International
“No Joy” Jadi Pembuka Album Baru The Beths Tentang Keseimbangan Mental
Kuartet indie rock asal Selandia Baru, The Beths, resmi mengumumkan perilisan album keempat mereka yang berjudul ‘Straight Line Was A Lie’, sekaligus meluncurkan single terbaru berjudul “No Joy”. Album ini akan menjadi rilisan penuh pertama mereka sejak ‘Expert in a Dying Field’ yang dirilis pada tahun 2022, dan juga menandai debut The Beths di bawah label baru mereka, ANTI-, yang telah menjadi rumah kreatif mereka sejak awal 2025.
Mengusung tema utama “eksistensial vertigo”, ‘Straight Line Was A Lie’ akan mengeksplorasi perasaan disorientasi emosional dan pencarian makna dalam lanskap kehidupan modern yang terus berubah. Proyek terbaru ini disebut sebagai fase reflektif dan personal dalam perjalanan musikal sang vokalis sekaligus penulis lagu, Elizabeth Stokes.
Dalam pernyataan resminya, Stokes mengungkapkan bahwa penulisan lagu di album ini sangat dipengaruhi oleh pengalaman pribadinya ketika mulai mengonsumsi SSRI (Selective Serotonin Reuptake Inhibitors), jenis antidepresan yang banyak diresepkan untuk mengatasi gangguan mood dan kecemasan.
“Aku merasa seperti memiliki otak yang baru. Dan aku menulis lagu dengan cara yang sangat naluriah, jadi saat naluriku sedikit berubah, semuanya terasa asing. Tidak seburuk dulu, tapi juga tidak sepenuhnya nyaman,” jelasnya.

Lebih jauh, Stokes mengungkapkan bahwa single “No Joy” secara harfiah mencerminkan kondisi anhedonia, di mana seseorang kehilangan kemampuan untuk merasakan kebahagiaan.
“Parahnya, anhedonia muncul saat depresi berada di titik terendah, dan juga ketika aku merasa cukup baik setelah mulai menggunakan SSRI. Aku tidak merasa sedih, bahkan bisa dibilang merasa baik-baik saja. Namun, hal-hal yang dulu aku nikmati kini tidak lagi memberikan kebahagiaan. Rasanya datar, tidak ada rasa senang,” jelas Stokes, menggambarkan proses internal yang menjadi dasar emosional lagu tersebut.
Single “No Joy” membawa pendekatan yang khas dari The Beths, melodi gitar yang dinamis, harmoni vokal yang kaya, dan lirik yang jujur. Lagu ini juga menjadi semacam jendela awal ke arah musikalitas yang akan ditawarkan dalam ‘Straight Line Was A Lie’, yang diprediksi tetap mempertahankan identitas pop-rock cerdas dan emosional ala The Beths, namun dengan lapisan kedewasaan yang lebih kompleks.
Sebagai salah satu band alternatif paling disegani dari belahan Pasifik Selatan, The Beths telah mendapatkan pengakuan luas atas kemampuan mereka mengolah lirik yang tajam dengan musikalitas yang enerjik. ‘Expert in a Dying Field’, album ketiga mereka, sempat menuai pujian dari berbagai media musik ternama.
Kini melalui ‘Straight Line Was A Lie’, The Beths tampaknya siap melangkah ke fase baru yang lebih kontemplatif, tanpa kehilangan kekuatan sonik dan kejujuran emosional yang membuat mereka dicintai pendengar.
Album ini dijadwalkan rilis dalam beberapa bulan ke depan dan telah menimbulkan ekspektasi tinggi, baik dari penggemar lama maupun pendengar baru yang mencari suara baru dengan cerita yang membumi.
The Beths kembali mengingatkan bahwa dalam dunia musik yang kian riuh, kejujuran dalam menciptakan bisa menjadi kekuatan paling ampuh.

