New Albums

Silampukau Lanjutkan Epos Fiksi Lewat “Stambul Arkipelagia Vol. 2”

Diterbitkan

pada

Orkes Silampukau
Orkes Silampukau (credit: Iqbal Tawakal)

Pada bulan Mei yang lalu, Orkes Silampukau mengumumkan melalui situs resminya bahwa kelanjutan dari kisah ‘Stambul Arkipelagia’ tidak akan memakan waktu lama untuk dirilis. Janji tersebut akhirnya ditepati pada 5 November 2025 dengan peluncuran ‘Stambul Arkipelagia Vol. 2’, mini album yang terdiri dari lima lagu dengan durasi sekitar 20 menit, melanjutkan cerita musikal dari seri sebelumnya.

Di volume terbaru ini, duo asal Surabaya tersebut menghadirkan sejumlah kolaborator lintas disiplin yang memperkaya warna musik mereka. Salah satunya adalah Rio Sidik, maestro terompet kenamaan yang membuka album lewat “Blues Bunga Api (Dan Maut Kian Benderang)”.

Silampukau juga menggandeng dua pemain gesek handal: violinist Dika Chasmala yang kembali muncul dalam “Sentrapolis”, serta cellist Billy Aryo yang menutup album lewat “Masuk Angin”. Kehadiran para musisi ini memberi kedalaman tersendiri bagi lanskap sonik yang dibangun dalam dunia fiksi Arkipelagia.

Melalui proyek ini, Orkes Silampukau menciptakan kisah tentang sebuah negeri maritim bernama Arkipelagia, sebuah metafora distopia yang merefleksikan sisi kelam peradaban manusia.

Duo Silampukau EP Stambul Arkipelagia

Dalam keterangan resminya, Kharis Junandharu menggambarkan Arkipelagia sebagai “negeri amit-amit”, tempat masa lalu dan masa depan bertubrukan, dan kenyataan serta khayalan tak lagi punya batas yang jelas. “Epos ini kami tulis dengan satu harapan besar: agar tragedi hanya tinggal di ranah fiksi, tidak perlu merembes ke kehidupan nyata,” ujarnya.

Lewat situs resmi mereka, Silampukau juga menulis bahwa ‘Stambul Arkipelagia’ diharapkan bisa menjadi semacam pelarian singkat di tengah hari-hari yang terasa menekan. “Kami ingin karya ini dinikmati sedalam-dalamnya sebagai kisah fiksi. Sebuah pakansi kecil ketika kenyataan terasa terlalu berat,” tulis mereka.

Jika volume pertama mengeksplorasi perpaduan celtic folk dan dangdut, maka ‘Stambul Arkipelagia Vol. 2’ menghadirkan nuansa yang lebih berani: gabungan disko-manouche, punk, dan skala Phrygian yang jarang disentuh dalam musik folk lokal.

Kharis menyebut proyek ini sebagai “eksperimen musikal untuk bersenang-senang”, sebuah ruang bermain yang hanya mungkin lahir melalui konsep dunia fiktif sebesar sebuah negara. “Jika worldbuilding-nya harus seluas itu demi memberi ruang pada eksperimen kami, ya biarlah begitu,” tambahnya.

Silampukau

Eksperimen lintas budaya dan genre ini juga mereka kaitkan dengan semangat ‘Komedi Stambul’, tradisi hiburan panggung asal Surabaya yang telah berusia seabad. Menurut Kharis, semangat fusi trans-etnik itulah yang coba mereka teruskan dalam bentuk baru lewat ‘Stambul Arkipelagia’.

Seperti pada rilisan sebelumnya, visual album ini kembali dipercayakan kepada Redi Murti, seniman visual asal Surabaya yang telah menjadi rekan tetap Silampukau sejak era ‘Dosa, Kota, dan Kenangan‘. Produksi album ini dikerjakan oleh Tommy Respati bersama Moso’ Iki Records dan Stoopa Music, dengan proses mastering yang dilakukan oleh Barry Junius di Studio Prapen.

Kini, ‘Stambul Arkipelagia: Vol. 2’ sudah tersedia di berbagai layanan streaming digital, dan menjadi langkah baru dari epos musikal yang terus berkembang ini.

Silampukau adalah duo folk yang terdiri dari Kharis Junandharu dan Eki Tresnowening. Sejak dibentuk pada akhir 2009 di Surabaya, mereka dikenal lewat lagu-lagu akustik sederhana yang menceritakan tentang mimpi, protes, perjuangan, dan kehidupan sehari-hari warga kota, lagu-lagu yang menggambarkan kehidupan biasa dengan cara yang unik.

Support Gigsplay Dengan Saweria

🙏 Terima Kasih Atas Dukungan Anda!

Dukungan Anda sangat penting dan membantu Gigsplay untuk mendukung musisi independen Indonesia.

✅ KLIK UNTUK DONASI
Pilihan mode pembayaran
Pilihan metode pembayaran
Advertisement
Berikan Komentar

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *