New Albums
sadchurro Rilis ‘Everything Is Not Real’, Album Perdana Yang Paling Personal
Berselang empat tahun setelah kemunculan pertama, kini sadchurro siap memperkenalkan diri seutuhnya melalui album penuh perdana.
sadchurro akhirnya menjejak fase baru dalam perjalanan musiknya. Proyek yang digawangi Ganes Mardhika itu merilis album penuh pertamanya, ‘Everything Is Not Real‘, dan sejak Jumat (21/11) sudah bisa didengarkan di berbagai layanan streaming.
Ini bukan langkah yang tiba-tiba. Rilis album ini mengalir dari rangkaian proses panjang yang dimulai empat tahun lalu, ketika ia memperkenalkan “Blurry” pada 2021, lalu menguatkan arah musiknya lewat maxi-single “Ocean” di 2024, sebelum mencoba ranah lirik bahasa Indonesia untuk pertama kalinya lewat “Biarkan” pada pertengahan 2025.
Ganes bercerita bahwa perjalanan menuju album debut ini berlangsung tanpa tekanan. Ia sempat mengumpulkan begitu banyak ide yang belum terselesaikan, sampai akhirnya menyadari bahwa materi yang menumpuk itu layak dirangkai menjadi sesuatu yang lebih utuh. Ketika sedang mengerjakan “Ocean”, dorongan untuk membuat karya yang lebih besar mulai muncul. Dari situ ia mulai membangun fondasi ‘Everything Is Not Real’ sedikit demi sedikit.
Tema yang ia angkat juga datang dari ruang-ruang yang akrab bagi banyak orang dewasa: depresi, disosiasi, dan rasa terlepas dari diri sendiri maupun lingkungan. Menurutnya, nuansa itu tidak selalu harus ditolak. Ia mencoba menelusuri perasaan tersebut dan, dalam beberapa bagian, meromantisasinya. Ada upaya untuk menyelami pengalaman ketika semua terasa asing, atau ketika batas antara nyata dan semu mulai kabur.

Album ini memuat sembilan lagu. Dimulai dari “Liminal Dreaming” lalu bergerak ke “Biarkan”, “Blurry”, “Sink Me In The Ocean”, “Terminal 3”, “Satu Gelas Lagi” bersama Rasyiqa, “Cinema”, “I (Don’t) Wanna Be Alone” yang menampilkan Danilla dan Satan’s Heir, hingga ditutup dengan “(Somehow) I’m Not Already Dead”.
Keseluruhan track hadir dalam spektrum emo, dream pop, hingga sad pop, koridor yang sejak awal menjadi identitas sadchurro. Dari semua lagu itu, ia punya dua favorit: “Blurry” yang menjadi titik awal proyeknya, serta “I (Don’t) Wanna Be Alone” yang kini dijadikan fokus utama album setelah “Biarkan” lebih dulu dirilis sebagai single.
Tiga musisi ikut memperkaya warna album ini. Rasyiqa muncul di “Satu Gelas Lagi”, Danilla dan Satan’s Heir hadir dalam “I (Don’t) Wanna Be Alone”. Proses mengajak mereka berlangsung organik, bermula dari obrolan santai hingga akhirnya masuk ke eksekusi di studio.
sadchurro sudah membayangkan sejak awal bahwa “Satu Gelas Lagi” membutuhkan sentuhan vokal perempuan, terinspirasi dari format duet yang ia sukai seperti American Football dan Barefood. Sementara kehadiran Danilla dan Satan’s Heir muncul dari keinginannya untuk menghadirkan dinamika vokal yang lebih emosional.
Beberapa nama lain juga ikut membantu dari balik layar. Casey Leiwakabessy dari Heave duduk sebagai produser dan mengisi gitar. Dimas Jamal Mahdi dari Satria The Monster mengisi drum. Wisnu Ikhsantama memberi sentuhan synth pada “Cinema”, sementara Satan’s Heir juga terlibat sebagai co-producer untuk “Liminal Dreaming” dan “Cinema”. Pendekatan kolaboratif ini membuat album terasa kaya, tanpa kehilangan identitas personal yang ingin dijaga sadchurro.
Di ranah visual, ia mempercayakan prosesnya kepada Sara Alisha sebagai perancang logo. Vinodii menangani foto-foto artwork dan menggarap video musik “Biarkan”. Sementara Stella Marlena dan Reinhardt Reeves bertugas membuat video lirik untuk seluruh track. Hadirnya tim visual yang solid memberikan ruang bagi album ini untuk tampil utuh, dari audio hingga sisi estetikanya.
Bersamaan dengan rilis digitalnya, sadchurro sudah menyiapkan rangkaian agenda lanjutan. Ia berencana menghadirkan versi fisik, menggelar showcase, merilis merchandise, hingga menyusun tur. Namun yang paling ia tekankan adalah memanfaatkan setiap panggung untuk memperkenalkan materi album ini secara langsung kepada pendengar.
Ia berharap ‘Everything Is Not Real’ bisa berfungsi sebagai teman bagi siapa pun yang sedang membutuhkan jeda, pelarian, atau sekadar ruang untuk merasa didengar. Jika ada satu atau dua lagu yang bisa masuk ke pengalaman personal pendengarnya, bagi sadchurro itu sudah cukup.
Support Gigsplay Dengan Saweria
