International
“Digital Soo” Tunjukkan The Silkies Yang Lebih Liar Dan Lebih Tajam
The Silkies, unit indie rock asal Cincinnati, perlahan mulai membangun kembali jejak mereka setelah mengalami masa-masa sulit. Sebelumnya, band ini berada di ambang pencapaian besar, mereka dijadwalkan untuk tur bersama Band of Horses, namun semuanya harus dibatalkan akibat pandemi. Hanya satu minggu sebelum keberangkatan, formasi lama The Silkies bubar, dan para anggotanya pun memilih jalan masing-masing untuk mengerjakan proyek pribadi.
Namun awal tahun ini, sebagian dari mereka kembali bertemu dan memutuskan untuk memulai dari awal dengan formasi baru, menggunakan nama The Silkies.
Sejak saat itu, mereka mulai aktif kembali, merekam materi baru dan mengisi sejumlah panggung pembuka bersama artis seperti The Criticals, J Roddy Walston, New Constellations, Juan Wauters, dan Warmduscher. Mereka memperkenalkan diri lewat single perdana berjudul “IDK”, yang kemudian disusul dengan rilisan teranyar mereka, “Digital Soo”.
Jika “IDK” menawarkan nuansa psych pop yang lembut dan dreamy, “Digital Soo” justru hadir dengan energi yang jauh lebih kuat dan dinamis. Riff gitar yang tajam dan menyayat membawa nuansa post-punk gelisah ala Parquet Courts, sementara ritme bass dan drum yang ketat membangun ketegangan dari awal hingga akhir. Ketegangan itu akhirnya meledak dalam bagian chorus yang liar, sebelum ditutup oleh lapisan-lapisan efek psikedelik yang berkelindan di bagian outro.
Di tengah gempuran gitar yang menyerang, vokalis Joe Pruitt melontarkan lirik-lirik yang sarat kemarahan dan kegelisahan. Ia menyoroti bagaimana dunia digital telah digunakan sebagai alat pengalih perhatian dan perpecahan dalam kesadaran kolektif kita: “Minds on fire / The opposition / Is killing us all / Got no passport / No vaccination / Man, how can I leave? / Yeah, their garbage / Man, I need it / There’s no end to the greed”.
Produser mereka, Jake Merritt, menjelaskan bahwa “Digital Soo” adalah cerminan dari bagaimana internet dan media sosial bisa memanipulasi kehidupan manusia modern. “Bukan cuma mengalihkan perhatian, tapi juga mengubah siapa kita sebagai individu. Banyak orang biasa terdorong menjadi ekstrem karena algoritma yang mengeksploitasi kelemahan psikologis mereka. Entah itu disengaja atau hanya demi membuat kita terus terpaku di satu platform saja.”
Jake menyebut bahwa lagu ini direkam sehari setelah pemilu terakhir. “Melihat tiga orang terkaya di Amerika, yang semuanya pemilik perusahaan teknologi, berdiri di panggung pelantikan itu cukup mengganggu buat kami.”
Joe Pruitt menambahkan, “Ini bukan soal satu sisi saja. Semua orang sekarang dijejali konten yang mereka benci. Itu bikin kita makin terpecah, makin sedikit memahami satu sama lain, dan makin penuh kebencian. Teknologi seharusnya bisa dipakai buat memperbaiki kehidupan manusia, tapi yang terjadi justru sebaliknya: jadi alat pemecah yang dikendalikan segelintir miliarder.”
“Digital Soo” menjadi bukti bahwa The Silkies kembali dengan arah yang lebih tajam, bukan cuma secara musikal, tapi juga secara wacana.


