV Studio di Swedia. Pendekatan live recording ini, menurut Anderson, memberikan dinamika tersendiri.

Masih terasa menyenangkan dan menantang berada di band ini. Rasanya seperti kami masih terus mendorong batas kreativitas,” katanya.

Bassis Mat Osman menambahkan bahwa album ini memiliki cakupan musikal yang luas dan dibuat untuk panggung besar. “Ini adalah album dengan ambisi besar. Kami menaikkan level permainan kami,” ujarnya.

Suede Live

Suede Live at Guildhall Portsmouth (Photo by Simon Reed/Music Pictures)

Bersamaan dengan peluncuran album, Suede juga mengumumkan rangkaian konser spesial bertajuk “Suede Takeover” di Southbank Centre, London, yang akan berlangsung sepanjang September. Pada 13 dan 14 September, mereka akan tampil di Royal Festival Hall membawakan lagu-lagu hits dan materi baru.

Selanjutnya, pada 17 September, mereka akan menggelar konser akustik intim tanpa mikrofon di Purcell Room. Puncaknya adalah pada 19 September, saat Suede akan tampil bersama Paraorchestra di Queen Elizabeth Hall.

Brett Anderson menjanjikan bahwa seri konser ini akan menghadirkan pengalaman yang beragam. “Harapkan lagu-lagu lama, lagu-lagu baru, lagu-lagu pinjaman, lagu-lagu sedih, drama, melodi, kebisingan, keringat, dan beberapa kejutan,” ujarnya dengan menggoda.

Suede merupakan salah satu pionir kunci dalam gelombang Britpop era 1990-an. Mereka mencetak deretan album yang dianggap klasik seperti ‘Suede’ (1993), ‘Dog Man Star’ (1994), ‘Coming Up’ (1996), dan ‘Head Music’ (1999), serta rilisan B-side dua CD ‘Sci-Fi Lullabies’ pada 1997.

Band ini sempat bubar pada 2003 usai merilis album ‘A New Morning’ yang mendapat sambutan dingin. Namun mereka kembali pada 2010 dan merilis ‘Bloodsports’ pada 2013, yang sekaligus menjadi comeback album mereka setelah lebih dari satu dekade.

Setelah itu mereka merilis ‘Night Thoughts’ (2016), ‘The Blue Hour'(2018), dan ‘Autofiction’ (2022), yang menunjukkan bahwa mereka masih memiliki tempat penting di lanskap musik alternatif Inggris hingga hari ini.

Support Gigsplay Dengan Saweria

🙏 Terima Kasih Atas Dukungan Anda!

Dukungan Anda sangat penting dan membantu Gigsplay untuk mendukung musisi independen Indonesia.

✅ KLIK UNTUK DONASI
Pilihan mode pembayaran
Pilihan metode pembayaran
Advertisement
Berikan Komentar

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *