New Tracks

Morbid Monke Rilis “When I Feel Alive”, Single Pertama Dalam Sejarah Penciptaan Musik Mereka

Diterbitkan

pada

Morbid Monke

Morbid Monke bukan band yang ingin memanjakan telinga umum. Mereka tidak dibentuk untuk bersahabat dengan stereotip selera mayoritas. Dalam “When I Feel Alive”, single debut mereka yang dirilis via Dirt & Dust Records, lima anggota band asal Bali ini merumuskan keganjilan mereka sebagai bentuk perlawanan sekaligus perayaan: terhadap hidup, musik, dan eksistensi liar yang tak tertebak.

Unit yang kini beranggotakan Karisma Kele (vokal), Krisna Dwipayana (gitar), Deoka (bass), Dewok (terompet), dan Gerby (drum) ini tidak mengikuti rumus yang sudah ada. Mereka menciptakan sendiri patokan untuk tampil seaneh mungkin, tanpa kehilangan esensi groove yang bisa menggerakkan tubuh.

Aku ingin penonton bouncing, bukan moshing,” ucap Kele. “Makanya musik kami tidak kaku dalam satu genre saja. Aku berani kasih garansi, kalau kamu mau tahu gimana enaknya nge-dance, silakan datang ke live show kami,” goda Kele, seolah menantang urat jejingkrakan pendengarnya.

Morbid Monke Band

Musik mereka terdengar seperti sebuah ritual aneh di tengah lantai dansa: tribal namun progresif, liar sekaligus penuh kontrol. “When I Feel Alive” memadukan art punk dengan lapisan post-punk beraroma jazz palsu. Terompet berbelalai panjang milik Dewok berselancar di atas ritme ganjil yang dibangun Gerby dan Deoka.

Krisna menyelipkan lick gitar disonansi yang terasa seperti kesalahan disengaja, sementara Kele memuntahkan vokal nyaris seperti sedang mabuk. Hasilnya adalah semacam pesta surealis: jika Talking Heads minum arak Bali bersama Bad Brains, mungkin beginilah suara yang akan terdengar.

Lirik lagu ini lahir dari kebiasaan minum bareng di ruang latihan. “Setiap latihan aku bawa wiski, kita mabuk, cerita macam-macam, dari konspirasi sampai hal-hal ngaco,” ungkap Dewok. Dari situ tumbuh semacam kebersamaan yang tidak dibuat-buat, lalu dituangkan menjadi narasi tentang gairah hidup dan kebebasan, sebuah ode untuk saat-saat ketika dunia terasa terbuka lebar dan semua kegilaan justru terasa masuk akal.

Band Morbid Monke

Proses kreatif Morbid Monke terbilang instingtif. Musik digarap dulu oleh Krisna, kemudian lirik disusun berdasarkan situasi mabuk-mabukan kolektif itu, sementara pondasi ritmik dibentuk bersama, seperti menari di atas lantai yang retak namun tetap berdiri tegak.

Lagu ini sekaligus menjadi kilas balik perjalanan Morbid Monke sejak terbentuk pada September 2024, di mana mereka telah mencuri perhatian lewat kemenangan kompetisi musik yang menghadiahi mereka kesempatan rekaman bersama Robi Navicula. Hasil dari sesi itu berupa dua lagu: remake “Dinasti Matahari” dan track orisinal “Eight Ball”, yang kemudian dirilis terbatas dalam edisi khusus Record Store Day 2025.

Namun “When I Feel Alive” menandai babak baru, lebih fokus dan berani menggali bentuk-bentuk ganjil tanpa takut dijauhi. Dua single tambahan sudah mengantre untuk menyusul, sebagai bagian dari perjalanan menuju album penuh pertama mereka. Sebuah rilisan yang konon akan menjadi perlawanan total terhadap sterilnya musik yang terlalu dipoles dan terlalu ingin diterima semua orang.

“When I Feel Alive” adalah pernyataan perang terhadap yang biasa, sebuah undangan menari di tepi jurang kegilaan. Single ini sudah bisa dirasakan ganasnya di semua platform musik streaming digital mulai 18 Juli 2025. Masih berani mendekat?

 

Support Gigsplay Dengan Saweria

🙏 Terima Kasih Atas Dukungan Anda!

Dukungan Anda sangat penting dan membantu Gigsplay untuk mendukung musisi independen Indonesia.

✅ KLIK UNTUK DONASI
Pilihan mode pembayaran
Pilihan metode pembayaran
Advertisement
Berikan Komentar

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *