International

Bright Eyes Sindir Kapitalisme Lewat Irama Ska Di “1st World Blues”

Profile photo ofrafasya

Diterbitkan

pada

Bright Eyes
Bright Eyes (credit: Nik Freitas)

Bright Eyes kembali mengekspresikan kepedulian sosial mereka melalui lagu terbaru berjudul “1st World Blues”, yang dirilis bersama video lirik bergaya sinematik. Mengusung elemen ska sebagai dasar musiknya, lagu ini memberikan kritik tajam terhadap kondisi kapitalisme tahap akhir yang mereka anggap semakin tidak adil dan memiskinkan.

Mereka tidak ragu untuk menyebut langsung sistem ekonomi yang diwariskan dari era Ronald Reagan, Reaganomics, serta menyindir merek-merek ritel besar seperti Hot Topic dan Old Navy.

Trio asal Nebraska ini, yang digawangi oleh Conor Oberst, Mike Mogis, dan Nathaniel Walcott, menyampaikan bahwa lagu ini adalah bentuk penghormatan terhadap sejarah panjang musik ska, dari era awal Desmond Dekker hingga gelombang ketiga yang dibawa oleh musisi seperti Tim Armstrong dari Rancid.

Kami hanya senang bisa menambahkan satu lagu lagi ke dalam rak ska,” tulis mereka dalam siaran pers.

Namun “1st World Blues” bukan sekadar eksperimen genre. Lagu ini menyisipkan kritik tajam terhadap budaya konsumtif dan struktur ekonomi yang timpang dengan pendekatan yang ringan di permukaan tapi menohok secara makna. Musiknya mengalun cepat dengan sentakan brass section khas ska, sementara liriknya menyindir gaya hidup masyarakat kelas menengah yang terperangkap dalam siklus konsumsi yang tidak pernah memuaskan.

Bright Eyes Band

Video yang menyertai rilis ini pun tak kalah menarik. Alih-alih sekadar menampilkan teks lirik, visualnya menampilkan suasana urban yang terinspirasi oleh estetika hip hop New York tahun 90-an. Bright Eyes menyebut bahwa seperti halnya ska, hip hop juga memiliki tradisi panjang dalam menyatukan orang lewat musik yang terdengar meriah namun membawa pesan politik yang subversif.

Lagu ini sebaiknya diputar keras-keras, jendela mobil dibuka lebar, dan dinikmati saat musim panas,” tambah mereka.

Kembalinya Bright Eyes dengan lagu ini memperkuat posisi mereka sebagai band yang konsisten tidak hanya dalam eksplorasi musik, tapi juga dalam menyuarakan kegelisahan zaman. Setelah merilis album ke-10 mereka ‘Five Dice, All Threes pada tahun lalu lewat Dead Oceans, menyusul ‘Down in the Weeds, Where the World Once Was'(2020), mereka tampaknya masih belum kehabisan cara untuk menyampaikan keresahan dalam format yang baru.

“1st World Blues” mungkin tidak terdengar seperti Bright Eyes yang dulu, tapi justru itulah kekuatannya. Dengan menggali kembali energi mentah ska dan menyandingkannya dengan narasi kritis, Bright Eyes berhasil menyeimbangkan antara hiburan dan pemikiran.

Lagu ini bukan hanya ajakan untuk berdansa, tetapi juga untuk berpikir, tentang siapa yang diuntungkan dan siapa yang ditinggalkan.

YouTube Video
Support Gigsplay Dengan Saweria

🙏 Terima Kasih Atas Dukungan Anda!

Dukungan Anda sangat penting dan membantu Gigsplay untuk mendukung musisi independen Indonesia.

✅ KLIK UNTUK DONASI
Pilihan mode pembayaran
Pilihan metode pembayaran
Berikan Komentar

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *