Konser The 1975 di Jakarta: Penuh Kemeriahan, Penuh Kepedulian

0
16

Kepedulian terhadap lingkungan, komunitas LGBT, terhadap penonton di barisan belakangan ditunjukkan oleh The 1975. Band pop rock asal Manchester, Inggris ini datang untuk kedua kalinya ke Jakarta pada Minggu (29/9).

The 1975 sebelumnya sudah pernah berkunjung ke Jakarta pada 2016 lalu. Pada kesempatan kali ini, The 1975  tampil di Helipad Parking Ground, Senayan, Jakarta. Pada penampilan keduanya, The 1975 dapat dibilang menyuguhkan visual serta sound yang meriah.

Bertindak sebagai pembuka, Barasuara membuat penonton semangat dengan lagunya yang rata-rata menghentak-hentak. Selesai dibuka oleh Barasuara, penonton menunggu sekitar 45 menit sampai The 1975 naik panggung.

Pukul 20.45 WIB, The 1975 mulai memainkan intro. Matt Healy (vokalis) muncul kemudian dengan kaus bertuliskan ‘Question Authority’ dan rok motif bunga.

The 1975 langsung tancap gas dengan memainkan ‘People’, single terbaru mereka yang akan dimasukkan ke dalam album ‘Notes on a Conditional Form’. Album itu sendiri baru dirilis Februari mendatang.

Lagu-lagu selanjutnya kebanyakan berasal dari album terbarunya yang berjudul ‘A Brief Inquiry into Online Relationship’. Contohnya seperti ‘Give Yourself a Try’, ‘TooTimeTooTimeTooTime’, ‘Sincerity is Scary’, dan ‘It’s Not Living (If It’s Not With You)’, dan album ini sebenarnya ditujukan untuk mempromosikan album  ‘A Brief Inquiry into Online Relationship’. Sehubungan dengan hal tersebut, Matt berkata bahwa bisa saja album berikutnya (‘Notes on a Conditional Form’) diadakan tur promosi dan mereka akan kembali ke Jakarta.

Penampilan The 1975 dapat dikatakan meriah secara visual. Banyak warna yang ditampilkan pun tulisan-tulisan baik lirik maupun yang sifatnya visual saja. Di atas panggung juga terdapat neon berbentuk persegi yang menjadi logo dari The 1975. Neon tersebut berganti2 warna sesuai lagu.

Secara penampilan, The 1975 tampil dengan total. Mulai dari lagu ‘TooTimeTooTimeTooTime’, Matt ditemani dua orang penari. Matt juga ikut menari dengan mereka.

Dari alat musik sendiri, band yang beranggotakan Matt Healy (vokal), Adam Hann (gitar), Ross Macdonald (bass), dan George Daniel (drum), juga menambah saksofon pada lagu mereka. Saksofon tersebut tepatnya berada pada lagu ‘She’s American’.

Matt dengan penampilan nyentriknya juga tampil dengan menghayati lagu. Contohnya pada lagu ‘Sincerity is Scary’, Matt tampil dengan ransel dan kupluk, persis sama seperti videoklip dari lagu tersebut. Pada pertengahan lagu, Matt melempar kupluk tersebut ke arah penonton.

Kepedulian kepada banyak pihak juga ditunjukkan dalam konser tersebut. Setelah lagu ‘It’s Not Living (If It’s Not With You)’ dimainkan, Matt menyuruh penonton yang berada di area Festival B untuk maju ke area Festival A.

Festival B sendiri awalnya dibatasi pagar dengan Festival A, namun Matt menyuruh pihak keamanan untuk membukanya. “Saya tau kalian ga bayar tiket (untuk Festival A), tapi bodo amat lah” ujar Matt. Ia nampak kasihan dengan penonton yang berada di belakang. 

Kepedulian Matt juga terlihat setelah lagu ‘Chocolate’ dimainkan. Ia bertanya kepada penonton “Kalian yang memakai kain di kepala (headscarf), itu warnanya harus sama atau tidak? Maaf saya ga tau tentang budaya tapi saya penasaran aja”.

Nampak Matt penasaran dengan jilbab yang dipakai oleh mayoritas penonton. Setelah penonton menjawab tidak, Matt langsung berkata “Oh jadi ini yang penting nyaman aja ya? saya kira harus sewarna soalnya banyak yang seragam. Oke kalian keren”. Nampak Matt memperhatikan penontonnya sampai ke penampilannya.

Visual yang digunakan The 1975 juga digunakan untuk penyampaian pesan, salah satunya kepedulian terhadap komunitas LGBT. Dalam lagu ‘Somebody Else’, visual yang ditampilkan adalah bendera pelangi, bendera yang biasa digunakan komunitas LGBT. Meski lagu tersebut tak ada hubungannya dengan LGBT, namun visual tersebut tetap dipakai. Visual tersebut beberapa kali dipakai The 1975 justru pada lagu ‘Loving Someone’ yang kali ini tidak dibawakan.

Selain seputar manusia, The 1975 juga menunjukkan kepedulian terhadap alam, tepatnya terhadap perubahan iklim. Setelah lagu ‘I Always Wanna Die’ dinyanyikan, Matt menyuruh penonton untuk diam. Matt sendiri duduk menghadap ke layar. Visual panggung kemudian berubah menjadi video footage tentang perubahan iklim dengan narasi dari Greta Thunberg, aktivis lingkungan berusia 16 tahun asal Swedia.

Narasi tersebut berasal dari pidato Greta di Parliament Square, London, Inggris pada 31 Oktober 2018. Narasi tersebut menceritakan awal dari gerakan “Mogok Sekolah Untuk Iklim” yang dilaksanakan Greta pada Agustus 2018. Pada akhirnya mengajak orang-orang untuk ikut beraksi untuk menyuarakan masalah perubahan iklim dan memberontak kepada peraturan yang ada karena peraturan yang ada sudah tidak dapat menanggulangi perubahan iklim.

Pada kalimat “So we can’t save the world by playing by the rules. Because the rules have to be changed.”, penonton bersorak mengingat akhir-akhir ini sedang dilakukan banyak aksi terkait rancangan undang-undang yang dinilai kontroversial. Setelahnya, The 1975 membawakan ‘Love It If We Made It’ dengan visual terkait gerakan lingkungan.

Secara keseluruhan, penampilan The 1975 pada malam itu sangat memuaskan. Visual yang tematis, sound yang jernih, serta komunikasi dari Matt membuat penonton senang.

Dari segi lagu yang dibawakan, The 1975 membawakan total 19 lagu. Tidak hanya lagu dari album ‘A Brief Inquiry Into Online Relationship’ atau ‘Notes on a Conditional Form’ saja, The 1975 juga membawakan hits lama mereka seperti ‘Sex’, ‘Chocolate’, bahkan ‘Robbers’ yang menurut penuturan beberapa penonton jarang dibawakan.

Teks: Aldrin Kevin
Foto: Aldrin Kevin

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here