New Tracks
“Bleed / Trace”, Debut Gelap Dan Atmosferik Dari LYRA
Kegelisahan yang lahir dari mimpi-mimpi yang tak pernah benar-benar tenang serta kecemasan emosional menjadi fondasi terbentuknya LYRA, unit rock alternatif dan shoegaze asal Bandung yang mulai berjalan sejak Maret 2025.
Band ini digerakkan oleh Abizair Abrar pada vokal dan bass, Fadhilla Maulana di gitar, serta Jauzaa Fachrie di balik drum. Memasuki 2026, mereka memperkenalkan diri secara resmi lewat maxi single debut bertajuk “Bleed / Trace” yang dirilis secara independen.
Secara musikal, LYRA menarik inspirasi dari lanskap gelap dan atmosferik yang kerap diasosiasikan dengan Slow Crush, Faetooth, King Woman, hingga Holy Fawn. Referensi tersebut terasa jelas dalam pendekatan mereka yang menonjolkan gitar berlapis, distorsi tebal, serta ruang suara luas yang membangun suasana emosional intens.
Sejak rilisan pertama, LYRA sudah menunjukkan identitas yang kuat dan penuh tekanan, seolah mengajak pendengar untuk terbenam dalam perasaan cemas yang terus-menerus.
“Bleed / Trace” terdiri dari dua bagian yang saling terhubung. Keduanya memiliki benang merah tentang harapan dan rasa sakit yang bercampur, sehingga sulit untuk dipisahkan, meninggalkan jejak yang panjang dalam diri pendengar.
Pada “Bleed”, LYRA menggambarkan situasi ketika tekanan datang dari luar sekaligus dari tuntutan pribadi. Dorongan untuk bertindak tanpa jeda pertimbangan menciptakan kondisi kebal terhadap rasa sakit, memunculkan respons yang dingin dan datar. Lagu ini menangkap fase pasrah yang sunyi, tapi masih menyimpan sisa harapan kecil, seperti permintaan sederhana agar semuanya berhenti sejenak.
Narasi berlanjut di “Trace”, yang mengangkat keinginan untuk kembali pada versi diri yang lama setelah relasi dan pola menghindar mengubah cara memandang keadaan. Ada ketakutan yang masih tertinggal, membayangi upaya untuk pulih. Secara komposisi, kedua lagu tersebut dirancang mengalir sebagai satu cerita utuh, bukan dua entitas terpisah.
Dalam proses kreatifnya, LYRA mengedepankan kolaborasi internal demi menjaga konsistensi arah musikal dan konsep. “Bleed” digagas oleh Abizair Abrar dari kerangka ide dan struktur awal, lalu dikembangkan bersama dalam tahap aransemen. Sementara “Trace” lahir dari gagasan Fadhilla Maulana, dengan penyempurnaan detail musikal dan dinamika dilakukan secara kolektif oleh seluruh personel.
Seluruh materi direkam di Norman Studio sebagai basis produksi utama. Tahap mixing dan mastering dipercayakan kepada Haikal Badjeber, yang membantu memadatkan tekstur suara tanpa menghilangkan lapisan atmosferiknya. Dari sisi visual, konsep fotografi untuk maxi single ini dikerjakan langsung oleh Abizair Abrar yang memperkuat kesinambungan antara identitas audio dan visual.
Sebagai langkah awal, “Bleed / Trace” adalah fondasi yang memetakan arah LYRA ke depan. Dengan karakter yang sudah terbentuk kuat sejak rilisan perdana, band ini memberi sinyal bahwa perjalanan mereka di ranah alternatif dan shoegaze akan bergerak di wilayah gelap, personal, dan penuh intensitas.

