Interview: Vincent Vega: “Anggap Kami Band Baru”

0
5672

Vincent Vega kembali. Grup musik asal Bandung yang lagu-lagunya dulu sering kita dengar dan sempat menghilang selama kurang lebih dua tahun karena ditinggal oleh sang vokalis, Ariel William Orah, ke Jerman. Selama dua tahun itu pula mereka mencari jati diri. Mempertanyakan apa yang telah mereka raih. It takes one to know one. Di saat meraih sesuatu, pasti akan kehilangan sesuatu juga. Hebatnya, mereka juga mempertanyakan apa yang telah mereka lupakan.

Butuh waktu lama untuk mencari hal tersebut. Karena dulu, mereka telah melupakan hal yang sangat fundamental: alasan Vincent Vega tercipta dan alasan mereka berkarya. Sekarang, Vincent Vega telah mendapatkan kembali alasan fundamental tersebut. Mereka siap untuk hadir di tengah-tengah skena musik di Bandung.

Grup musik yang mengambil namanya sebagai identitas dari karakter film yang disutradarai oleh Quentin Tarantino, Pulp Fiction, datang dengan formasi baru tapi tetap dengan rasa yang lama. Satu hal mungkin yang tidak akan berubah, mereka akan menjadi Vincent Vega dengan ideologi yang memandang kalau bermusik adalah untuk bersenang-senang.

Ikut melihat sesi Vincent Vega latihan di Studio Musik Santana di Segitiga Emas, hari Minggu (21/9), saya dan dua orang teman saya, Aditya Denieros dan Dimas Putra, yang merupakan penggemar Vincent Vega belajar banyak tentang apa yang dibutuhkan sebuah band untuk berkarya dan juga bagaimana cara untuk mempertahankan hal itu. Mereka juga berbagi pandangan mereka tentang perbandingan skena musik di Bandung. Wawancara berlangsung kurang lebih satu jam di tempat El melakukan perpisahannya, Potluck. Suasananya pun sangat menyenangkan karena mereka selalu bercanda di setiap kesempatan, walaupun bahasannya serius.

Posisi gitaris di Vincent Vega masih diisi oleh Fikri Hadiansyah (Fikri) dan M. Saugan Najib (Sogan). Mereka sekarang ditemani oleh Rhesatama Anthony Orah (Eca) di bagian vocal yang merupakan adik El, kemudian ada Aulia Ramadhan (Aul) di bass dan Aryo Bangundityo (Aryo) sebagai pemain drum. Merevisi kalimat pembuka saya: Vincent Vega datang!

– Sebentar lagi ulang tahun Bandung, tanggal 25 September, apa pendapat kalian tentang Bandung?

Fikri: Agak susah. Sekarang banyak hal yang tidak sinkron antara Pemerintah Daerah dan warganya. Kelihatan kan macet terus, kemudian sampai ada 8 acara minggu lalu dalam satu hari di Bandung. Maksudnya nggak ada koordinasi dengan warganya. Tidak menyenangkan buat berkendara karena macet di mana-mana.

Sogan: Dulu itu gue selalu menunggu weekend ke Bandung, sekarang nggak. Selama kerja di Jakarta selalu ke Bandung seminggu atau dua minggu sekali. Sekarang Bandung gue melihatnya seperti sedang transisi menuju kota metropolitan tapi belum didesain untuk itu juga masyarakatnya. Contohnya kalau lagi macet di Jakarta, dari aspek berkendara, orang-orang di sana tahu cara mengatur supaya tertib. Banyak tempat yang tiba-tiba ramai banget. Jadi gue kalau ke Bandung murni untuk ketemu teman-teman. Dulu kan ingin cari suasana yang lebih tenang.

– Untuk scene musik sekarang, bagaimana di Bandung?

Fikri: Sebenarnya, untuk scene musik di Bandung, scene musik tertahan. Nggak ada fasilitas dari aparat-aparat, apalagi polisi susah banget memberikan izin kalau mau buat acara. Misalnya, gue udah bikin lagu tapi jadi bingung mau manggung di mana. Sekarang yang manggung ya itu-itu lagi. Tipe musiknya itu-itu lagi dan variasinya nggak sebanyak dulu. Sekarang, kondisi masyarakatnya sudah bagus tapi istilahnya pemangku kepentingannya kurang. Walaupun sudah ada Taman Musik tetap aja, izinnya gampang nggak sih di situ? Hal-hal kecilnya tidak diperhitungkan dan terlalu mementingkan “bungkus”. Bandung seperti tidak punya common goal, musiknya juga. Sekarang sudah masing-masing tujuannya dan tidak punya satu tujuan yang sama. Dulu orangnya punya kebersamaan, meskipun itu klise.

Sogan: Kalau diingat-ingat, dulu kulturnya acara itu rutin dan ramai. Radio-radio menjadi sarana, ada TRL juga. Kemudian, menurut pengamatan gue, tiba-tiba sponsor besar masuk dan entah kenapa orang jadi tergantung gig-gig gede itu. Kemudian malah makin banyak acara instan, mungkin kalau panggung band kan ribet, jadi makin banyak DJ-DJ, rave party, akhirnya membuat acara kecil yang rutin itu sepi. Common ground hilang.

Fikri: Analoginya area pembibitannya nggak diperhatikan. Peternakan ikan. Ada pembibitan dan pembesaran. Fokusnya ke pembesaran dan nggak menjaga pembibitannya. Jadi, ketika yang besar sudah jalan sendiri, hulunya tidak diperhatikan. Perkembangannya ya scene musiknya nggak ke mana-mana. Ya itu, generasi senang-senangnya juga berkurang.

– Apa alasan kembalinya Vincent Vega dalam scene music yang sekarang? Posisinya ingin meramaikan atau jadi terobosan?

Fikri: Ingin bersenang-senang. Mau mencari alasan lagi apa yang membuat gue seneng di Bandung. Lalu, di scene musiknya juga ada varian lain yang kenceng sedikit lah. Sekarang musik kenceng siapa? The S.I.G.I.T? Mereka kalau manggung harus yang gede. Kita ingin mencari ulang kenapa sih kita mau ngeband. Tidak mengajari, tidak mengajak. Tujuan mulianya mungkin menginspirasi, tapi ya ini buat kesenangan kita aja. Mudah-mudahan orang ikut senang. Kita tidak menganggap Vincent Vega sebagai penyelamat scene. Ini cuma sebagai saluran kita buat bersenang-senang.

Eca: Menyinggung kultur ya, gue waktu SMA lihat kakak gue ngeband ya pengen ngeband. Sekarang kok lebih mudah orang pengen solo atau nge-DJ, gue sih nggak nyalahin scene itu, namanya musik semua bisa masuk. Tapi, kenapa DJ set sekarang lebih mudah masuk, tiap malam minggu anak-anak muda ngumpul di club. Intinya nggak jauh dari minum sama cewek kan. Hilang sudah keinginan untuk ngeband. Gue sendiri dan beberapa orang di Bogor melihat Bandung itu masih tempat yang baik untuk menyalurkan kreativitas. Jadi, kenapa nggak scene yang dulu gue kangen gue main sekarang? Bandung punya figur Ridwan Kamil yang mengajak Bandung harus kreatif, terlepas dari Pidi Baiq bilang dia seorang mafia kreativitas. Nah, di band kita belajar untuk menggabungkan kepala-kepala. Sudah harus dibudayakan lagi. Ini bukan tentang gue mau nyelamatin Bandung atau apa, gue sih nggak terlalu peduli sama hal itu, cuma at least kalau lihat Bandung ya kayak dulu. Orang tuh segan band dari Bandung. Gue sih appreciate banget sama orang Jakarta yang benar-benar mencari tanpa harus punya rasa untuk mengalahkan Bandung atau Jogja. Tapi mereka jadi.

Fikri: Tidak berjalannya scene musik di Bandung mungkin dari sisi komunalitasnya. Dulu orang Bandung komunal, senang berkumpul, senang sama-sama. Akses ke Jakarta sekarang lebih mudah pasti lebih mudah terpapar sama kultur Jakarta yang individualistis. Bukan nyalahin Jakarta juga. Jadi, sekarang gue mengerjakan sesuatu ya buat gue sendiri tapi kepentingannya kepentingan umum. Ingat lagi kesamaan kita sama-sama ingin senang-senang, bukan untuk kompetisi antar scene. Semua musik pada akhirnya pilihan pendengar suka atau nggak, nggak ada musik jelek, nggak musik bagus, nggak ada benar salah.

Eca: Dikutip dari pernyataan Bens Leo kalau nggak salah, musik kita turun kreativitas atau cara bermainnya. Di YouTube banyak banget yang ngekover lagu orang, sebenarnya bagus, tapi kenapa nggak bikin set sendiri. Kenapa harus orang yang mikirin terus kita ikutin. Jangan begitu lah.

Fikri: Gue terlibat sama buku ‘Cetak Biru Industri Kreatif’. Membahas bagian industri musik. Isunya adalah hak cipta. Sedangkan kalau lo tanya orang Bandung, mereka nggak peduli sama itu. Mereka mau senang-senang aja. Bikin lagu juga nggak ada pikiran untuk dijual kok. Cuma untuk memperlihatkan kepribadian gue tuh kayak gimana lewat lagu. Band gue kayak gimana dari sebuah lagu. Sekadar itu aja, tapi ada dampak komersial yang banyak nggak siap. Ngeband itu bisa dapat exposure yang besar ternyata. Membuat lupa roots ngeband itu apa. Arus utama malah mengkomoditaskan apa yang disebut so-called-indie, dijadikan simbol. Padahal dulu tuh independen itu cara menjalankan, ada kebebasan di situ. DIY.

– Apa perbedaan Vincent Vega dulu dan sekarang?

Sogan: Personilnya. Kemudian, Vincent Vega yang sekarang lebih santai. Salah satu hal yang membuat kita “hilang” dulu ya karena ambisi. Main di panggung besar jadi motivasi utama kali ya. Intinya kalau kita sudah terlalu tinggi berharap dan memberi target ya jadi banyak hal-hal yang bikin kecewa. Dari band ke scene, antar personil, atau keadaan si band itu sendiri. Kita kan vakum karena ada faktor yang sifatnya internal dan kehidupan. Tapi kan kita masih ingin jalan terus dan butuh waktu lama untuk sadar kalau motif ngeband itu bukan pencapaian setinggi apa dan kita ingin mulai lagi karena ingin senang-senang, ingin berkarya, ingin berkegiatan lagi. Sesimpel itu. Jangan dianggap Vincent Vega comeback ada sesuatu misi. Tapi karena baru ada kesempatan. Semuanya sudah settle di kehidupan masing-masing. Jadi lebih gampang mengatur masing-masing.

– Jadi, sebenarnya 2 tahun itu mencari alasan?

Fikri: Iya, bertanya ke diri sendiri aja. Banyak kemalangan-kemalangan yang terjadi buat Vincent Vega banyak hal yang tidak sepele, itu dirasakan personil yang dulu. Sebenarnya tujuan kita ini mau ngapain sih? Nah ini yang berusaha diformulasikan dan pada akhirnya yang ditemukan adalah kembali lagi ke asal. Kita menyebutnya Vincent Vega kayak band baru lagi deh. Soalnya banyak jebakan-jebakan seperti ekspektasi dan ambisi yang bisa jadi bumerang.

– Untuk showcase pertama, tanggal 19 Oktober nanti menyiapkan surprise nggak?

Fikri: Paling lagu-lagu yang belum terpublikasikan secara luas. Intinya nggak ada yang spesial sih. Hal yang spesial adalah orang-orang baru ini.

– Untuk personil baru, apakah jadi beban?

Aul: Kalau gue sih beban. Soalnya ada celetukan dari teman, ketika diajak gabung Vincent Vega. Dari dulu juga sudah suka. Awalnya dari fans, jadi kru, sampai akhirnya jadi personil. Nah, celetukannya teman itu, “Ul, naha? Maneh asup Vincent Vega jadi nggak jalan band-nya?” (Ul, kenapa lo masuk Vincent Vega jadi nggak jalan band­-nya? – red.) Wah, ini lumayan beban sih. Untung sekarang udah bisa jalan lagi, jadi udah bisa jawab pertanyaan itu.

Eca: Beratnya sih.. El di musik kan punya perspektif kalau hidupnya dia adalah liriknya. Gue juga mungkin sama jalurnya, gue sama dia kan kakak-adik, sama-sama gila tapi bedanya dia lebih gila dari gue. Mungkin mind setorang Vincent Vega kembali, El kembali. Waktu El cabut pun udah diproyeksikan gue yang bakal gantiin tapi kok nggak jalan. Sama sih kayak Aul bebannya. Tapi, senangnya di sini waktu elder-elder ini, senior-senior ini, bilang kalau Vincent Vega band lama tapi jangan lihat harus sama kayak El, jadi diri sendiri aja. Nah itu cukup meringankan beban sih. Jadi buat nanti, no hard feeling, Vincent Vega yang sekarang ya Vincent Vega yang dibawa gue.

