Interview: Gairah Petaka untuk Skate dan Hardcore di Usia Lanjut

0
3228

Scene hardcore punk dan skateboard nampaknya memang sulit untuk menuju kata redup. Dimulai dari dekade 90-an hingga milenium lebih 15 tahun ini, dua hal tersebut selalu berjalan saling melengkapi. Skate tanpa hardcore punk, atau hardcore punk tanpa skate memang bukan padu-padan yang cukup serasi.

Keseruan-keseruan para pelaku dua hal tersebut juga selalu meninggalkan bekas yang sulit untuk dilupakan. Termasuk para veteran yang sudah terjun sejak awal berkembangnya era skateboard dan hardcore hingga kini yang sudah modern-ish.

Selalu ada cara untuk mengingat-ingat masa kejayaan tersebut. Faktor usia yang tidak muda lagi serta stamina yang kian turun, tidak menyurutkan semangat Rully Annash, Unbound, Wawan dan Yoga untuk kembali menyiarkan cerita tentang hura-hura memutar lagu 7 Seconds yang menjadi backsound mereka berseluncur bebas saat belia dulu.

Keringat maksimal yang keluar saat berada di tengah moshpit ketika menikmati band-band lokal beraksi di beberapa tempat yang kini telah menjadi artefak, juga coba direka ulang oleh empat kawanan kawakan itu.

Rully Annash, Unbound, Wawan dan Yoga belum lama ini membentuk grup skaterock bernama Petaka. Berbasis di Jakarta, Petaka langsung menebar api berjudul “Hardcore Akhir Pekan” dan “Malapetaka”.

Dibentuk oleh para individu yang sudah kenyang pengalaman di dunia musik dalam negeri, Petaka diakui sebagai proyek yang santai tapi jauh dari kata main-main.

Dalam sebuah sesi interview yang santai, Rully Annash pun tidak segan untuk membocorkan beberapa hal terkait Petaka serta rencana mereka kedepannya.

Berhati-hati lah kalian yang masih sekitaran 20, karena mereka yang kini sudah lampaui angka 30 siap membuat kalian meluncur dan terbang di arena moshpit lewat repertoar durasi singkat yang berdaya ledak mutakhir.

– Hmm, pertama. Sebetulnya ide awal membentuk Petaka ini datang darimana ? saat The Brandals sudah resmi vakum atau menjelang vakum sudah terpikir untuk membuat sebuah side project ?

Gue sama si Unbound (Speedkill) itu udah kenal lama. Dan setelah The Brandals narik rem tangan, beberapa Kali gue ketemu doi di gigs, dan kita main skate bareng di Rossi.

Dari situ gue ajak dia buat bikin Petaka. Dia rekomen si Wawan untuk main bass, yang which is gue juga udah kenal, jadi aman. Nah, gitarisnya nih, somehow, gue kepikiran si Yoga (Zoo Temple). Gue tanyain mau atau enggak ikutan main di Petaka. Eh ternyata mau.

Simple sih, yaudah setelah itu atur waktu ketemuan sama yang lain. Boom, next thing you know, kita udah ada di dalam studio bikin lagu.

– Kalau untuk proses kreatif di Petaka, biasanya bagaimana tuh Rul ?

Kalau bikin lagu, mostly di dalam studio, jamming gitu. Tapi, kadang kala kalau salah satu dari kita ada kunci lagu, rekam dikit, terus kirim ke yang lain via email. Nanti begitu masuk studio, baru disempurnain.

Kalau lirik kebanyakan kita serahin ke Unbound sih. Gue ada sih nyumbang 2 atau 3 lirik gitu. Itu juga kalau cocok dimasukin ke dalam lagu, hahahha.

Point-nya gitu lah kira-kira proses kreatifnya. Dan untuk artwork juga porsinya kita membebaskan si Unbound.

– Ke depannya, apa rencana Petaka perihal rilisan ? ada niatan ep atau bahkan langsung album setelah kalian rilis dua lagu di Soundcloud ?

Insya Allah kita akan rilis debut album. Sebelum puasa deadline-nya udah harus release. Dan nanti akan di rilis dalam format 7″ vinyl, CD sama kaset.

– Sejauh ini sudah sampai mana tuh pengerjaannya ?

Udah hampir 50% lah pengumpulan materi buat album ini.

– Kenapa kalian milih titel Destroy 2015 ?

Destroy 2015 itu kira-kira gini nih, kita udah pada cukup berumur nih kan, hahahaha. Tapi tetap main skate, sepedahan dan nge-band bawain hardcore punk. Boleh lah kayaknya buat seumuran kita nge-destroy panggung lagi, bareng sama young guns yang ada saat ini.

– Kalau ditanya, Petaka ini sebetulnya itu band yang memang diniatin untuk serius sejak awal atau sekedar proyek happy-happy sih, lo bakal jawab apa ?

Hahahaha, Petaka itu happy-happy tapi serius. Tapi karena personil Petaka itu punya band-band utamanya masing-masing, jadi ya kita tahu porsi sih.

Kayak misalnya sekarang Speedkill lagi mau rekaman album baru, kita tahu porsi. Gue pribadi kalau ditanya gimana kalau nanti The Brandals mulai manggung lagi, gue belum mau mikirin. Mau gas di Petaka dulu aja fokusnya kalau sekarang.

– Kalau untuk lagu ‘Hardcore Akhir Pekan’, apa yang coba lo dedikasikan lewat lagu tersebut ?

Di era 90-an dulu, setiap sabtu atau minggu, lo pasti bakalan banyak ngabisin waktu weekend lo untuk nangkring di Poster Cafe atau M Club sampai HD Cafe sebelah kampus Jayabaya kalau lo emang suka hardcore punk dan tinggal di Jakarta.

Itu semuanya selalu ada gigs band-band hardcore, punk, metal, ska, so call underground music. Nah, kita kayak kangen masa-masa itu yang kayaknya udah enggak ada di generasi sekarang. Mungkin, sekarang cuma Rossi, legacy dari era itu.

Nah di era itu semuanya bareng. Gue jamin kalau lo besar di era tersebut, lo pun sesekali pasti Aada kangennya sama momen-momen tersebut. Nah, Hardcore Akhir Pekan itu kita dedikasikan untuk momen bersejarah itu.

– Petaka seakan memberi pesan kepada para punk rockers dan skateboarder yang kini berusia lanjut untuk kembali berhura-hura mengingat masa kejayaan tempo hari. Banyak menemui fenomena tersebut berarti ya di lingkungan sekitar kalian ?

Hahaha, iya banget. Apa lagi dunia kerja gue, Unbound sama Wawan. Intinya cuma satu kalau sekarang, yang penting sehat, udah itu aja kuncian penting dalam hidup kita semua.

Kita kayak mau jadi bargain koordinasi lapangan buat teman-teman seumuran yang memang dulunya suka main skate dan music hardcore sama punk. Biar itung-itung olahraga aja.

Secara waktu untuk workout exercise kan udah agak susah, cuma menurut gue, kalau lo ngelakuin sesuatu itu dengan passion, bakalan beda semuanya. Karena itu yang kita rasain saat ini.

– Seberapa seru skateboard dan hardcore punk menurut kalian sehingga kalian menolak lupa dan ingin terus bersenang-senang di fase tersebut ?

Gokil, merugilah orang-orang yang masa remajanya gak disetubuhi sama 4 roda papan luncur. Dari main skate gue bisa tau banyak hal, hardcore punk itu jodohnya ya sama skateboard. Karena apa ? anger, passion, guts, freedom, rebel semuanya jadi satu dikedua hal itu, plus, tampilannya, ada gitu yang salah sama gayanya anak skate dan hardcore ? hahahahaa, timeless man.

Selamanya, mau sampai generasi kapan pun bakalan tetap ada tampilan tersebut. Girls, dig skaterboy, hahaha.

Kita juga bukan yang jago-jago amat kok main skateboard, cenderung cupu malah. Cari keringet dan pompa adrenalin aja biar sigap lagi, hahaha. Nah, fase dimana cuma lo dan papan lo melayang, lo pop it, atau cuma sekedar jalan-jalan diatas board juga. wih, enggak kebayang man, lo kayak ‘Young Till I Die’ kalau kata 7 Seconds mah, hahahaha.

– Terakhir. Gue coba tebak ya Rul, di album mendatang, Petaka enggak akan punya lagu dengan durasi diatas 2 menit kan ?

Aslina, engak akan ada lah lagu durasi 2 menit. Leleus jow, nakolna tarik.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here