Java Soundsfair: Antusiasme Ragam Genre

0
2266

Java Soundsfair adalah festival terbaru dari Java Festival Production. Pihak promotor mengklaim bahwa festival ini merupakan festival pertama di Indonesia yang menghadirkan eksebisi seni dan musik dengan konsep all Indoor festival. Bertempat di The Jakarta Convention Center yang berlokasi di Gelora Bung Karno Sports Complex, Jakarta, Indonesia. Helatan tersebut berlangsung selama tiga hari, pada tanggal 24,25,26 Oktober 2014.

Terdapat 90 musisi lokal dan internasional dan 9 panggung sebagai amunisi Java Soundsfair untuk menghibur pengunjung yang hadir. Jumat,(24/10) Hari pertama Java Soundsfair dibuka dengan penampilan dari RAN pada stage “Main Hall”. Lagu andalan seperti “Pandangan Pertama”,”Sepeda” ,“Dekat di Hati” dan “Hari baru” dibawakan dengan konsep menarik yang diiringin oleh 4 penari latar. Disaat yang bersamaan pengunjung juga dapat menyaksikan penampilan dari skena indie kenamaan Indonesia seperti Rock N Roll Mafia di stage “A Create Zone” dan Puti Chitara di stage “Demajors”. Selanjutnya sekitar pukul 19.00, LCDTRIP tampil di Stage kasuari dengan sound khas 90-an yang kental akan nuansa Radiohead, Garbage, The Smashing Pumpkins, dan The Cardigans.

Sekitar pukul 20.15, pengunjung sudah memadati area “Main Hall” untuk bersiap menyaksikan penyanyi cantik asal Inggris, Sophie Ellis Bextor. Tepat pukul 20.30, akhirnya sesosok wanita cantik bergaun merah naik keatas panggung. Histeria penonton pun tercipta dengan seketika. Tetapi momen tersebut tidak berbanding lurus dengan jumlah penonton yang ikut bernyanyi bersama. Sebagian besar penonton hanya bergumam. Hal tersebut dirasakan oleh Sophie. “There are so many of you guys, but you reticent”, ucap Sophie disela pergantian lagu. Pernyataannya tersebut pun disambut dengan tawa oleh para penonton. Sophie banyak memainkan deretan lagu dari album terbarunya “Wanderlust’. Nomor andalan seperti “Young Blood”,”Runaway Daydreamer”, “The Deer and The Wolf” dan “Love is Camera” dibawakan dengan penuh antusias. Selanjutnya, disela pergantian lagu, Sophie meninggalkan panggung dan meninggalkan tanya kepada penonton yang masih haus akan penampilanya. Tak lama kemudian,cSophie kembali keatas panggung dan berhasil memberikan kesegaran kepada penonton, khususnya penonton pria. Sophie kembali bernyanyi dengan mengenakan gaun berwarna hijau nan seksi dengan aksentuasi tembus pandang. Mendekati sesi terakhir barulah ibu dari dua anak ini membawakan sejumlah single populernya yang lebih banyak dinanti oleh penonton. “Take Me Home” dan “Heartbreak (Make Me a Dancer)” berhasil membuat penonton bernyanyi bersama. Sebelum berpamitan, Sophie membuat penonton pria patah hati dengan memperkenalkan pemain basnya, Palazzo Terranova, yang ternyata adalah suaminya.”Murder on the Dance Floor” dipilih sebagai lagu penutup dan sekaligus sebagai obat patah hati kepada penonton pria yang hadir.

Sekitar pukul 22.00, banyak penonton berkostum ska lengkap dengan fedora dan kaca mata hitam berjoget bersama salah satu dedengkot ska, Tokyo Ska Paradise Orchestra. Atsushi Yanaka (Baritone Saxophone) langsung menyapa penonton dengan bahasa Indonesia. “Halo apa kabal jakarta??”, ucapnya dengan semangat. Seruan tersebut mendapat respon gelak tawa.

Penonton. Tanpa basa-basi mereka langsung menghajar penonton dengan hentakan ska tanpa henti. Aksi koregrafi yang ciamik, semakin merangsang penonton untuk tetap berjoget. Pada lagu “Dont Beat Stomp”, Takashi Kato (Gitar) melakukan aksi lompat yang disusul dengan aksi solo gitar. “Call from Rio”,”Skull Collector” dan “Natty Parade” berhasil menambah energi ekstra kepada penonton. Hal ini terbukti dari banyaknya penonton yang melakukan joget pogo. Bahkan tak jarang penonton yang memilih untuk melemparkan diri melakukan crowd surfing. Selanjutnya, GAMO (Tenor Saxophone) membuat penonton bernafas sejenak dengan mengawali lagu “James Bond”.

Menjelang akhir penampilan, Masahiko Kitahara (trombone) memberi kejutan dengan memanggil rapper asal Indonesia, Fade 2 Black untuk berkolaborasi. Ditengah penampilan, Kinichi Motegi (Drum) melakukan duel dengan Fade 2 Black antara drum dengan beatbox. Pesta dansa pogo diakhiri dengan iringan klimaks lagu “Pride of Lions” dan “Ska Me Crazy”.

Selanjutnya giliran MAGIC! yang bertugas untuk memanaskan suasana. Band asal Kanada ini adalah yang paling ditunggu-tunggu oleh khalayak mainstream. Pasalnya singel “Rude” berhasil menempati posisi puncak Billboard dan menempati posisi tangga lagu teratas di beberapa negara. Sekitar pukul 22.45, Alex Tanas (drum), Ben Spivak (bas) , Mark Pellizzer (gitar) dan Nasri (vokal) menyapa jakarta dengan lagu “Stupid”. Dilanjutkan dengan lagu “Mama didn’t Rise” dan “No Evil” yang kental dengan ritmik reggae. Pada lagu “Master Blaster”, Nasri berusaha menggoda penonton wanita dengan menggoyangkan pinggul di depan stand mic. Seketika histeria wanita tercipta. Melihat antusiasme tersebut. Nasri mengajak penoton menggoyangkan pinggul bersama. Banyak diantaran penonton yang terlihat malu-malu. Selanjutnya, MAGIC! memainkan lagu “Let Your Hair Down” yang merupakan singel kedua dari album perdananya, “Don’t Kill The Magic”. Suasana semakin terasa intim dan santai “No Way No” dan “Paradise”.Kelar lagu “Girlz Wanna Have Fun”, Nasri menggoda penonton dengan kalimat yang provokatif diiringi oleh Ben Spivak dengan dentuman basnya yang merupakan intro dari lagu “Don’t Kill The Magic”. Tanpa terasa waktu menunjukan pukul 23.40. MAGIC! menutup keriaan dengan lagu “Rude”.

Why you gotta be so rude? // Don’t you know I’m human too? //
Why you gotta be so rude? // I’m gonna marry her anyway //

Penggalan lirik tersebut berhasil menciptakan koor penonton. Pada saat berpamitan, Nasri mengucapkan jokes yang beredar di social media. “Bye Indonesia, You can call me Wahyu !!”, ucap Nasri, yang disambut tawa lepas penonton.
Selanjutnya pada area Garuda Indonesia, penonton disuguhkan penampilan elektronik berbalut rock dari Asian Dub Foundation. Banyak terdengar bebunyian eksperimental ditengah mantra yang dikeluarkan oleh sang rapper, “Master D”. Deretan lagu andalan seperti “New Way, New Life”, “Fortress Europe”, “1000 Mirrors” dan “A History Now” dimainkan dengan lugas

Sabtu, (25/10) Pandai Besi membuka hari kedua Java Soundsfair, Pandai Besi tampil di stage Demajors. Terlihat banyak penonton yang santai duduk di lantai beralaskan karpet sambil memangku bantal warna-warni yang di sediakan pihak promotor. Atmosfer tersebut membuat penonton khidmat mendengarkan lagu “Jangan Bakar Bukur”, “Insomnia”, “Hujan Jangan Marah,” dan “Desember”. Pandai Besi menutup penampilanya dengan lagu “Laki-laki Pemalu” sebagai pesan untuk penonton pria agar menikmati konser ini tanpa malu-malu.

Beralih ke area lain tepatnya di panggung Garuda Indonesia ada Maliq N D’Essentials yang menjadi magnet penonton. Sekitar ratusan muda-mudi menantikan penampilan mereka. Tak henti-hentinya histeria wanita saat Lale (Gitar) dan Ilman (Keyboard) mengeluarkan pesonanya diatas panggung. Mulai dari lagu “Dunia Sekitar”, “Heaven”, “Coba Katakan”, “Dia, “Terdiam”, “Drama Romantika”, “anada” dan “Himalaya”.

Selanjutnya giliran para Brigade (sebutan fans BRNDLS) memadati area “A create Zone”. Penampilan BRNDLS malam itu merupakan yang terakhir dalam sejarah karier musik mereka. Band rock & roll asal Jakarta itu menyuguhkan performa berbeda, Seluruh personel tampil dengan riasan wajah tengkorak. “Start Bleeding” dipilih sebagai lagu pembuka. Suasana semakin liar ketika “Janji 1000 hari”, “Dryland” dan “Lingkar Labirin” dikumandangkan. Disela pergantian lagu Eka (vokal) berinteraksi kepada penonton. “12 tahun lalu kita main di sebuah bar di Menteng, penonton cman ada 15 orang. Sekarang sudah segini. Trus album pertama kita dulu cuma laku 200 keping, tapi yang beli itu semuanya bikin band. Jadi kalau kita berhenti, lo yang bakal nerusin,” ucap Eka.Ugal-ugalan diantara penonton sangat terasa pada saat lagu “100Km/jm” dan “DGNR8”, menyerang penonton bertubi-tubi.

Pada lagu “Abrasi”, BRNDLS memberi kejutan dengan berkolaborasi bersama rapper kenamaan, Iwa K. Tembang lawas berbahaya berjudul “Perak” menjadi lagu penutup dari karir bermusik yang sudah dibangun selama 12 tahun. Pada akhir penampilan, Eka membanting efek vokalnya dan dilanjutkan dengan berpelukan bersama personel lainya. “Sampai jumpa lagi, entah kapan,” tutup Eka.

Beralih ke panggung utama. Terdapat Cody Simpsons, yang merupakan salah satu line up magnet bagi para gadis. Penyanyi asal Australia ini, membuka penampilanya dengan lagu “Summer Shade”. Sekejap histeria para gadis terasa. Cody Simpson berhasil membuat panitia kewalahan. Pasalnya, banyak gadis yang pingsan. Sehingga media pit digunakan untuk mengevakuasi penonton. Selanjutnya, Cody kembali memukau para gadis dengan solo gitarnya pada lagu “Love” dan “Got Me Good”. Para gadis semakin kehabisa oksigen ketika Cody Simpson melakukan goyangan flirty, sambil menyanyikan lagu soundtrack “cloudy with a chance”, “La Da Dee”. Ulah flirty Cody berlanjut dengan membuka baju dan menyanyikan lagu milik Justin Timberlake, “Senorita”. Cody menutup histeria gadis dengan lagu “Sinkin in” dan “Surfboard”.

Kecerian selanjutnya dipimpin oleh band asal Los Angeles, Poolside. “Do You Believe that were killing kids?” menjadi lagu penghantar penonton berdansa kecil. Nuansa trippy dan chillwave semakin terasa pada lagu hasil remix milik The Rapture, “In The Grace Of Your Love”. Sebelum mengakhiri penampilan, Filip Nikolic memohon maaf kepada penonton atas gangguan teknis yang terjadi di awal penampilanya. “Next to You” dan “Take Me Home” mengakhiri penampilan Poolside.

Nuansa romantis malam minggu semakin terfasilitasi dengan hadirnya Tulus di panggung utama Java Soundsfair. “Baru” dipilih sebagai lagu pembuka penampilan Tulus malam itu. Selanjutnya, Tulus mengucapkan rasa syukurnya bisa mendapat kesempatan tampil di Java Soundsfair, yang disambut dengan lagu “Bumerang”. Sebelum beralih ke lagu selanjutnya, Tulus ,mencoba berinteraksi dengan penonton mengenai masa kecilnya yang selalu menjadi bahan olokan. Tulus berpesan bahwa segala olokan bisa menjadi kekuatan bagi diri kita. Hal tersebut tertuang pada lagunya yang berjudul “Gajah”. “Siapa yang kesini bawa pacar. Jaga baik-baik, supaya bisa jadi Teman Hidup”; ucap Tulus, yang disambut gemuruh penonton. Kelar menyanyikan lagu “Teman Hidup”, kini giliran mereka yang berstatus jomblo. Tulus menghadiahi mereka lagu “1000 tahun Lamanya” milik Jikustik. Tulus mengakhiri nuansa Romantis dengan deretan lagu andalan seperti “Jangan Cintai Aku Apa Adanya”,”Sepatu” dan “Sewindu”.

