Music News

Perunggu Melanjutkan “Pertunjukan Dalam Dinamika” Ke Surabaya

Hadirkan Salma Salsabil dan Natassya Sianturi dari “Thee Marloes”

Diterbitkan

pada

Band Perunggu Jakarta

Ada sesuatu yang berubah dari cara Perunggu memandang panggung dalam beberapa waktu terakhir. Trio asal Jakarta ini kini tidak hanya melihat konser sebagai tempat untuk memainkan lagu-lagu mereka di depan penonton, tetapi juga sebagai pengalaman yang harus dinikmati secara keseluruhan.

Perubahan ini mulai terasa sejak konser “Pertunjukan Dalam Dinamika” di Jakarta tahun lalu, yang menjadi salah satu momen penting dalam perjalanan mereka. Semangat yang sama kini dibawa ke rangkaian tur yang akan menyambangi Yogyakarta, Surabaya, dan Bandung.

Pada 16 Mei 2026, Surabaya akan menjadi lokasi berikutnya dalam perjalanan ini. Bagi Perunggu, kota ini selalu memiliki suasana yang berbeda dibandingkan kota lainnya. Karakter penontonnya dianggap lebih ekspresif, kritis, dan terbuka terhadap eksplorasi musik yang tidak biasa.

Di Grand City Hall nanti, Perunggu tidak hanya akan memainkan materi dari album ‘Dalam Dinamika‘ atau lagu-lagu lama mereka. Mereka berusaha merancang ulang pengalaman konser dengan lebih matang, mulai dari tata visual, alur pertunjukan, hingga menjaga hubungan dengan penonton agar tetap terasa intim meskipun acara semakin besar.

Di tur ini, kami nggak cuma mengulang, tapi mencoba menyempurnakan. Kami lebih siap secara teknis, tapi juga lebih sadar bahwa yang penting itu bukan cuma tampil rapi, tapi bagaimana pengalaman itu terasa ke penonton,” ujar vokalis dan gitaris Maul Ibrahim.

Pernyataan tersebut cukup menggambarkan bagaimana Perunggu kini memikirkan konser mereka. Jika sebelumnya mereka dikenal dengan penampilan yang spontan dan hangat, kini mereka mulai memberikan perhatian lebih pada detail-detail kecil. Drummer Ildo Hasman menyatakan bahwa untuk pertama kalinya, mereka benar-benar memikirkan pertunjukan sebagai satu kesatuan utuh, bukan hanya kumpulan lagu yang dimainkan secara bergantian.

Dari dulu kami selalu serius, tapi skalanya yang terus membesar. Sekarang ini mungkin pertama kalinya kami benar-benar memikirkan pertunjukan secara menyeluruh. Dari lighting, visual, sampai flow antar lagu. Kami ingin ini terasa sebagai satu show yang utuh, bukan sekadar memainkan lagu,” kata Ildo.

Band Perunggu Album Dalam Dinamika

Meskipun produksi konser mereka kini semakin besar, Perunggu tetap mempertahankan elemen interaktif sebagai inti dari identitas mereka. Mereka masih percaya bahwa hubungan emosional dengan audiens adalah bagian terpenting dari sebuah pertunjukan musik.

Pandangan itu juga terlihat dari kampanye unik yang mereka luncurkan menjelang tur. Perunggu mengajak penonton untuk tidak terburu-buru mengunggah video konser ke media sosial. Bukan tanpa alasan, mereka ingin pengalaman menonton konser kembali terasa personal sebelum berubah menjadi konten digital.

Kami ingin penonton benar-benar menikmati momen. Tujuannya supaya pengalaman itu jadi personal dulu, baru nanti jadi memori,” jelas Maul.

Bagi Perunggu, Surabaya memiliki peranan yang sangat penting dalam perjalanan mereka. Basis pendengar di Jawa Timur telah berkembang pesat dalam beberapa tahun terakhir, termasuk dari kota-kota sekitar seperti Malang dan Sidoarjo. Menariknya, mereka merasa penonton di Surabaya sangat antusias terhadap lagu-lagu yang lebih kompleks secara musikal.

Surabaya itu menarik, karena energinya beda. Kami merasa penonton di sana cukup menikmati hal-hal yang secara musikal lebih kompleks. Bahkan beberapa lagu kami yang jarang dibawakan karena cukup ‘ribet’, justru mereka responnya bagus di sana,” ungkap Adam Adenan.

Maul menambahkan bahwa Surabaya juga menghadirkan tantangan tersendiri, terutama karena dinamika pasar konser di kota ini sering kali sulit diprediksi. Tapi justru itulah yang ingin mereka hadapi.

Surabaya itu bukan cuma kotanya, tapi juga mewakili area sekitar seperti Malang, Sidoarjo, dan sekitarnya. Kami punya basis pendengar yang cukup kuat di sana. Walaupun secara pasar konser katanya menantang, itu justru yang pengen kami coba pecahkan,” ujarnya.

Dalam tur kali ini, Perunggu juga membuka ruang kolaborasi dengan sejumlah musisi lintas karakter. Setelah sebelumnya tampil bersama Eross Candra dan Kunto Aji di Yogyakarta, mereka akan menghadirkan Salma Salsabil serta Natassya Sianturi dari Thee Marloes di Surabaya.

Kami senang bisa main bareng musisi yang kami kagumi. Ada keinginan untuk berbagi ruang dan memperluas pengalaman penonton juga,” tutur Maul.

Rangkaian “Pertunjukan Dalam Dinamika” nantinya akan ditutup di Bandung pada 23 Mei 2026 di Eldorado Dome. Tapi sebelum itu, Surabaya tampaknya akan menjadi salah satu titik paling menarik dalam perjalanan tur ini, sebuah tempat di mana Perunggu kembali menguji bagaimana musik, suasana, dan hubungan dengan penonton bisa bersatu dalam pengalaman yang lebih utuh.

Perunggu Pertunjukan Dalam Dinamika Surabaya

Support Gigsplay Dengan Saweria

🙏 Terima Kasih Atas Dukungan Anda!

Dukungan Anda sangat penting dan membantu Gigsplay untuk mendukung musisi independen Indonesia.

✅ KLIK UNTUK DONASI
Pilihan mode pembayaran
Pilihan metode pembayaran
Advertisement
Berikan Komentar

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *