New Albums

Megatruh Soundsystem Rilis Album Ritualistik “Heavy Mystical Dub”

Diterbitkan

pada

Megatruh Soundsystem Heavy Mystical Dub

Megatruh Soundsystem kembali melanjutkan eksplorasi musikal mereka lewat album kedua bertajuk “Heavy Mystical Dub”, yang resmi dirilis secara digital pada 1 Mei 2026 melalui Dugtrax Records. Duo asal Yogyakarta yang digawangi Ari Hamzah dan Kiki Pea ini tetap berfokus pada jalur dub eksperimental, tapi kali ini dengan lanskap suara yang terasa lebih gelap, ritualistik, dan penuh lapisan emosional.

Diproduseri oleh Wok The Rock, “Heavy Mystical Dub” terdengar seperti perjalanan panjang yang tidak hanya berbicara soal musik, tetapi juga spiritualitas, kemarahan sosial, hingga kegelisahan manusia modern. Album ini juga akan tersedia dalam format kaset pita lewat kolaborasi antara Dugtrax Records, Koloni Rekords, dan Cherrymerch. Bersamaan dengan pengumuman album, pre-order merchandise dan kaset fisik juga telah dibuka dan bisa diakses di tautan ini.

Sebagai bagian dari rangkaian promosi album, Megatruh Soundsystem akan menggelar tur bertajuk “Heavy Mystical Tour” yang akan menyambangi sejumlah kota, meliputi: Yogyakarta, Surakarta, Klaten, Sukoharjo, Wonogiri, Sragen, dan Boyolali.

Jika album pertama mereka, “State & Violence”, terdengar seperti kumpulan manifesto dub yang sporadis dan penuh energi, “Heavy Mystical Dub” terasa jauh lebih terstruktur. Album ini dirangkai layaknya sebuah ritual panjang, di mana setiap lagu saling terhubung dan bergerak perlahan layaknya alur dramaturgi, membawa pendengarnya ke dalam ruang kontemplasi, lalu menyeret mereka ke dalam kekacauan sosial sebelum akhirnya kembali ke sisi paling personal dari manusia.

Megatruh Soundsystem Yogyakarta

Megatruh Soundsystem masih berpijak pada kultur sound system Jamaika sebagai fondasi utama. Tapi mereka tidak berhenti di situ. Mereka menggabungkan elemen-elemen lokal seperti trance jathilan, ritme ritual, serta tekstur suara yang dipengaruhi oleh noise, post-punk, dan darkwave. Hasilnya adalah album dub yang tidak konvensional, di mana musik mereka terasa seperti kabut tebal yang terus bergerak, kadang hipnotik, kadang brutal.

Album dibuka lewat “Purwakala Riddim”, instrumental yang perlahan-lahan menciptakan suasana melalui dentuman bass yang berat dan ritme repetitif khas dub. Lagu ini seperti gerbang pembuka menuju dunia yang mereka ciptakan di album ini. Setelah itu, “Sang Hyang Mahatinggi” membawa nuansa spiritual yang lebih pekat, dipenuhi atmosfer gelap dam meditatif.

Ketika masuk ke “Berlumuran Darah”, suasana album mulai bergerak lebih agresif. Lagu ini terdengar seperti gambaran tentang manusia yang terjebak dalam lingkaran kekerasan akibat tekanan ekonomi dan ketimpangan sosial. Dentuman bass dan tekstur noise yang kasar memberi rasa tidak nyaman, tapi justru di situlah kekuatan lagu ini bekerja.

“Turangga Bhairawa” kemudian muncul dengan energi trance yang kuat. Ritmenya mengalir seperti mantra, sementara lapisan suara yang berputar perlahan membangun sensasi seolah berada di tengah ritual bawah tanah. Ini menjadi salah satu momen paling menarik dalam album, karena Megatruh Soundsystem berhasil menggabungkan dub dengan nuansa tradisional tanpa terasa dipaksakan.

Ketegangan album mencapai puncaknya melalui “Jagad Amuk Rakyat” dan “Murub Geni Ngalawan Dhurga”. Kedua lagu ini dipenuhi dengan amarah. Ada energi perlawanan yang sangat jelas, terutama melalui ritme yang menghantam tanpa banyak jeda. Sementara “Palu Kuasa” terdengar seperti kritik terbuka terhadap struktur kekuasaan yang represif.

Duo Megatruh Soundsystem

Salah satu trek yang paling mencuri perhatian adalah “Sesungguhnya Kemerdekaan Adalah Hak Segala Bangsa”. Lagu ini memuat kutipan pidato dari berbagai tokoh dunia yang dikenal karena perjuangan mereka melawan kolonialisme, rasisme, hingga penindasan. Megatruh Soundsystem tidak menyampaikannya dengan cara yang sentimental. Mereka justru membiarkan potongan suara itu bertabrakan dengan dentuman dub yang gelap dan berisik.

Di tengah atmosfer album yang penuh tekanan, “Tari di Medan Api” muncul sebagai simbol manusia yang berusaha bertahan di tengah kekacauan. Ada nuansa putus asa, tetapi juga keberanian untuk terus melangkah meskipun keadaan tidak kunjung membaik.

Album kemudian ditutup lewat “Genggam Tanganku”, lagu yang terasa jauh lebih personal dibanding trek lainnya. Setelah perjalanan panjang yang dipenuhi kemarahan, kritik sosial, dan suasana ritualistik, penutup ini terdengar seperti ruang sunyi untuk bernapas. Ada harapan kecil yang muncul di tengah dunia yang terasa semakin tidak pasti.

Sebagai album kedua, “Heavy Mystical Dub” memperlihatkan bahwa Megatruh Soundsystem tidak hanya sedang bermain-main dengan eksperimen suara. Mereka benar-benar membangun identitas musik yang unik dan sulit dicari pembandingnya di skena independen Indonesia hari ini.

Di tangan mereka, dub terasa seperti medium yang menyuarakan kecemasan sosial, spiritualitas, dan pengalaman hidup manusia kelas pekerja yang terus bertahan di tengah dunia yang bergerak kacau.

Support Gigsplay Dengan Saweria

🙏 Terima Kasih Atas Dukungan Anda!

Dukungan Anda sangat penting dan membantu Gigsplay untuk mendukung musisi independen Indonesia.

✅ KLIK UNTUK DONASI
Pilihan mode pembayaran
Pilihan metode pembayaran
Advertisement
Berikan Komentar

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *