Connect with us

New Tracks

Lukman Marjabinie Akhiri Hiatus Dengan “All is Love”

Published

on

Lukman Marjabinie

Lukman Marjabinie tampaknya tak bisa berpisah dari dunia musik. Sempat hiatus selama empat tahun usai tak lagi melanjutkan aktivitas musik bersama Afapika, kini Lukman kembali ke studio rekaman. Satu album disiapkan, penanda musisi kelahiran 25 Februari 1988 itu benar-benar kembali. Peduli setan dengan industri musik dalam realitas kekinian yang makin babak belur dipukuli Covid-19. Lukman kembali dengan api yang jauh lebih besar dibanding sebelumnya dengan bendera namanya sendiri.

Saya memang enggak bisa jauh dari dunia musik. Saya kira ini waktu yang tepat saya berproses lagi. Kembali ke aktivitas yang pernah sangat menyenangkan, dengan ke-khasan pelaku seni di Yogyakarta: do it with others, ini akan jauh lebih menyenangkan,” kata Lukman.

Empat tahun tanpa aroma pengharum ruangan di studio musik maupun keringat di karpet panggung memberi waktu Lukman berkontemplasi. Lukman kembali mengingat hidupnya. Ia kembali menggali pahit, getir, dan manis saat berproses bersama Afapika lalu memproyeksikannya dalam kehidupaan saat ini. Datang lagi dengan nama sendiri, atau solois, punya risiko besar lantaran nama Afapika begitu melekat di belakang namanya. Namun Lukman-dengan perenungannya-siap dan tak akan mempersoalkan predikat di belakang nama yang membesarkannya di dunia musik tanah air.

Kembalinya dia saat ini tidak hanya memperkaya arsip musik, khususnya solois di Indonesia saja, namun juga medium melawan lupa sekaligus warisan bagi anaknya. Frasa “melawan lupa” yang dimaksud Lukman bukan penanda heroisme. Bukan keran ingatan terhadap realita yang dibungkam aparatus yang diharap mengalir deras dalam benak orang-orang. Frasa itu merujuk ke ruang yang lebih personal dalam hidupnya.

Sederhana saja, bahwa karya-karya itu nantinya sekadar pengingat untuk diri pribadi dan bentuk warisan, walaupun saya dan anak belum bisa menyepakati ini warisan berbentuk apa. Semoga Tuhan merestui karena tidak ada jaminan saya akan mewariskan harta,” sambungnya.

All Is LoveSatu rilisan berjudul “All is Love” sudah diluncurkan 1 Juli 2020 kemarin ke banyak layanan dengar digital. Rilisan yang membuka gerbang album ini diramu bersama para musisi Yogya yang namanya tak asing lagi. Ada  Riski ‘Wanirekoso’ Faridh (Bass) pentolan JB Blues dan Moamarx and The Blackwind, Gilang Setiawan (gitar) Relung, Gigih Prayogo (gitar) Koen dan Heroic Karaoke, Winan Pratama (Kibor), plus bos besar Watchtower Studio Bable Sagala (Metalicass, Risky Summerbee and The Honeythief, Heroic Karaoke) yang dipercaya sebagai Co-Producer.

Materinya macam-macam sih temanya. Ada doa untuk anak saya, Soma, sebagian lain untuk istri, lalu untuk ibu dan bapak, dan catatan pribadi saya. Untuk ‘All is Love, lagu itu adalah secuil kisah cinta untuk orang tua dan buah hati saya. Sekadar mengenang perjuangan dan doa-doa mereka,” sambung Lukman.

Lukman Marjabinie sudah mengenal musik sejak SD. Saat di bangku SMK musisi dari Desa Condong, Kertanegara yang dibesarkan di Yogyakarta ini mulai rajin menulis lagu. Tahun 2014 ia bergabung di Afapika yang melahirkan mini album “Stay On Nirvana“. Peluncurkan mini album di Go Rich September 2015 lalu masih terekam d benak penikmat musik di Yogyakarta hingga kini. Pada 2016 ayah dari Banyu Marakata Soma ini tak melanjutkan karier musiknya bersama Afapika.

 

 

Untuk keterangan lebih lanjut, silakan kontak:

Danu: 082225458627

Continue Reading
Advertisement
Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *