New Tracks
24 Degrees Bangun Identitas Rock Modern Melalui “Sesal”
Yogyakarta kembali menunjukkan kenapa kota ini disebut sebagai salah satu titik vital musik independen di Indonesia. Di tengah banyaknya musisi yang terus berputar dengan energi dan semangat baru, muncul satu nama yang kini ikut memperluas peta: 24 Degrees. Kuartet modern rock ini baru saja memperkenalkan diri lewat single debut berjudul “Sesal”, sebuah karya yang memadukan nuansa futuristik dengan emosi yang kuat dan personal.
Beranggotakan Yopi (vokal), Bektigun (gitar), Sunnah (bass), dan Aline (drum), 24 Degrees memulai langkah perdananya dengan lagu yang berbicara tentang sesuatu yang sangat manusiawi: penyesalan.
“Sesal” menggambarkan momen ketika seseorang sadar telah salah melangkah, terjebak dalam hubungan yang mengekang, lalu akhirnya menemukan keberanian untuk keluar dan memperbaiki diri. Yopi menyebut bahwa lagu ini bisa jadi cermin untuk siapa pun yang pernah berada di posisi itu.
“Banyak dari kita belajar lewat kesalahan. Kadang baru sadar setelah menyesal. Lagu ini bicara tentang proses itu, bahwa menyesal bukan akhir, tapi jalan menuju kedewasaan,” katanya. Sunnah menambahkan, liriknya dimaksudkan sebagai pengingat agar orang lebih bijak ketika memilih, terutama dalam hubungan personal.
Secara kreatif, “Sesal” berangkat dari ide lirik Yopi dan notasi dasar dari Sunnah. Prosesnya lalu dikembangkan secara kolektif bersama Bektigun dan Aline di sesi workshop studio. Namun 24 Degrees merasa perlu menghadirkan sentuhan profesional untuk memastikan hasil akhir terdengar matang.
Mereka lalu menggandeng dua nama yang sudah tak asing di dunia produksi musik independen: Abraham Mico dari Pleasure Seekers sebagai pengarah aransemen dan Sasi Kirono (Smarai) sebagai penata mixing dan mastering. Seluruh proses rekaman dilakukan di Satrio Piningit Studio, Yogyakarta.
Kelahiran 24 Degrees cukup spontan. Mereka terbentuk pada 17 Agustus 2025, berawal dari pertemuan tak sengaja antara Bektigun, Sunnah, dan Aline yang sudah lama tak bermain musik bersama, terakhir kali sekitar satu dekade lalu.
Dari perbincangan santai itu muncul ide untuk kembali berkarya, lalu nama Yopi direkomendasikan sebagai vokalis. Visi musikal mereka langsung menyatu, didorong oleh kecintaan yang sama terhadap rock dan emo. “Kita ketemu lagi dalam momentum yang pas, sama-sama ingin main musik tanpa tekanan, tapi tetap serius,” ujar Bektigun.
Menariknya, latar belakang keempat personel tidak semuanya berasal dari dunia musik. Aline kini bekerja sebagai kontraktor, Bektigun menjalankan usaha konveksi, Yopi aktif sebagai traveler dan dokumentator visual, sementara hanya Sunnah yang berprofesi sebagai pengajar musik.
“Justru itu yang bikin seru,” kata Aline. “Kita datang dari jalur yang berbeda, tapi musik jadi tempat untuk menyalurkan energi, supaya nggak cepat tua. 24 Degrees semacam alter ego, ruang buat bersenang-senang dan tetap kreatif.”
Setelah “Sesal”, 24 Degrees tidak ingin berhenti di satu lagu saja. Mereka sedang menyiapkan mini album berisi lima lagu yang ditargetkan rampung akhir 2025. EP ini akan jadi bentuk konkret dari komitmen mereka terhadap musik rock yang terus berkembang di Yogyakarta.
“Album itu monumen bagi musisi. Kalau cuma satu dua lagu, orang cepat lupa. Kami ingin meninggalkan jejak yang lebih utuh,” kata Bektigun.
Konsep yang diusung untuk mini album mereka menggabungkan tema romance dengan energi rock yang tajam: distorsi gitar dan bass yang tegas, ritme drum yang bertenaga, serta vokal yang penuh rasa. Setelah EP dirilis, mereka berencana melakukan tur kecil ke beberapa kota di Jawa sebagai cara memperkenalkan diri langsung ke publik.
“Kami ingin membangun koneksi lewat panggung-panggung kecil, yang justru sering punya kedekatan paling jujur antara band dan penonton,” tambah Bektigun.
“Sesal” kini sudah tersedia di berbagai platform musik digital seperti Spotify, Apple Music, dan Deezer. Versi video lirik dan video musiknya juga akan segera tayang di kanal YouTube resmi 24 Degrees Band.
Melihat semangat dan arah yang mereka tuju, 24 Degrees tampak siap menambah satu lagi alasan kenapa Yogyakarta selalu punya cara baru untuk melahirkan band rock yang berkarakter.
