Music News

Peretas Klaim Keruk Hampir Seluruh Katalog Musik Spotify, Ratusan Juta Lagu Terancam Bocor

Profile photo ofAngkasa

Diterbitkan

pada

Peretas katalog musik Spotify
Peretas Katalog Musik Spotify (Ilustrasi)

Sebuah klaim besar datang dari kelompok peretas yang menyebut diri mereka sebagai bagian dari proyek nirlaba bernama Anna’s Archive. Mereka menyatakan telah berhasil mengeruk hampir seluruh katalog musik Spotify, menghimpun metadata dari sekitar 256 juta lagu yang terhubung dengan lebih dari 15,4 juta profil artis.

Kelompok ini juga mengaku memiliki salinan audio dalam skala masif dan berencana membuka aksesnya melalui jaringan torrent.

Spotify membenarkan adanya pelanggaran keamanan tersebut. Dalam pernyataan resminya, perusahaan mengonfirmasi bahwa pihak tak bertanggung jawab telah memperoleh akses ke sebagian file audio di platform. Setelah laporan awal beredar, juru bicara Spotify menyampaikan bahwa akun pengguna yang terlibat telah diidentifikasi dan dinonaktifkan, serta langkah pengamanan baru telah diterapkan untuk mencegah insiden serupa.

Spotify telah mengidentifikasi dan menonaktifkan akun-akun bermasalah yang terlibat dalam praktik scraping ilegal,” kata perwakilan perusahaan. Mereka menambahkan bahwa Spotify sejak awal berdiri berpihak pada komunitas kreator dan akan terus bekerja sama dengan mitra industri untuk melindungi hak cipta dan kepentingan artis.

Pengungkapan awal justru datang dari pihak Anna’s Archive melalui sebuah unggahan blog panjang. Di sana, mereka memaparkan detail teknis dari data yang diklaim berhasil dikumpulkan, mulai dari durasi lagu, jumlah pemutaran, tingkat popularitas, genre, hingga tanggal rilis.

Kelompok tersebut juga menyebut telah “mengarsipkan sekitar 86 juta file musik” yang disebut merepresentasikan hampir seluruh aktivitas mendengarkan di Spotify, dengan total ukuran data mendekati 300 terabyte.

Katalog musik Spotify

Katalog musik Spotify (credit: David Pupăză)

Dalam pernyataannya, Anna’s Archive mengklaim menemukan cara untuk melakukan scraping Spotify dalam skala besar. Untuk saat ini, arsip tersebut disebut hanya tersedia dalam bentuk torrent dengan dalih pelestarian. Namun mereka membuka kemungkinan menyediakan unduhan individual jika minat publik dianggap cukup besar. Klaim ini langsung memicu kekhawatiran luas, terutama dari pemilik hak cipta dan pelaku industri musik.

Yoav Zimmerman, pendiri Third Chair, menilai bahwa terlepas dari langkah hukum atau takedown yang mungkin ditempuh, dampak awalnya sudah telanjur terjadi. Menurutnya, data yang sudah tersebar di jaringan peer-to-peer nyaris mustahil untuk ditarik kembali.

Dengan kapasitas penyimpanan memadai dan server media pribadi, siapa pun secara teori bisa membangun versi Spotify gratis mereka sendiri, dengan hambatan utama tinggal hukum hak cipta dan risiko penegakan.

Pihak Anna’s Archive menegaskan bahwa mereka tidak meng-host materi berhak cipta secara langsung, melainkan hanya mengindeks metadata yang diklaim bersifat publik. Meski begitu, sebagian pendukung proyek tersebut justru menyuarakan kekhawatiran bahwa aksi ini dapat memicu gelombang gugatan agresif yang berpotensi merusak proyek arsip lain yang dianggap lebih penting, terutama di ranah literasi.

Isu ini menjadi semakin sensitif di tengah berkembangnya teknologi kecerdasan buatan. Koleksi audio berskala raksasa tersebut berpotensi dimanfaatkan untuk melatih model generatif, termasuk menghasilkan karya tiruan tanpa izin. Risiko ini dinilai makin besar jika data tersebut digunakan oleh pihak di wilayah dengan perlindungan kekayaan intelektual yang lemah.

Dalam salah satu bagian situsnya, Anna’s Archive secara terbuka menyebut bahwa model bahasa dan AI sangat bergantung pada data berkualitas tinggi. Mereka mengeklaim telah memiliki koleksi teks terbesar di dunia, dan kini metadata serta file audio Spotify disebut dirilis secara bertahap berdasarkan tingkat popularitas.

Sementara itu, Spotify menyampaikan bahwa penyelidikan masih berlangsung. Perusahaan menyebut pihak ketiga melakukan scraping metadata publik dan menggunakan metode ilegal untuk menembus sistem DRM demi mengakses sebagian file audio.

Ke mana arah kasus ini selanjutnya, serta seberapa luas dampaknya bagi artis, label, dan ekosistem musik digital, masih menjadi tanda tanya besar.

Support Gigsplay Dengan Saweria

🙏 Terima Kasih Atas Dukungan Anda!

Dukungan Anda sangat penting dan membantu Gigsplay untuk mendukung musisi independen Indonesia.

✅ KLIK UNTUK DONASI
Pilihan mode pembayaran
Pilihan metode pembayaran
Berikan Komentar

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *