International

Bloodworm Luncurkan “Bloodlust”, Post-Punk Gelap Dari Nottingham

Profile photo ofrafasya

Diterbitkan

pada

Bloodworm

Unit post-punk asal Nottingham, Bloodworm, membuka 2026 dengan langkah tegas lewat perilisan single terbaru mereka berjudul “Bloodlust”. Lagu ini menjadi perkenalan yang kuat bagi trio tersebut sebagai band yang sudah menemukan bentuk dan arah musikalnya.

“Bloodlust” hadir dengan nuansa gelap yang konsisten, ditopang bassline yang agresif dan gitar beresonansi jernih. Hasilnya adalah atmosfer yang mengingatkan pada estetika klasik The Cure dan Echo & The Bunnymen, namun disajikan dengan pendekatan yang terasa relevan dengan lanskap post-punk saat ini.

Lagu ini dirilis bersamaan dengan video musik bernuansa sinematik yang disutradarai oleh Seth Lloyd. Visual yang ditampilkan memperdalam sisi muram dan emosional dari lagu, sekaligus menunjukkan kesadaran Bloodworm terhadap pentingnya hubungan antara musik dan presentasi visual sebagai satu kesatuan.

Meskipun baru aktif sekitar satu setengah tahun, Bloodworm bergerak cepat membangun nama di skena lokal dan regional. Antusiasme terhadap band ini terlihat jelas ketika mereka sukses menjual habis seluruh tiket pertunjukan utama di The Bodega, salah satu venue penting di Nottingham yang juga menjadi kota asal mereka.

Vokalis sekaligus frontman Bloodworm, George Curtis, menggambarkan “Bloodlust” sebagai cerminan pribadi tentang hubungan antar manusia dan kondisi emosional yang menyertainya. Menurutnya, lagu ini mengeksplorasi dinamika dalam sebuah hubungan serta kecemasan yang sering muncul saat tinggal di kota kecil dengan ruang gerak yang terbatas.

Bloodworm Band

Bloodworm (credit: Jacob Harris)

Curtis juga mengingat kembali masa-masa awal perjalanan band, ketika Bloodworm dibentuk dengan semangat dan antusiasme yang hampir tanpa beban. Pada saat itu, perhatian mereka sepenuhnya tertuju pada musik, tanpa memikirkan hal-hal lain di luar proses kreatif. Energi awal itulah yang ingin mereka pertahankan dan rekam dalam “Bloodlust”.

Perkembangan pesat Bloodworm mencapai titik penting setelah penampilan mereka di London baru-baru ini. Gitaris Suede, Richard Oakes, yang hadir untuk menyaksikan pertunjukan tersebut, terkesan dengan intensitas dan penampilan mereka di atas panggung.

Tak lama setelah itu, Oakes mengundang Bloodworm untuk menjadi band pembuka dalam tur Inggris Suede yang akan datang, yang mencakup 17 tanggal dan semua tiketnya telah terjual habis.

Tur yang akan dimulai pada akhir bulan ini menjadi momen besar bagi Bloodworm. Kesempatan untuk berbagi panggung dengan salah satu band legendaris Inggris merupakan pengakuan penting, sekaligus menunjukkan bahwa energi dari masa-masa awal latihan mereka kini telah berkembang menjadi identitas musikal yang matang dan solid.

Dalam waktu singkat, Bloodworm berhasil menarik perhatian tidak hanya dari penggemar post-punk generasi baru, tetapi juga dari para pelaku industri yang melihat potensi jangka panjang dalam langkah mereka selanjutnya.

YouTube Video
Support Gigsplay Dengan Saweria

🙏 Terima Kasih Atas Dukungan Anda!

Dukungan Anda sangat penting dan membantu Gigsplay untuk mendukung musisi independen Indonesia.

✅ KLIK UNTUK DONASI
Pilihan mode pembayaran
Pilihan metode pembayaran
Berikan Komentar

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *