Interview: Indonesian Netlabel Union “Menggali Pembebasan Pengetahuan”

0
2149

Wacana tentang netlabel sudah ramai dibincangkan sejak tahun 2007-2008, berdirinya Yes No Wave Music menjadi salah satu pemicu gerakan berbagi musik secara bebas. Diikuti oleh berdirinya netlabel-netlabel lain di Indonesia seperti Oneloop Records (hiatus), Inmyroom Records, Hujan Rekords, Mindblasting hingga StoneAge Records memberikan pengetahuan baru kepada publik tentang adanya pilihan lain untuk merilis karyanya, yaitu melalui netlabel.

Perkembangan netlabel ini semakin kuat dengan adanya gathering secara offline berupa festival yang diberi nama Indonesian Netaudio Festival (INF) di Yogyakarta tahun 2012 dan di Bandung tahun 2014, tepatnya bulan 14-16 November. Publik semakin diberikan kesempatan untuk mengenal lebih jauh, lebih dalam tentang netlabel dan departemen-departemen yang membentuknya, mulai dari internet culture, free culture hingga Creative Commons (CC) License.

Reaksi publik tentu saja berbeda-beda, berbenturan dengan prinsip, sejalan dengan prinsip, hingga masih kebingungan. Wacana ini semakin terasa setelah INF 2 diselenggarakan dan Indonesian Netlabel Union (INU) sebagai serikat pegiat netlabel pun menjadi salah satu obyek bahasannya.

Di tengah kesibukan INU menyelesaikan laporan INF 2, Gigsplay mewawancarai Anitha Silvia yang sering dipanggil Tinta selaku pegiat INU untuk berbincang-bincang seputar INU, INF hingga permukaan tentang netlabel. Untuk menjelaskan lebih jauh tentang netlabel, simak wawancaranya di bawah ini.

Tinta, halo apa kabar nih

Halu Angkuy, kami Indonesian Netlabel Union bersama Sorge Sindikasi baru saja menyelenggarakan Indonesian Netaudio Festival ke-2 di Bandung, jadi masih ada PR untuk materi post-event

Mungkin bagi beberapa orang ada yg belum tahu tentang Indonesia Netlabel Union dan Indonesian Netaudio Festival. Boleh diceritakan?

Indonesian Netlabel Union adalah gerakan kolektif dari netlabel Indonesia untuk mensosialisasikan musik legal bebas dari Indonesia kepada publik yang lebih luas secara online dan offline. INU dibentuk pada Januari 2011, kemudian menginisiasi Indonesian Netaudio Festival pada November 2012 di Yogyakarta.

Indonesian Netaudio Festival adalah kegiatan offline para pelaku, penikmat, dan pemerhati netaudio–aktivitas audio di Internet. INF bertujuan untuk mensosialisasikan pentingnya pembebasan pengetahuan di Internet dan kehidupan sehari-hari masyarakat. INF berangkat dari musik (audio) tapi berminat untuk menggali pembebasan pengetahuan lainnya.

Jadi, INF itu merupakan regular event dari INU ya? 2 tahun sekali kah?

Berniat untuk reguler, tapi memang susah juga heheh, kami merancangnya 2 tahun sekali.

Makna musik legal & bebas dari salah satu kegiatan di netlabel ini.

Bebas berarti memberikan akses kepada publik untuk turut mendistribusikan dan menggunakan karya tersebut secara wajar serta memproduksi karya di atas karya yang telah ada, idenya adalah memperluas distribusi dan konsumsi karya serta produksi karya. Legal karena menggunakan lisensi Creative Commons yang memberikan pilihan yang lebih luas ketimbang Copyright.

Selain musisi, pihak-pihak yang terlibat di INU itu siapa aja?

INU awalnya dibentuk oleh 5 netlabel Indonesia, Yes No Wave Music, Inmyroom Records, Mindblasting, Hujan! Rekords, StoneAge Records. Kemudian saya yang adalah penikmat rilisan netlabel ikut mengelola INU. Musisi yang mempunyai visi yang sama seperti Bottlesmoker dan Frau turut ambil bagian, kawan-kawan penulis seperti Manan Rasudi, Nuran Wibisono, Arman Dhani, Raka Ibrahim, Andaru Pramudito selalu membantu dan menanyakan perkembangan INU. Dan pastinya KUNCI Cultural Studies Center yang berkontribusi dalam riset tentang netlabel dan hal-hal yang terkait. Jadi sebenarnya INU cukup terbuka untuk berkolaborasi.

IMG_0408
INF Talk; Diskusi. Foto oleh Sorge Sindikasi

Berarti INU ini memang dibentuk oleh banyak pihak ya sehingga terbentuk kolektivitas yang kuat. Apakah para pegiat-pegiat di media online seperti radio online turut mensosialisasikan netlabel?

Radio online berperan untuk mendistribusikan rilisan netlabel, mereka juga berkontribusi di INF untuk membuat lokakarya radio online. Iya benar, jadi memang tidak sebatas netlabel karena isu yang kami angkat tidak hanya musik tapi pembebasan pengetahuan secara lebih luas dan mendasar seperti isu copyright, produksi dan distribusi pengetahuan

Munculnya netlabel ini juga sebagai gerakan ya, gerakan tentang isu-isu yang dibahas tersebut

Yah sudah pasti netlabel adalah suatu gerakan alternatif dari kemujudan skena musik terutama terkait masalah distribusi dan berkembangnya penggunaan Internet di Indonesia. Tiap netlabel juga mempunyai alasan tersendiri kenapa mereka membuat netlabel. Seperti Wok The Rock membuat Yes No Wave Music untuk memotong jalur ruwet distribusi musik di Indonesia. Arie membuat Mindblasting untuk mengarsipkan musik yang memang lebih banyak diproduksi semenjak era Internet. Ganesha & Ridwan membuat Inmyroom Records untuk mendistribusikan karya musik para bedroom musician yang memang produktif.

Sejauh ini, ada berapa netlabel yang aktif di Indonesia Tint?

Ada banyak juga sih tapi memang cukup lambat rilisannya. Ear Alert Records, Hujan! Rekords, Inmyrooms Records, Kanal 30 Netlabel, Kosmik Lemari Kota Records, Mindblasting Netlabel, Sailboat Records, StoneAge Records, SUB/SIDE, SUSU ULTRAROCK RECORDS, Tsefuela/Tsefuelha Records, Valetna Records, Yes No Wave Music. Namun tidak semua melabelkan diri sebagai netlabel. Seperti Sailboat Records, mereka label digital tapi juga melakukan praktik seperti netlabel. Saat INF2 lalu, kami mengajak Sorge Records dan Kolibri Rekords karena mereka menggunakan lisensi Creative Commons. PR nya netlabel sekarang adalah masalah rilisan, promosi, dan keuangan. Minimnya rilisan netlabel tahun 2014, promosi hanya sebatas sosmed, dan telat bayar domain/hosting karena tidak ada budget.

Mengenai rilisan, pernah kah ada band atau musisi yang berpendapat keberatan dengan konsep netlabel? Atau sebenarnya apa yang menyebabkan masih kurang?

Setau saya belum ada yang keberatan dengan konsep netlabel tapi sayangnya pemahaman atas netlabel nya yang masih kurang, mengenai lisensi CC, mengenai budaya bebas. Para pelaku netlabel Indonesia kebanyakan adalah kelas pekerja, hambatannya adalah masalah waktu yang diberikan untuk mengelola netlabel, mencari artis selanjutnya, mengerjakan promosi, membuat merchandise, mengelola website. Salah satu contoh yang baik adalah Yes No Wave Music, selain merilis album/single, mereka membuat divisi merchandise (Yes No Shop), media (Xeroxed) tapi sedang hiatus, dan gig organizer (Yes No Klub). Tapi itu memang tidak mudah juga sih mempertahankannya. Adaptasi untuk bertahan bisa dilakukan seperti StoneAge Records yang membuat Rizkan Records yang memproduksi rilisan fisik

Netlabel itu memang tidak merilis fisik?

Netlabel adalah label yang berbasis di Internet, merilis album/single dalam format mp3. Sejumlah netlabel Indonesia memproduksi rilisan fisik sebagai salah satu bentuk merchandise dan distribusi kepada mereka yang tidak terhubung dengan Internet.

