International

Album Debut ‘echoes of self’, Ruang Introspektif Baru Dari counterglow

Profile photo ofrafasya

Diterbitkan

pada

counterglow

Duo alt-pop asal Hamburg, counterglow, resmi merilis album debut mereka bertajuk ‘echoes of self‘.Proyek kolaboratif ini digawangi oleh dua musisi independen, Lauren Goodley dan Jonas Grell, yang selama ini bergerak di jalur kreatif masing-masing sebelum akhirnya bertemu dalam satu visi musikal yang sama.

Dalam ‘echoes of self’, counterglow menciptakan spektrum bunyi yang luas, mulai dari dream-pop, indie-soul, hingga sentuhan psikedelia modern, dengan lapisan synth yang lembut dan groove jazzy. Vokal yang halus dan bergaung berpadu dengan tekstur suara yang unik, menciptakan suasana yang intim.

Musik mereka menggambarkan pengalaman seperti berlari di ladang bunga yang cerah, lalu perlahan terlepas dari gravitasi dan melayang ke angkasa, sebuah perjalanan emosional yang mengalir dengan bebas.

Menariknya, ‘echoes of self’ awalnya tidak direncanakan sebagai album penuh. Proyek ini dimulai dari eksperimen santai di malam hari, tanpa target lain selain menikmati proses berkarya. Tapi lagu pertama yang mereka tulis bersama, “soon”, menjadi titik balik. Dari situ, keduanya menyadari bahwa ada sesuatu yang lebih besar dari sekadar sesi iseng di studio, dan ide untuk melanjutkan proyek ini tumbuh secara alami.

Pada tahap awal, lagu-lagu tersebut sempat direncanakan dirilis atas nama Lauren, dengan Jonas berperan sebagai produser. Seiring waktu, batas peran itu memudar. Proses kreatif yang semakin intens membuat keduanya melihat proyek ini bukan lagi kolaborasi sementara, melainkan sebuah band dengan identitas kolektif. Dari situlah nama counterglow lahir, sebagai representasi dari ruang kreatif bersama yang terasa utuh.

duo counterglow

Secara tematik, ‘echoes of self’ merekam peta emosional masa dewasa awal. Album ini mengangkat tema tentang tekanan untuk berhasil, kecemasan, overthinking, rasa sepi, proses menemukan cinta, belajar melepaskan kendali, hingga akhirnya berdamai dengan diri sendiri.

Setiap lagu memantulkan dialog batin yang berulang, keraguan, pertumbuhan, dan penerimaan. Album ini terasa seperti catatan perjalanan menuju kesadaran bahwa seseorang berada tepat di tempat yang seharusnya.

Secara musikal, album ini bergerak luwes dari lanskap bunyi yang etereal hingga nuansa hangat indie-soul dan eksplorasi synth psikedelik. Pengaruh dari nama-nama seperti Tame Impala, Beach House, SAULT, Blood Orange, Crumb, Cleo Sol, Raveena, hingga The Marías terasa samar, tapi tetap menjaga karakter unik counterglow.

Ke depannya, counterglow juga telah memberikan sedikit bocoran tentang langkah berikutnya. Mereka sedang mengerjakan proyek kedua yang lebih ambisius, sebuah album konsep yang mengeksplorasi pertemuan antara synth-pop dan indie rock.

Apakah ini akan dirilis sebagai album penuh atau dua EP masih dalam pertimbangan, tetapi satu hal yang pasti, tahun 2026 akan menjadi tahun yang sibuk bagi counterglow dengan banyak musik baru yang akan mereka luncurkan.

Support Gigsplay Dengan Saweria

🙏 Terima Kasih Atas Dukungan Anda!

Dukungan Anda sangat penting dan membantu Gigsplay untuk mendukung musisi independen Indonesia.

✅ KLIK UNTUK DONASI
Pilihan mode pembayaran
Pilihan metode pembayaran
Berikan Komentar

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *