Connect with us

Articles

Retrospektif: Satu Dekade Lima Album Independen Lokal

Published

on

Mendaulat #AKS001, rilisan sulung Aksara Records di tahun 2004 yang bertajuk “JKT: SKRG” sebagai gong dimulainya perkembangan musik independen di Indonesia rasanya bisa menjadi keputusan yang solid.  Sebuah kompilasi yang mentransformasi nama unit-unit Independen didalamnya. Dari terasa asing sampai timbul penasaran, hingga akrab terdengar sampai saat ini.

Sekarang,  jalur independen sudah tidak lagi hanya menjadi jalur alternatif yang dipilih oleh musisi yang menginginkan proses produksi yang steril dan jauh dari intervensi selera pasar. Para pelaku musik independen justru adalah mereka yang sudah dan harus siap bertemu bentuk apresiasi dan juga tekanan-tekanan tak terduga terhadap karyanya. Bukan hanya soal berapa banyak pendengarnya. Dibawah payung label independen, para musisi juga acap kali bertemu dengan kritik-kritik mendetail. Mengingat para pendengarnya juga banyak yang merupakan musisi dan penikmat musik sejati, wajar saja jika kematangan materi sampai persoalan teknis seperti pemilihan sound dilibatkan dalam barisan opini publik.

Tapi bolehlah kita tersenyum lebar karena mendapati suaka musik independen lokal tetap bertahan, bahkan terus berkembang. Bukan hanya dari segi kualitas musik serta kuantitas pelakunya, tapi juga bagaimana skena independen lokal menjadi sarana yang lebih menghasilkan dari kacamata bisnis. Beriringan dengan perkembangan portal internet dan media sosial, kini band independen semakin mudah dikenal.

Rilisan fisik juga kian menggiurkan untuk diperdagankan 3 tahun belakangan. Ragam format, dari kaset, CD, hingga piringan hitam menjadi kegemaran banyak orang. Label-label independen tumbuh kembang secara pesat, baik merilis debutan atau rilisan ulang. Itu juga merupakan bukti kelincahan pasar musik independen yang semakin kasat mata. Bak perlombaan kompetitif yang tetap sportif.

Satu dekade sudah kita menyaksikan industri musik independen yang gagah. Namun kali ini saya ingin mencoba menapaki sejarah industri musik independen dari rilisan-rilisan didalamnya. Tepatnya 10 tahun lalu, pada tahun 2005. Ada 5 rilisan yang secara singkat saya bahas dan ceritakan. 5 album yang tetap kuat dibenak kita sampai saat ini. Album apa sajakah itu?

  1. Sore – Centralismo

Menetas dari tangan pemuda-pemuda di bilangan Cikini dan sekitarnya yang berkawan sejak di sekolah dasar. Centralismo merupakan album debut Sore yang dirilis Aksara Records, setelah sebelumnya ikut andil dalam kompilasi JKT: SKRG dengan menyumbang lagu berjudul Cermin.

Segar nan berkelas. Rasanya Centralismo benar-benar berhasil hadirkan suasana sentral Jakarta yang serba ada namun kokoh menjaga nilai arifnya.  Ada Partitur klasik, “Gymnopedie no.1” karya Eric Satie pada nomor “Mata berdebu”, ada swing bertemu punk dalam tembang “She’s So Beautiful” yang digarap bersama The Miskins, serta ada introspeksi diri mendalam di karya ballad bertajuk “Aku” yang didaulat sebagai penutup Centralismo.  Sungguh Sore boleh berbangga atas bebasnya karya mereka dari usaha dicari-carinya sang inspirator.  Tak pelak jika tingginya kelas kemahiran Ade Paloh, Awan Garnida, Mondo Gascoro, Reza, dan Bemby Gusti dalam bermusik jadi modal kuat bagi album yang juga masuk dalam jajaran “Five Asian Albums Worth Buying” versi majalah Time.

Baru-baru ini saya mendapati seorang penjual rilisan-rilisan musik tangan kedua yang menjual CD Centralismo seharga 300.000 Rupiah, dan 100.000 Rupiah untuk satu buah kasetnya. Dan dalam kurun waktu 1 jam, lewat postingan di facebook kedua kepingan terebut berstatus terjual.  Luar biasa. Rasanya bukan hanya saya saja yang menunggangi Centralismo untuk pergi ke pusat Jakarta pada masa lampau.

  1. The Adams – selftitled

Tidak berlebihan jika The Adams disebut superband. Beni Adhiantoro (The Upstairs) yang biasanya ada dibalik drum set mengisi posisi bassist,  Ario Hendarwan (Monday Math Class), serta Saleh Hussein (White Shoes & The Couples Company) menggawangi posisi gitaris dan vokalis. Ya, merekalah The Adams. Grup pelantun tembang-tembang power pop berbalut indie rock nan harmonis yang selalu berhasil menyulap crowd menjadi layaknya kelompok paduan suara.

Maraknya kemunculan unit- unit indie rock muda sarat distorsi belakangan ini tidak lantas menjadikan debut album The Adams mengalami regresi perhatian. Begitu banyak saya temukan ungkapan-ungkapan secara langsung atau di laman media sosial yang mengharap album ini segera dire-issue. Bagaimana tidak? Rilisan berisi 10 track yang dibuka dengan intro super catchy ini berhasil menghadirkan aroma segar di skena independen lokal saat rilisnya. Siapa yang tidak lantas bernyanyi ketika mendengar “Konservatif” dan “Kau Disana” yang ditulis liriknya oleh Jimi Multhazam (The Upstairs) itu? Lagu “Konservatif” dan “Waiting” juga mendapat perhatian lebih lewat dilibatkannya dalam mengisi album soundtrack film Janji Joni, karya Joko Anwar.

31 Agustus 2014 yang lalu, debut album The Adams masih menyuarakan kesuksesannya. Setelah cukup lama tidak tampil, akhirnya The Adams berpentas lagi di perhelatan musik independen “Superbad”, yang digagas oleh The Secret Agent setiap bulannya di Jaya Pub. Dapat disaksikan lewat dokumetasi video yang banyak tersebar di internet bagaimana The Adams membagi energinya pada penonton malam itu. Dengan set list yang hanya berisikan lagu-lagu dari album self titled, koor muncul dari sudut penonton yang penuh dan sesak. Cara The Adams berinteraksi dengan penonton juga harus diacungi jempol. Penuh celetukan lucu, Ale dan Ario berhasil menyulap pertemuan penonton dengan The Adams bak pertemuan dengan sahabat lama. Lagu favorit saya, “Glorious Time” digubah kedalam versi full band. Lewat distorsi yang kental serta harmonis, semua turut bernyanyi sambil melompat ditengah sesaknya penonton.

  1. The Sastro – Vol. 1

Duduk di tingkat SMP kelas 2, tepatnya di tahun 2005. Adalah waktu dimana saya belum begitu akrab menggunakan media internet. Sangat terlambat memang. Namun untungnya, dari hasil menabung saya bisa membeli kepingan-kepingan CD dan majalah musik untuk tetap up to date. Termasuk membeli kompilasi JKT SKRG yang dirilis pada tahun tersebut.

Jelas rekaman studio The Sastro pertama yang saya dengar adalah “Kaktus”. Sebuah tembang yang tepat untuk didengarkan ketika hujan turun di Jakarta. Namun rasa penasaran tidak berlanjut. Sampai beberapa waktu kemudian saya menemukan sebuah zine bekas karya mahasiswa/i IKJ di Pasar Senen yang dimana salah satu artikelnya berjudul “The Sastro: The Smiths Mah Lewat!”, rasa penasaran saya terangsang lagi. Saya coba mendengarkan kaset The Sastro – Vol.1 yang kebetulan sudah dibeli abang saya. Hasilnya? saya jatuh cinta.

Dengan cover yang sangat simpel, berwarna putih dan dengan logo The Sastro. Suara dari pita didalam tubuh kaset yang juga berwarna putih tersebut, berhasil mewakili keingingan untuk banyak bicara namun tak punya banyak daya. Layer-layer gitar penuh reverb yang mengayun menimpa beat progresif tersebut malahan sering jadi pilihan untuk saya dengar sendirian. Sampai akhirnya saya bertemu dengan lagu yang secara super subjektif saya sebut sebagai lagu lokal paling romantis. Tembang itu berjudul “Rasuna”.

Perilisan album “Ekstasi” dalam format kaset pada saat Cassette Store Day 2013 juga bisa dijadikan bukti kegagahan The Sastro. 8 tahun tanpa rilisan, pastilah bukan tanpa alasan. Entah apapun yang mereka pikirkan dibalik aura kemuraman, kiranya The Sastro bisa semakin lantang di permukaan.