IMG_0486
INF Gig; Pertunjukan Musik. Foto oleh Sorge Sindikasi

Apakah pada dasarnya netlabel itu bertujuan non-profit? sehingga mengutamakan nilai berbagi

Berbagi bukan berarti non-profit. Seperti Wok The Rock nyatakan, transaksi yang ada tidak melulu uang,
netlabel membutuhkan uang untuk operasional seperti komputer, hard disk, koneksi Internet, bayar hosting. Yang menarik adalah mencari uang tidak hanya dengan “menjual” musik (ada tombol donasi atau pay as you wish di netlabel) tapi dengan pilihan lainnya seperti merchandise, tiket gig. Memang masih ada netlabel di Indonesia yang masih kukuh tidak mau “menjual” rilisannya dalam bentuk merchandise atau lainnya.

Departemen merchandise menjadi poin penting ya untuk keberlangsungan netlabel, juga tentu saja dukungan dari penggemar netlabel & artist di daftar rilisannya.

Iya setuju!

Mengamati perkembangannya, baik itu dr netlabel & artist yang gabung, pasti semakin bertambah kan sejak awal terbentuk INU? Bagaimana cara mengukur perkembangannya hingga saat ini.

Tentu saja berkembang sejak 2011, sejak INU berdiri meskipun perkembangannya tidak signifikan dibandingkan tahun-tahun sebelumnya. Kami lebih mengukur perkembangan netlabel dari pemahaman atas isu Internet culture, copyright, penggunaan teknologi dan Internet, adaptasi untuk bertahan (seperti merchandise dan pertunjukkan musik)

Dalam agenda INU, selain INF, ada lagi kah kegiatan lain dalam sosialisasi isu yg kalian angkat?

Seharusnya iya, tapi belum maksimal. Mulai dari penyebaran wacana Internet culture melalui website dan sosmed
tapi belum jalan untuk diskusi/pertemuan reguler, ternyata susah juga yah mewujudkannya, butuh inisiatif dari pihak di luar INU nih sepertinya. Salah satu yang penting di INU adalah kontribusi dari pihak di luar netlabel, karena anak netlabelnya belum punya cukup waktu untuk berkontribusi di INU sendiri

Pihak-pihak di luar INU seperti?

Seperti radio online, roster netlabel, lembaga riset seperti KUNCI, pengamat netlabel seperti Prys Pry yang baru saja menulis tentang netlabel, dan penikmat rilisan netlabel seperti saya

Jika menunjuk pemerintah, ada kah pihak yang diharapkan untuk kolaborasi di gerakan netlabel ini?

Pemerintah memegang peranan penting, seperti Internet Sehat yang memutuskan koneksi yang mereka duga sebagai situs porno dan unduh ilegal, UU Hak Cipta yang baru yang akan mengganti Undang-Undang No. 19 Tahun 2002 tentang Hak Cipta (“UU 19/2002”) akan diresmikan tanpa melihat secara mendalam fenomena di masyarakat dan Internet culture. Seharusnya pemerintah juga membuat program edukasi mengenai copyright di pendidikan dasar.

Sudah pernah melakukan dialog dengan pihak tersebut?

Belummmm, akses publik ke pemerintah itu memang masih susah, dan kita belum terbiasa dengan class action

Apakah INF yang INU kerjakan ini merupakan festival pertama kali ada di Indonesia?

Setahu kami iya, INF adalah festival pertama yang membahas isu free-culture. Mungkin sudah ada festival media online/komunitas online, tapi tidak membahas isu tersebut.

Apa saja keuntungan dari bergabungnya bersama netlabel bagi band/musisi

Saat ini band/musisi bisa dengan mudah merilis musiknya via Internet. Tapi kelebihan merilis album/single via netlabel adalah jaringan (rilisan netlabel terdaftar di Internet Archive yang adalah perpustakaan digital terbesar di dunia, memudahkan pencarian), mulai dari Free Music Archive, Phlow Magazine, Netlabelism Magazine, dan jaringan netaudio lainnya. Salah satu fungsi netlabel adalah kurasi. Kurasi menjadi penting di era Internet, di mana hadirnya lautan informasi.

IMG_0911
INF Lokakarya; Workshop. Foto oleh Sorge Sindikasi

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here