Aryo: Sebenarnya karena gue lebih jago dari Rangga jadi nggak takut. (Tertawa). Jadi kebetulan gue masuknya pada saat transisi kan waktu itu, sedikit lebih dulu dari Echa dan Aul dan sudah lebih lama mengetahui kondisi Vincent Vega dan orang-orangnya. Masalah beban sih sebagai sebuah band anggap saja gak punya pretensi apa-apa. Band ini bukan buat nyari beken tapi buat nyari manggung.

Fikri: Kalau gue sih masih konservatif memandang sebuah band bagus atau nggak ya di panggung. Rekaman bisa bagus di mana pun. Pada akhirnya, core activity sebuah band itu manggung. Waktu itu gue pernah manggung di Jatinangor, acara KMF (Komunitas Musik Fikom) Unpad. Banyak yang belum tahu lagu Vincent Vega, tapi semuanya moshing. Nah orang-orang kayak begitu sebenarnya yang ingin senang dan nggak peduli yang gue ingin perdengarkan lagunya.

– Pertanyaan buat satu-satu nih, sekarang lagi mendengar lagu siapa?

Eca: Sempat rusak nih karena musik-musik sekarang, jadi sekarang dengar Perfect Circle, Primus, RATM juga didengar lagi.

Fikri: Buat kesenangan sendiri band dulu sih. Karena suka At the Drive-in, jadi sekarang dengerin Antemasque. Buat yang cross genre, Miley Cyrus. Gue pribadi masih dengar yang sekarang, kayak Justin Timberlake kalau enak. Rita Ora dan Sia gue masih dengar. Tapi, yang kerasa banget buat gue ya Antemasque bisa dibilang cukup mempengaruhi soalnya mengikuti mereka dari The Mars Volta. Metal ya paling Mastodon.

Sogan: Mirip-mirip sih. Karena gue mulai Vincent Vega ya banyak yang sama kayak Fikri. Sekarang sih Queen of the Stone Age, terus Antemasque dan Mastodon. Terus lagi suka ini nih, Lily Allen. Brody Dalle juga sekarang solo. Alain Johannes.. Terus Lorde dan Chvrches juga! Soalnya kan gue kerja naik bis, jadi playlist-nya yang santai.

Aryo: Sekarang lagi dengar album barunya Interpol! El Pintor.. Belajarlah biar kau pintor. (Tertawa lagi). Apalagi ya, sama kayak Sogan, sekarang lagi Queen of the Stone Age. Akhir-akhir ini lagi dua band itu aja. Untuk pengakuan dosa, kalau Sogan punya Lily Allen, gue punya Wonder Girls.

Aul: Sekarang lagi suka banget sama Spoon. Indie rock gitu, simpel. Terus lagi dengar Royal Blood. Antemasque juga. Baru dengar Cat Power sih… telat.

– Ada rencana buat album nggak?

Fikri: Nggak pernah menutup kemungkinan sih. Tapi, sekarang fokusnya ya senang-senang aja, santai dulu. Berkaca dari album pertama, kita juga nggak mempersiapkan albumnya secara proper. Kayak sekarang aja kalau ditanya mau beli album Vincent Vega di mana, gue nggak tau di mana padahal diproduksi banyak. Kalaupun buat album ya harus diurus lebih baik. Adaptasi dulu.

Sogan: Dulu pun sudah berniat bikin lagu, sudah ada beberapa lagu yang di-take. Itu dulu, balik lagi dulu masih punya visi begini begitu, ambisi begini begitu, jadi sekarang masih membuka kemungkinan lain. Lihat nanti.

Fikri: Dulu juga jadi pertanyaan sekarang. Buat apa sih ngetake-nya? Padahal belum perlu. Jadi sekarang dienakin dan dimatangkan dulu.

– Pertanyaan terakhir nih, siap nggak nanti-nanti dapat pertanyaan kenapa namanya Vincent Vega? Nggak mau ganti nama jadi Jules Winnfield?

Fikri: Siap dan nggak mau ganti. Sudah suka sama Vincent Vega. Imej dia di Pulp Fiction sudah bagus. Dulu sih, mengejar ke imej itu, tapi sekarang, ya udah itu nama band kita.

Aul: Sebenarnya secara karakter sih sekarang sudah sesuai sama Vincent Vega yang di film. Slengean, cuek, dan konyol.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here