Connect with us

Gig Review

BANDUNG BERISIK 2014: Pesta Maksimal dalam Agresi Metal

Published

on

bb3Bandung Berisik 2014 sebagai festival musik metal terbesar di indonesia kembali digelar. Diselenggarakan di Lapangan Brigif Cimahi, Sabtu (29/11/2014), acara akbar tahunan tersebut mampu menyedot atensi sekitar 20 ribu penonton  yang datang. Tak hanya dari berbagai daerah di Jawa Barat, mereka juga bahkan berdatangan dari wilayah lain di indonesia. Sekumpulan pengunjung berkostum hitam-hitam pun terlihat mendominasi area acara. Para penikmat musik cadas pun sangat dimanjakan dalam Bandung Berisik kesembilan ini.
Tata letak panggung yang megah serta dukungan suara ratusan ribu watt membuat festival musik satu ini sangat ditunggu. Layaknya sebuah magnet, kedua panggung yang disediakan yakni Magnitude Stage dan Rebel Stage, rupanya sanggup menarik penonton untuk tak mengalihkan perhatiannya dari santapan musikal yang diberikan. Sebanyak lebih dari dua lusin band pengisi acara pun jadi garda terdepan dalam Bandung Berisik 2014.
Dihelat selama sehari penuh, event  kali ini mengusung  konsep dark carnival dengan paduan alam dan industri. Penonton pun tak hanya disuguhkan penampilan  band, tetapi juga dilibatkan dalam berbagai aksi interaktif. Selain atraksi berupa Metal Heroes Bobble head Custome dan Boneka Metalhead, kegiatan interaktif lainnya tercipta lewat Rock’O’Meter berupa ajang adu teriakan dan Trash Hammer sebagai ajang mengadu kekuatan pukulan.
Tak hanya itu, camping zone yang disediakan pihak panitia juga turut membius para penonton  untuk menghabiskan masa akhir pekannya di sini. Area yang disediakan secara terbatas tersebut dapat diikuti sepanjang malam sebelumnya dengan berbagai konten acara yang disematkan untuk menambah keakraban, salah satunya meet and greet bersama para musisi.
Pecah!
bbbMeskipun hujan sempat mengguyur arena, penonton tetap semangat berjingkrakan.  Di Rebel Stage, barisan band seperti seperti Godzick, In Place of Hope, Xtab, Sebuah Tawa dan Cerita, Melody Maker, dan Kaluman mengisi arena panggung dengan gegap gempita. Sempat terhenti karena break Ashar, Kaluman menyelesaikan tampilannya lewat deretan lagu “Pembantaian Norma-Norma Tuhan”, “Eksekusi Mati”, “Festival Kematian”, “Global Genocide”, “Membusuk Menjadi Sampah”, dan “Altar Prostitusi”.
Nectura yang muncul setelah itu pun tak kalah apik lewat kolaborasi bersama Vicky Burgerkill dan Yas Alone At Last. Raungan metal yang semakin panas diberikan band yang baru saja menelurkan album “Awake To Decide”-nya beberapa waktu lalu tersebut. Para Respectura pun terlihat tak lelah menyisihkan tenaganya untuk semakin larut dalam suasana. Berikutnya band Down For Life, Alone At Last, Kapital, Restless, Fraud, dan Godless Symptomps pun tampil berurutan untuk meneruskan estafet kegarangan maksimal di  bawah rongrongan hujan.
Sementara itu di Magnitude Stage, Depravity, Reveng The Fate, Rosemary, Parau, Demons Damn, dan Straight Out berturut-turut memanaskan panggung. Gelora semakin terasa saat Beside menjadi penampil berikutnya. Dengan gimmick kehadiran motor trail dalam pembukaan, mereka tampil beringas di tengah langit yang masih terang dengan menggelontorkan berbagai tembangnya, seperti  “Dosa Adalah Sahabat”, “New Colony”, “Tuhan dan Setan”, serta “Exterminator”. Sebuah wall of death pun dibentuk dengan diiringi “Membunuh Atau Terbunuh” yang baru pertama kali dibawakan dan jadi sajian khusus untuk Bandung Berisik.
Selanjutnya mengetahui Burgerkill yang akan muncul, ribuan Begundal  terlihat siap menyatu dengan atmosfer musik yang ditawarkan. Seolah tak ada energi yang habis, mereka terus bergerak dan berteriak mengikuti ritme. Lagu-lagu seperti “Heal The Pain”, “Hancur”, “Luka”, “Revolt”, “Penjara Batin”, “Rendah”, “Homeless Crew”, “Anjing Tanah”, dan “Sakit Jiwa” dibawakan Burgerkill hingga penghujung sore. Band peraih penghargaan Metal Hammer Golden Gods Inggris 2013 ini seakan memuaskan dahaga para Begundal yang telah menunggu.
Sembari menunggu break Maghrib, sebuah tirai  hitam besar menutup keseluruhan panggung bertuliskan logo Taring sepanjang 7 meter. Uniknya “benda besar” yang sering disebutkan di linimasa Twitter mereka ini dibuat langsung oleh tangan para personelnya. Gempuran hardcore dari album perdana “Nazar Palagan” pun serentak menghentak begitu tirai tersebut dijatuhkan. Tak pelak aksi stage diving pun berhamburan.