Menjelang penghujung acara. Banyak penonton yang berbondong-bondong menghampiri area Demajors untuk menyaksikan White shoes and the Couples Company. Diawali dengan intro yang mengundang goyangan. Lalu dilanjutkan dengan “Senja Menggila” dan “Masa Remaja” yang berhasil membuat penonton gemuruh. Sesekali Nona Sari menyapa penonton lelaki yang berada di barisan depan. Area Demajors semakin terasa sesak ketika “Selangkah ke Seberang” dan “Senandung Maaf” dikumandangkan. Kelar lagu tersebut, Ale memberikan ruang penonton untuk bernafas dengan memainkan lagu “Kisah dari Selatan Jakarta”. Interaksi menarik antara penonton diberikan dengan baik pada lagu, “Aksi Kucing”. Hal ini ditandai dengan kompaknya penonton berteriak “Meong,Meong”. Selanjutnya mereka membawakan lagu daerah “Tsangku Rileung”, “Lembe-Lembe” dan “Tam-Tam Buku” dengan kejutan hadirnya personel Goodnight Electric diatas panggung. Tingginya antusiasme dari penonton. Membuat White Shoes mengabulkan encore dan juga selfie bersama diatas panggung.

Minggu, (26/10) pada hari terakhir di Java Soundsfair pengunjung yang hadir terlihat lebih sedikit dari hari sebelumnya. Mocca didaulat sebagai salah satu line up magnet pada hari itu. Mengawali penampilan dengan lagu “I love You Anyway” dan “I would Never” yang berhasil membuat sebagian penonton bernostalgia. Selanjutnya, Arina (vokal) menginstruksikan penonton untuk bertepuk tangan mengikuti irama yang diberikan oleh Indra Massad (drum) pada lagu “Only One”. Penonton dibuat muram dengan lagu “Let Me Go”. Kelar lagu tersebut, Mocca membawa penonton mengenang film Catatan Akhir Sekolah dengan lagu “On the Night Like This”. Disusul dengan lagu “Secret Admirer” dan lagu baru berjudul “Bandung”. Suasana semakin klimaks saat lagu “Hyperballad” milik Björk dibawakan. Mocca pun mencapai menit terakhir. “I Remember”, dan “Swing It Bob!” mengakhiri menggemaskannya penampilan Mocca di Soundsfair.

Selanjutnya giliran penyanyi asal Malaysia yang menghibur penonton, Yuna. Ia tampil dengan menggunakan gaun dan hijab gemerlap berwarna ungu. Dengan logat melayu ia menyapa penonton,”Hai jakarte apa kaber!, ucap Yuna. “Coffee” dari album “Terukir di Bintang” didaulat sebagai lagu pembuka. Dilanjutkan dengan lagu “Falling”,”Semasa”,”Mountains”, “Decorate” dan Lullabies”. Seluruh penonton berhasil dibuat bernyanyi bersama pada lagu yang di produseri Pharrell Williams.

All my life my dreams just seemed so far away // And now it’s like theyre here to stay //
I hold it close to me // We were meant for something bigger than this//
Don’t ever try to dismiss yourself cause you don’t have//

Yuna mengakhiri penampilanya dengan lagu “Lelaki” dan “Dan Sebenarnya”. Teriakan memohon encore begitu terasa saat Yuna meninggalkan panggung. Dengan baik hati, Yuna mengabulkan permintaan penonton dengan lagu “rescue”.

Selanjutnya penonton disuguhi penampilan Grup legendaris Amerika Serikat, The Jacksons. Konser dibuka dengan cuplikan video dan foto-foto sejak jaman The Jackson 5 bersama Michael Jackson. Beberapa testimoni penonton juga dihadirkan dalam video tersebut.

Sesaat tirai putih panggung dibuka Jackie, Tito, Jermaine, dan Marlon Jackson langsung menggoyang penonton dengan lagu “Can you Feel It” dan “Blame it on The Boogie”

Koor penonton semakin terasa saat lagu “Rock With You dibawakan”.
Kekompakan koreografi pada lagu “Show You The Way” dan”You Are My Number One” semakin menghipnotis penonton bergoyang.

The Jacksons sadar, penonton menantikan hits legenda mereka. Dengan sedikit interaksi, mereka langsung memainkan medley lagu “I Want You Back”, “ABC”, “The Love You Save”, “Dancing Machine”,” Never Can Say Goodbye”, dan “I`ll Be There”.

The Jacksons menutup goyanganya dengan lagu “Shake Your Body”. Selanjutnya disusul dengan aksi Jackie, Tito, Jermaine, dan Marlon Jackson yang secara kompak menyalami penonton di baris depan pada akhir penampilannya.
Java Festival Production berhasil menyuguhkan pengalaman festival yang menarik. Hanya saja nuansa seni eksebisi tidak terasa diseluruh area. Tata suara yang diberikan cukup berkelas dan minimnya kesalahan teknis, membuat Java Soundsfair layak menjadi festival yang dinanti. Semoga Java Soundsfair tahun depan lebih baik lagi.

Text oleh Akbarry Noor
Photo oleh Ryan

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here