International
“Do It For Love”, Seruan Coach Party Untuk Terus Bermusik Meski Biaya Tinggi
Unit indie-rock asal Inggris, Coach Party, kembali menggebrak lewat “Do It For Love”, nomor pembuka penuh tenaga dari album kedua mereka, ‘Caramel’, yang rencananya akan dirilis pada 26 September melalui Chess Club Records.
Lagu ini menggabungkan semangat riot grrrl, melodi indie pop yang lekat di telinga, dan dentuman rock berdaya stadion, menghasilkan energi yang tidak hanya membakar panggung, tetapi juga menyalurkan realitas pahit kehidupan sebuah band kelas pekerja.
Di balik aransemen yang tajam, terselip kisah tentang kerja keras tanpa henti, ekspektasi besar, hasil yang minim, namun tetap ada perayaan akan semangat yang membuat musisi terus melangkah.
Vokalis Jess Eastwood menggambarkan “Do It For Love” sebagai cerminan jujur dari perjalanan band seperti mereka, perjuangan yang menguras tenaga dan kantong, tapi tetap dijalani demi cinta terhadap musik.
“Ini tentang kenyataan menjadi band dari kelas pekerja… melakukannya karena cinta, bahkan ketika harganya (menjadi) sangat mahal,” ujarnya. Pernyataan itu selaras dengan nuansa lagu yang tidak sekadar mengandalkan hook, tapi juga memancarkan kejujuran emosional yang jarang ditemukan di rilisan-rilisan indie rock yang lebih manis.

Rilisan ini mengikuti dua single sebelumnya, “Do Yourself A Favour” dan “GIRLS!”, yang sudah memberi gambaran arah musik mereka kali ini: lebih berani, lebih mentah, dan lebih mengakar pada insting alami band. “Do It For Love” menjadi semacam manifesto yang membuka pintu album ‘Caramel’ dan menegaskan bahwa Coach Party bukan hanya tentang estetika indie yang nyaman di telinga, tapi juga tentang kegigihan di tengah keterbatasan.
Bersamaan dengan peluncuran lagu ini, Coach Party mengumumkan rangkaian gigs intim di toko-toko rekaman dan sesi tanda tangan di Inggris sebagai bagian dari perayaan rilis album. Format ini terasa tepat bagi band yang tetap ingin menjaga hubungan langsung dengan para pendengar, di tengah industri yang kerap mengukur keberhasilan lewat angka dan algoritma.
Dengan “Do It For Love”, Coach Party tampak semakin memposisikan diri di antara gelombang band indie yang tak hanya berorientasi pada hits, tapi juga pada cerita di baliknya.
Mereka mengundang pendengar untuk tidak hanya menikmati musiknya, tetapi juga merasakan semangat perjuangan yang membentuknya. Album ‘Caramel’ menjanjikan lebih banyak momen seperti ini: mentah, penuh semangat, dan tak takut menunjukkan sisi rapuh yang justru membuatnya semakin kuat.

