International
The Belair Lip Bombs Rilis ”Again’, Gaya Rock Tanpa Basa-Basi
Kancah indie rock Australia kembali menunjukkan daya ledaknya, dan The Belair Lip Bombs berada di garis depan sebagai salah satu nama yang paling mencuri perhatian. Band asal Melbourne ini kini bernaung di bawah Third Man Records milik Jack White, dan lewat album kedua bertajuk ‘Again’, mereka membuktikan diri sebagai empat serangkai yang sedang berada di puncak kepercayaan diri.
Album ini penuh energi, emosinya langsung terasa, dan musik gitarnya memberikan kesenangan yang jujur tanpa terdengar terjebak nostalgia atau terlalu dipoles.
Sejak lagu pertama, “Again and Again”, mereka tak membuang waktu membangun suasana. Gitar fuzz yang pekat dipadukan ritme yang ketat memberi pijakan kuat bagi vokal Maisie Everett yang terdengar yakin tanpa harus berlebihan. Ada sikap santai di sana, tapi juga dorongan intensitas yang terus mengalir. Perpaduan tersebut mengikat perhatian sepanjang album, menciptakan daya tarik yang tidak mudah terlupakan begitu saja.

The Belair Lip Bombs (credit: Ian Laidlaw)
“Back of My Hand” dan “Hey You” memperlihatkan kemampuan mereka merangkai melodi yang renyah dengan tekstur kasar yang tetap terasa nyaman di telinga. “Back of My Hand” berkembang pelan, lapis demi lapis, sampai akhirnya mencapai titik ledak yang terasa sangat memuaskan.
Sementara “Hey You” hadir dengan denyut lincah berbasis synth yang memancarkan semangat post-punk, menyentuh referensi nama-nama legendaris macam Gang of Four tanpa kehilangan ciri mereka sendiri.
Salah satu kekuatan utama The Belair Lip Bombs adalah permainan kontras. Mereka dengan luwes bergerak dari ketegangan menuju pelepasan katarsis hanya dalam hitungan beberapa bar. Palette referensi mereka luas, dari Television dan The Rolling Stones hingga Sonic Youth dan The Strokes. Meski begitu, tidak ada satu pun bagian yang terdengar seperti tiruan. Mereka selalu sukses menemukan ruang baru di tengah pengaruh yang begitu besar.
“If You’ve Got the Time” memberi sedikit kelonggaran pada komposisi. Lagu ini menggoda pendengar lewat ritme yang lebih groovy, menghadirkan semacam ayunan ringan yang jarang muncul sebelumnya. Sementara itu, “Cinema” terdengar sebagai titik eksplorasi yang lebih berani, dengan tekstur suara yang saling bertumpuk dan membuka jalan menuju kemungkinan yang lebih luas di masa mendatang.

The Belair Lip Bombs (credit: Ian Laidlaw)
Hal yang membuat album ‘Again” menonjol adalah kesederhanaannya yang terarah. Album ini hidup karena keakraban para personelnya, karena energi yang mengalir spontan tanpa terjebak dalam kesempurnaan studio yang kaku. Bahkan ketika tensi mulai menurun di bagian akhir seperti pada “Burning Up” dan “Price of a Man”, intensitas emosinya tetap terjaga.
Jika ada yang patut dicatat sebagai kekurangan, mungkin hanya fakta bahwa album ini terasa terlalu cepat berakhir. Seolah The Belair Lip Bombs baru saja mulai memanaskan mesin kreatifnya. Tapi justru itu yang bikin mereka layak ditunggu.
‘Again‘ adalah rekaman yang penuh karakter dan berani tampil apa adanya, mempertegas posisi mereka sebagai salah satu band paling penting yang lahir dari scene indie Australia hari ini.

