International

Dayfiction Perluas Teritori Sonik Lewat EP ‘Divine Intermission’

Diterbitkan

pada

Dayfiction
Dayfiction (credit: Saige Richardson)

Unit post-punk asal Virginia, Dayfiction, kembali menghadirkan suasana gelap dan penuh kegelisahan lewat EP terbaru mereka yang berjudul ‘Divine Intermission‘. Rilisan ini berfungsi sebagai dokumentasi emosional dari masa-masa penuh ketidakpastian, direkam beberapa hari sebelum vokalisnya, Evan Solomon, pindah sementara ke London. Hasilnya adalah sebuah karya yang terasa intens, gelisah, dan sekaligus mendorong pendengar untuk mencari makna di tengah situasi hidup yang terus berubah.

Dayfiction dibentuk pada tahun 2024 dengan formasi Evan Solomon (vokal), Noah Brown (gitar), Mateo Melchor Dutto (gitar), Jackson Prior (bass), dan Hannah Johnson (drum). Mereka awalnya berakar dari garage rock yang terdengar dalam rilisan awal mereka, ‘Blurry World‘. Tapi dalam waktu singkat, band ini berkembang ke arah post-punk yang lebih tajam, emosional, dan atmosferik.

Sepanjang 2025, Dayfiction bergerak sangat aktif. Mereka merilis sejumlah single seperti “Peacemaker” dan “Lost You”, disusul EP ‘Diplomat’ yang semakin memperlihatkan arah musik mereka. Di saat yang sama, reputasi mereka sebagai live act juga tumbuh cepat setelah tampil membuka konser untuk sejumlah nama seperti Inhaler, Bass Drum of Death, Lip Critic, hingga Hello Mary. Perjalanan mereka antara Richmond dan New York perlahan memperluas jangkauan Dayfiction di skena alternatif Amerika.

Dalam ‘Divine Intermission’, semua pengalaman itu terasa melebur menjadi satu tekanan emosional yang terus bergerak tanpa henti. Evan Solomon mengaku mulai menulis materi EP ini sekitar Agustus 2025, saat banyak orang di sekitarnya mulai pergi untuk kuliah atau memasuki kehidupan baru. Di tengah perubahan tersebut, ia justru merasa tertahan di satu titik yang monoton dan membingungkan.

Dayfiction Band

Dayfiction (credit: Lola Jenkins)

Aku melihat banyak orang terdekatku pergi untuk kuliah atau memulai babak baru dalam hidup mereka, dan aku merasa terjebak dalam periode aneh ini,” ujar Solomon. “Hidup mulai terasa repetitif dan monoton, tetapi di sisi lain, band kami berkembang dan jadwal pertunjukan kami semakin padat.”

Daripada menunggu inspirasi datang, Solomon memilih memaksa dirinya untuk terus menulis setiap hari. Dari situ, proses kreatif perlahan berubah menjadi cara untuk memahami keadaan yang sedang ia alami.

Pada akhirnya, proses menulis itu sendiri menjadi cara saya untuk memahami segalanya,” lanjutnya.

Nuansa tersebut sangat terasa sepanjang ‘Divine Intermission’. EP ini hidup dari tarik-menarik antara rasa terasing dan kebutuhan untuk tetap terhubung dengan dunia luar. Secara musikal, Dayfiction banyak menyerap energi dari band-band post-punk modern seperti Fontaines D.C., Joy Division, Protomartyr, The Murder Capital, Shame, hingga The Cure. Pengaruh tersebut terdengar lewat gitar yang kasar dan melodius, ritme drum yang terus menekan, serta vokal Solomon yang emosional tanpa kehilangan sisi “dinginnya”.

Meski dipenuhi ketegangan, ‘Divine Intermission’ tidak pernah terdengar sepenuhnya putus asa. Di balik lapisan distorsi dan atmosfer muramnya, EP ini tetap menyisakan ruang untuk harapan kecil yang samar. Dayfiction menangkap perasaan saat seseorang berdiri di antara dua periode hidup, belum sepenuhnya pergi dari masa lalu tetapi juga belum sepenuhnya tiba di tempat baru.

Di ‘Divine Intermission’, Dayfiction terdengar semakin matang dalam meramu post-punk yang emosional. Mereka tidak hanya memainkan musik yang gelap, tetapi juga mencoba memotret kegelisahan generasi muda yang hidup di tengah perubahan cepat, hubungan yang rapuh, dan rasa kehilangan arah yang sulit dijelaskan.

Support Gigsplay Dengan Saweria

🙏 Terima Kasih Atas Dukungan Anda!

Dukungan Anda sangat penting dan membantu Gigsplay untuk mendukung musisi independen Indonesia.

✅ KLIK UNTUK DONASI
Pilihan mode pembayaran
Pilihan metode pembayaran
Advertisement
Berikan Komentar

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *