New Tracks
The Alastair Tinggalkan Nuansa Rebellious Lama Di Single “Silence”
Setelah menghilang cukup lama dari peredaran, The Alastair akhirnya kembali dengan karya baru berjudul “Silence”. Single yang dirilis pada 1 Mei 2026 ini hadir setelah band tersebut vakum selama kurang lebih satu dekade. Kembalinya The Alastair terasa cukup mengejutkan, bukan hanya karena jarak waktu yang panjang, tetapi juga karena arah musik yang kini terdengar berbeda dari karakter mereka sebelumnya.
Selama ini The Alastair dikenal lewat warna psychedelic alternative yang kental dengan nuansa rebellious dan permainan atmosfer yang cukup gelap. Tapi di “Silence”, band yang dihuni Reuben Elishama (vokal/gitar), Alfa Polii (gitar), Deyna Parzada (bass), dan Aria Wijaksana (drum) justru memperlihatkan sisi lain yang lebih tenang dan reflektif.
Alih-alih menghadirkan ledakan gitar dan dinamika liar seperti karya-karya lama mereka, “Silence” dikemas dalam tempo yang lebih pelan dengan nuansa dream pop yang lembut dan emosional. Lagu ini terasa seperti ruang sunyi yang dipenuhi rasa rindu, kehilangan, sekaligus keyakinan untuk tetap bertahan di tengah jarak dan waktu yang memisahkan.

Secara lirik, “Silence” menggambarkan keteguhan hati dan kepercayaan terhadap seseorang meskipun keadaan perlahan berubah. Banyak hal yang tidak sempat terucap, tertinggal begitu saja saat waktu dan jarak menciptakan jarak emosional. Tapi di balik kesedihan itu, lagu ini tetap menyimpan harapan bahwa sesuatu yang hilang pada akhirnya bisa kembali selama masih ada keyakinan untuk mempertahankannya.
Nuansa tersebut terasa semakin kuat lewat aransemen yang minimalis dan emosional. The Alastair tidak mencoba memenuhi lagu dengan banyak lapisan instrumen. Mereka membiarkan ruang kosong menjadi bagian penting dari suasana lagu. Denting gitar yang samar, ritme drum yang tenang, serta ambience synth yang tipis membuat “Silence” terdengar intim tanpa kehilangan identitas atmosferik yang selama ini melekat pada mereka.
Salah satu hal menarik dari perilisan ini adalah keterlibatan Aria Wijaksana sebagai penulis utama lagu. Jika sebelumnya sebagian besar materi The Alastair berasal dari departemen gitar atau vokal, kali ini sang drummer mengambil peran sentral dalam proses kreatif. Perubahan ini memberikan warna baru bagi dinamika internal band dan membuka sisi musikal yang belum pernah mereka tunjukkan sebelumnya.
Dari sisi penulisan lirik, “Silence” juga terasa mengikuti bahasa generasi saat ini. The Alastair menggunakan campuran Bahasa Indonesia dan Inggris secara natural tanpa terdengar dipaksakan. Pilihan diksi yang sederhana membuat emosi dalam lagu terasa lebih mudah diterima.
Penggalan lirik seperti “Don’t cry not tonight, biarkan gelap memelukmu, if you’re breaking inside, kau tak harus kuat sendiri” menjadi salah satu bagian yang paling mencuri perhatian. Kalimat tersebut terasa personal dan relevan dengan banyak orang saat ini yang berusaha terlihat baik-baik saja di tengah tekanan hidup.
Kembalinya The Alastair lewat “Silence” memperlihatkan bahwa jeda panjang tidak membuat mereka kehilangan arah. Sebaliknya, mereka terdengar lebih matang dalam mengolah emosi dan suasana.
Band yang pernah menjadi bagian dari geliat skena indie di masanya itu kini hadir dengan karakter yang lebih tenang, tapi tetap mempertahankan identitas kuat yang membuat nama mereka begitu dikenal. “Silence” kini sudah tersedia di berbagai platform musik digital.