  1. White Shoes & The Couples Company – selftitled

Entah sudut dunia mana lagi yang belum pernah dikunjungi White Shoes & The Couples Company (WSATCC) saat ini. Merupakan prestasi membanggakan bagi skena musik independen Indonesia. Satu diantara mereka sudah pentas lintas benua. Dan kita semua tahu bagaimana mereka memulainya. Dengan rilisan kaset juga CD bertajuk Self Titled 10 tahun silam. Dirilis oleh label independen asal Chicago  (Amerika Serikat), Minty fresh, dan lagi-lagi, Aksara Records.

Saat rilisnya saya masih di tingkat akhir Sekolah Menengah Pertama. Album ini berhasil merubah gaya hidup saya dan beberapa teman saya. Ketika kebanyakan anak pada usia tersebut menghabiskan waktu luangnya untuk pergi ke mall, kami justru melancong ke musem-museum. Ke taman-taman kota, juga ruang publik lain yang punya sentuhan nilai sejarah. Debut WSATCC benar-benar berhasil membuat kami yang mendengarnya ingin segera jalan-jalan. Sajian indie Pop, soft rock, ballad, sampai bossa nova mid-tempo, semuanya menavigasi imajinasi ke ruang menyegarkan, yang tentunya bernuansa retro.

Tidak sulit untuk memprediksi bahwa WSATCC akan mendapat banyak tawaran manggung. Baik di pentas seni SMA atau bentuk perhelatan lainnya. Saat itu aroma retro pekat sekali menempel pada musisi indepen lokal, terutama Jakarta. Jadi jangan heran jika Aprilia Apsari dkk sontak merangsang penggemarnya untuk berdandan ala Mogi Darusman atau bintang-bintang LCLR Prambors tahun 70an. Hal tersebut juga merupakan faktor yang membuat debut WSATCC terhitung penting dalam usaha pengokohan eksistensi musisi indepen lokal.

Satu dekade sudah album dengan cover berwarna kuning tersebut dirilis. Ingin mengoleksi album-album mereka? Silahkan siapkan kocek tebal untuk membelinya! Alm.Denny Sakrie pada peluncuran piringan hitam mini album White Shoes & The Couples Company: Menyanyikan lagu-lagu daerah bahkan menyebut mereka sebagai band saudagar. Bukan tanpa alasan, tapi karena begitu tingginya harga jual rilisan-rilisan fisik WSATCC.

  1. C’mon Lennon – Ketika Lalala

Pertama dan satu-satunya. Ketika Lalala adalah rilisan semata wayang unit indie rock asal Jakarta, C’mon Lennon. Dirilis dalam bentuk cd dan kaset, Ketika Lalala berisikan 11 lagu. Bin Harlan dengan mic sambil sesekali bermain tamborin melagukan kegalauan dan kegamangan tentang hal-hal kecil disekitar kita. Hal itu didukung oleh karakternya dalam bernyanyi yang berbaur dengan aransemen yang indah namun tidak terkesan ambisius.

“Kikuk”, lagu berdurasi terpanjang sekaligus nomor favorit saya di album ini, misalnya. Yang secara deskriptif bercerita mengenai kegalauan dan kegamangan insan yang menghampiri kediaman seseorang yang sedang tidak di rumah. Lalu ada keresahan berbuah saran untuk kawan yang lihai mempermainkan wanita di lagu “Kelinci Jantan”. Serta “Ambulans”, yang membawa kita pada nuansa meregang jiwa kritis, sampai hanya bisa mengulang kata-kata “Segera panggilkan ambulans!”

Tidak perlu membuat album yang laku keras di pasaran untuk meninggalkan bekas bagi pendengarnya. Tembang anthemic “Aku Cinta J.A.K.A.R.T.A” yang sampai saat ini masih saya dengar digaungkan ribuan pendukung Persija Jakarta juga sudah cukup membuktikannya. “Ketika Lalala” adalah album lokal independen yang harus diperhitungkan kebesarannya.

Ah, entah hanya saya saja atau memang semua yang mendengar album ini setuju. Ketika Lalala adalah album yang kuat nyawanya. Sederhana dalam keindahannya. Indah dalam kesederhanaannya.

Tulisan oleh:

Yehezkiel Sihombing