Tak perlu menunggu lama setelah Taring selesai beraksi, giliran barisan Serigala Militia merangsek arena demi berpesta bersama Seringai. Band high-octane-rock ini pun langsung menggempur panggung lewat aksi panggungnya yang maksimal. Bermacam track andalan seperti “Skeptikal”, “Akeselerasi Maksimum”, “Tragedi”, “Puritan”, “Serigala Militia”, “Amplifier”, dan “Mengadili Persepsi” menjadi menu menarik malam itu. Encore “Kilometer Terakhir” pun disajikan sesudahnya dengan “Dilarang Di Bandung” sebagai penutup klimaks penampilan mereka.
Hujan gerimis yang datang kembali mengiringi langkah kaki para personel Jasad menuju panggung. Aroma wangi pun tercium dari dupa yang sengaja dipasang di bagian tengah. “Aroma dupa ini bukan untuk manggil hantu, tapi supaya tercium wangi dan kita semua bersyukur masih bisa mengirup,” ujar Man sang vokalis. Setelah medley tiga lagu, “ Pasukan Karuhun”, “Getih Jeung Getih”, dan “Precious of Moment To Die”, Jasad kembali menyodorkan “Urine Campur Nanah”, “Cengkeram Garuda”, dan “Siliwangi”. Setelah sempat memperkenalkan kawannya dari Swedia yang membuat buku tentang skena metal di Asia Tenggara, Man pun segera ancang-ancang membawakan lagu terakhir, “Karmila” milik Farid Hardja.
Gerimis yang semakin banyak menurunkan intensitas jumlahnya tak menyurutkan penonton untuk beranjak. Mereka tetap berada di tempat untuk menyambut Ryker’s yang hadir berikutnya. Band yang eksis sejak tahun 1992 ini pun tampaknya tak ingin membuat penonton menunggu lebih lama. Terbukti penampilan gemilang diperlihatkan lewat kehadiran band lawas tersebut. “Sampurasun!”, ujar sang vokalis, Kid D, menyapa penonton yang langsung disambut jawaban “Rampeeees” secara berjamaah. Kid D mengungkapkan, selama beberapa bulan terakhir, bandnya telah berlatih setiap minggu selama 4 jam demi Bandung Berisik.
Semakin Berkembang
Helmy Apep selaku perwakilan dari pihak promotor mengaku puas menanggapi antusias positif tentang acara ini. “Alhamdulillah antusiasnya tambah besar. Hal yang diharapkan memang nggak hanya dari line up, tetapi juga pengalamannya. Ketika kami tingkatkan pengalaman untuk penonton, kesan festivalnya juga jadi lebih terasa besar dan antusiasmenya semakin bagus,” ucap Helmy.
Menurut Kimung dari Ujungberung Rebels, Bandung Berisik merupakan role model bagi  generasi muda sebagai sarana edukasi menghargai musik lokal. “Melihat animo di helatan sekarang dan line up di dua stage ini juga keren.  Banyak band baru yang hadir dan band lama juga ada untuk menyambungkan roots yang sudah ada dari dulu. Hal yang disayangkan sih event ini 18+, padahal semestinya Bandung Berisik ini jadi role model bagi berbagai kalangan, khususnya generasi muda untuk datang dan menghargai musik lokal. Namun begitu, saya ucapkan selamat untuk promotor dan seluruh pihak atas terselenggaranya Bandung Berisik. Kami dari Ujungberung Rebels sangat menghargai,” tutur Kimung.
Ia pun berharap  agar lebih bagus dan kompleks dalam pengemasannya,  perhelatan Bandung Berisik berikutnya memasukkan konten budaya dan lingkungan hidup serta menggiatkan afiliasi dengan komunitas lain di Indonesia. “Bandung Berisik itu pas tahun 1995 adalah hal yang digarap Extreme Noise Branding dan Homeless Crew Ujungberung Rebels sebagai media mendidik komunitas. Jadi ada tiga hal yang dibuat, yaitu homeless crew, zine, dan Bandung Berisik. Tidak pernah terbayangkan Bandung Berisik bisa bertahan sekian lama dan mengalamai banyak fase. Perkembangan dari satu stage ke stage lain juga semakin keren!” ujarnya menambahkan.
Reputasi Internasional
Sejak tahun 1995, reputasi Bandung Berisik tak hanya berjalan dalam lingkup nasional, tetapi juga internasional. Sebagai tonggak perkembangan, perhelatan tersebut telah menciptakan inspirasi tak terbatas bagi mereka yang berkecimpung dalam skena ini. Gaung Bandung Berisik kerap menyita perhatian media internasional yang kerap mengulas dan mengangkat perkembangan genre ini di indonesia. Seiring berjalan waktu, event ini terus dilaksanakan meski sempat vakum delapan tahun setelah gelaran pada tahun 2003, namun kembali hadir pada medio 2011 lewat konsep “Rebel Meet Rebel” di Lapangan Brigif Cimahi.
Helatan akbar milik metalheads itu pun terus digelar saban tahun dengan berbagai tema yakni “Maximum Agression” (2012) di Lanud Sulaiman Kab. Bandung dan “Versus The World” (2013) di Stadion Siliwangi Bandung. Dalam perhelatan Bandung Berisik 2014, nuansa baru dihadirkan lewat Ryker’s sebagai pengisi puncak acara. Keberadaan band hardcore legendaris asal Jerman tersebut sekaligus merupakan kali pertama bagi Bandung Berisik untuk mengundang performer internasional. ***
Teks: Hanifa Paramitha Siswanti
Photo: yusuffmuhammad

 

Continue Reading
Advertisement
Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *