New Albums
Outlier Ledakkan Luka Dan Distorsi Di EP Perdana “THIS LOVE HURTS”
Outlier akhirnya melepas EP perdana mereka bertajuk ‘THIS LOVE HURTS‘, sebuah rilisan yang lahir dari tumpukan pengalaman personal, relasi yang runtuh, kehilangan, hingga usaha panjang untuk berdamai dengan diri sendiri. Band melodic hardcore asal Samarinda ini mengemas semua perasaan tersebut ke dalam enam lagu yang terdengar gelap, emosional, dan penuh tekanan tanpa kehilangan sisi melodis yang menjadi identitas utama mereka.
Band yang terbentuk pada akhir 2023 ini dihuni Bayu Handik Suprayogo (vokal), Muhammad Ramadhani dan Muhammad Iswahyudi (gitar), Ricky Aprianto (bass), serta Dian Ananto Rayenda (drum). Dalam waktu yang relatif singkat, Outlier mulai membangun karakter musikal yang berpijak pada melodic hardcore dengan nuansa melankolis dan lirik yang terasa personal. ‘THIS LOVE HURTS’ menjadi titik penting dari proses tersebut.
EP ini tidak disajikan dengan konsep yang terstruktur rapi atau alur yang linier. Sebaliknya, Outlier membiarkan materi di dalamnya mengalir seperti potongan-potongan emosi yang datang silih berganti. Dibuka lewat “The Prologue”, pendengar langsung diarahkan masuk ke atmosfer muram sebelum empat lagu utama mulai menghantam dengan tekanan yang bervariasi. Seluruh perjalanan kemudian ditutup melalui “The Epilogue”, meninggalkan kesan kosong yang terasa menggantung.
“EP ini inspirasinya kebanyakan dari kisah pribadi namun tidak sedikit juga menyangkut komentar sosial,” ujar Dian Ananto Rayenda.

Masing-masing lagu membawa luka dan kegelisahannya sendiri. “To The River” menggambarkan seseorang yang terus memberi hingga akhirnya kehilangan arah dan kehabisan tenaga untuk bertahan. Lagu ini terasa seperti ledakan frustrasi yang perlahan berubah menjadi keputusasaan. Di sisi lain, “Peace of Mind” lebih reflektif, berusaha mencari ruang tenang setelah dihantam kenangan dan tekanan yang sulit dilepaskan.
Ketegangan mulai meningkat di “Forever Unrest”, salah satu trek paling agresif dalam EP ini. Dentuman drum yang cepat dan lapisan riff gitar yang terus menekan memberi ruang bagi vokal Bayu untuk terdengar lebih meledak-ledak. Lagu tersebut terasa seperti perlawanan dari seseorang yang sudah terlalu lama menahan rasa sakit dan akhirnya memilih bangkit meski tubuh dan pikirannya belum sepenuhnya pulih.
Sementara itu, “All Alone” tampil sebagai titik paling rapuh. Lagu ini menangkap rasa kesepian dan kebingungan ketika seseorang mencoba pulang, hanya untuk sadar bahwa tempat yang ia tuju sudah berubah sepenuhnya. Kehadiran vokal tamu dari Devia Winanda memberi warna emosional tambahan yang membuat lagu ini terdengar lebih sunyi sekaligus menghantam secara emosional.
Secara musikal, Outlier tetap menjaga fondasi melodic hardcore mereka tetap padat dan intens. Gitar menjadi sumber tekanan utama sepanjang EP, sementara bass dan drum menjaga ritme tetap agresif tanpa terdengar berlebihan. Vokal Bayu tampil kasar dan mentah, tetapi justru di situlah kekuatan emosinya terasa. Tidak ada usaha untuk terdengar terlalu teknis atau dramatis. Semua dilepas apa adanya.
‘THIS LOVE HURTS’ direkam, di-mixing, dan di-mastering oleh Invader Records. Proses produksinya berlangsung hampir selama satu tahun, dimulai sejak pengerjaan single “All Alone” pada Mei 2025 hingga akhirnya rampung pada April 2026. Dalam periode tersebut, Outlier terus mematangkan arah musik sekaligus memperkuat identitas emosional yang ingin mereka bawa.
“Produksi ini dimulai sejak kurang dari satu tahun sejak pembuatan single kedua (All Alone), medio Mei 2025 sampai April 2026,” jelas Dian.
Setelah perilisan EP ini, Outlier mulai mempertimbangkan untuk melakukan tur di beberapa kota di Kalimantan Timur dan Kalimantan Utara. Selain menyajikan materi terbaru secara langsung kepada pendengar, mereka juga sedang mempersiapkan single baru sebagai kelanjutan dari ‘THIS LOVE HURTS’.
“Setelah rilis, kemungkinan ada rencana untuk tur seputaran kota di Kaltim dan Kaltara, sembari merampungkan single terbaru,” tambah Dian.
Dirilis secara digital melalui Muara Records pada 14 Mei 2026, ‘THIS LOVE HURTS’ terdengar seperti catatan emosional dari sekumpulan anak muda yang memilih melampiaskan luka lewat distorsi, amarah, dan melodi yang tetap menyisakan ruang untuk bernapas.
Support Gigsplay Dengan Saweria
