International

Delapan Tahun Menanti, The Charlatans Kembali Dengan “We Are Love”

Diterbitkan

pada

The Charlatans
The Charlatans (Photo by Cat Stevens)

The Charlatans memulai babak baru dalam perjalanan karier mereka dengan pengumuman album studio ke-14 berjudul ‘We Are Love’, yang dijadwalkan rilis pada 31 Oktober 2025 di bawah label BMG.

Kabar ini disampaikan bersamaan dengan peluncuran lagu pertama dari album tersebut, yang berjudul sama, “We Are Love”. Lagu tersebut baru saja mereka perdengarkan untuk pertama kalinya secara langsung dalam sebuah konser spesial di kampung halaman mereka, Manchester, tepatnya di Castlefield Bowl.

Selain mengabarkan soal album, The Charlatans juga mengumumkan jadwal tur Inggris mereka pada bulan Desember mendatang. Band ini akan menggelar konser di sejumlah kota, termasuk Leeds, Stoke, Bath, London, Manchester, dan Glasgow. Penjualan tiket umum akan dibuka pada Jumat, 18 Juli pukul 10 pagi waktu setempat.

Selama lebih dari empat dekade, The Charlatans telah dikenal sebagai salah satu band Inggris yang paling dicintai. Mereka telah merilis 13 album, menempatkan 22 lagu di tangga lagu Top 40, dan mencetak tiga album yang pernah mencapai posisi nomor satu.

Lagu-lagu mereka seperti “The Only One I Know”, “North Country Boy”, dan “One to Another” menjadi soundtrack penting bagi generasi mereka. Kini melalui ‘We Are Love’, The Charlatans menegaskan langkah baru mereka, sebuah era yang menunjukkan bahwa mereka berdamai dengan masa lalu, tanpa kehilangan semangat untuk terus bergerak maju.

The Charlatans UK

The Charlatans (Credit: PR Company Handout)

Lagu utama “We Are Love” menjadi sebuah deklarasi semangat baru. Dengan gebukan drum yang menghentak dan riff gitar yang megah, lagu ini adalah surat cinta yang penuh energi untuk umat manusia. Vokalis Tim Burgess menggambarkan lagu ini sebagai sensasi “naik mobil atap terbuka di akhir film favoritmu, menyusuri jalan pantai menuju sesuatu yang luar biasa.”

Lagu ini adalah salah satu yang pertama kali diciptakan untuk proyek album ini, dan kemudian menjadi semacam kompas kreatif bagi keseluruhan materi. Gitaris Mark Collins menjelaskan, “Sejak awal kami merasa ini adalah lagu yang tepat. Dan ternyata benar: menjadi single pertama, judul album, dan lagu kedua di dalamnya. Semuanya mulai terbentuk di sekitar ‘We Are Love’. Energinya yang khas mendorong semuanya bergerak.”

Periode delapan tahun tanpa rilisan album adalah jeda terpanjang dalam sejarah The Charlatans. Banyak faktor yang memengaruhi: pandemi, proyek solo masing-masing personel, serta realitas kehidupan di mana para anggota band kini tersebar di berbagai penjuru Eropa.

Formasi mereka tetap utuh: Tim Burgess (vokal), Martin Blunt (bass), Mark Collins (gitar), Tony Rogers (keyboard), dan Pete Salisbury (drum). Proses pengerjaan album ini akhirnya benar-benar dimulai ketika semua elemen, waktu, tempat, dan suasana bertemu pada saat yang tepat.

Untuk produksi, mereka menggaet sejumlah nama penting dari dunia musik alternatif. Di antaranya Dev Hynes (alias Blood Orange dan Lightspeed Champion), Fred Macpherson (Spector), serta produser legendaris Stephen Street yang dikenal lewat karya-karyanya bersama The Smiths, Blur, dan The Cranberries. Daftar engineer hingga kolaborator lainnya pun turut memperkuat fondasi album ini. Hasilnya menjadi bukti bahwa segala penantian itu tidak sia-sia.

The Charlatans live at The Powerstation

The Charlatans live at The Powerstation (credit: Amanda Ratcliffe)

Proses rekaman dilakukan di dua tempat yang memiliki sejarah bagi band ini: Rockfield Studio di Wales dan Big Mushroom, studio mereka sendiri di Middlewich, Cheshire.

Kembali ke Rockfield setelah hampir tiga dekade terasa sangat emosional. Tempat ini terakhir kali mereka datangi saat mengerjakan album kelima ‘Tellin’ Stories’. Kala itu, tragedi merenggut keyboardist mereka, Rob Collins, yang meninggal akibat kecelakaan mobil di jalan menuju studio tersebut. Momen kembali ke Rockfield pun terasa sebagai bentuk penghormatan terhadap seluruh sejarah dan anggota yang pernah menjadi bagian dari The Charlatans.

Tim Burgess menyatakan bahwa dua konsep utama menjadi benang merah dari album ini: hauntologi dan psikogeografi. “Kembali ke Rockfield adalah cara kami menghormati setiap personel yang pernah menjadi bagian dari The Charlatans. Di sana ada energi lama yang kami panggil kembali, dan kami bentuk ulang menjadi sesuatu yang  baru.”

Dalam semangat reflektif yang terasa di balik proses kreatif album ini, satu kesadaran muncul: cinta adalah elemen yang sejak awal menyatukan The Charlatans. Dan cinta pulalah yang kini menjadi benang merah di balik sebelas lagu dalam ‘We Are Love’, sebuah album yang tidak hanya menghormati masa lalu, tapi juga menatap masa depan dengan keyakinan.

Mereka adalah The Charlatans. Dan kini, mereka kembali untuk menyatakan satu hal penting: We Are Love.

YouTube Video
Support Gigsplay Dengan Saweria

🙏 Terima Kasih Atas Dukungan Anda!

Dukungan Anda sangat penting dan membantu Gigsplay untuk mendukung musisi independen Indonesia.

✅ KLIK UNTUK DONASI
Pilihan mode pembayaran
Pilihan metode pembayaran
Advertisement
Berikan Komentar

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *