International
DITZ Menyelami Dunia AI Dan Eksperimen Sonik Dalam Rilisan Terbaru
Lima sekawan asal Inggris, DITZ, kembali menunjukkan sisi eksperimental mereka lewat rilisan baru berjudul “Don Enzo Magic Carpet Salesman”, sebuah komposisi berdurasi sembilan menit yang disertai lagu sisi-B, “Kalimba Song.” Kedua lagu tersebut akan dirilis dalam format piringan hitam 12 inci pada 12 November melalui label City Slang.
DITZ beranggotakan C.A. Francis (vokal), Anton Mocock (gitar), Sam Evans (drum), Jack Looker (gitar), dan Caleb Remnant (bass). Dalam rilisan ini, mereka memperluas batas eksplorasi sonik yang sudah menjadi ciri khas sejak awal karier mereka: intens, penuh tekstur, dan tidak takut untuk berantakan secara artistik.
“Don Enzo Magic Carpet Salesman” lahir dari demo yang dikerjakan Jack Looker setelah tur mereka berakhir lebih cepat tahun ini. Awalnya hanya berupa satu bagian pendek, namun setelah Francis menambahkan lirik dan mengembalikannya, Jack memperluas lagu itu menjadi karya tiga bagian berdurasi sembilan menit.

DITZ (Credit: Far Out / Pedro Takahashi)
Menurut Francis, lagu ini merupakan bentuk frustrasinya terhadap fenomena seni berbasis kecerdasan buatan. Bagian pertama menggambarkan reaksi terhadap isu tersebut, bagian kedua ditulis dari sudut pandang AI, dan bagian terakhir menjadi simbol “napas terakhir seni sejati” sebelum tenggelam oleh hasil buatan mesin.
Sementara itu, “Kalimba Song” memiliki kisah yang lebih ringan namun tetap menarik. Lagu ini tercipta dalam sesi menulis santai di studio 17b, Brighton, ketika Francis, Jack, dan Sam tengah mabuk sisa malam sebelumnya. Lagu tersebut tumbuh dari permainan lapisan suara acak yang mereka rakit sambil mendengarkan Portishead dan Massive Attack. Suara kalimba di lagu ini bahkan diambil dari satu menit improvisasi spontan tanpa rencana.
Dalam dua lagu ini, DITZ memperlihatkan perpaduan yang semakin matang antara post-punk abrasif, eksplorasi elektronik, dan eksperimentasi tekstural yang sulit ditebak. “Don Enzo Magic Carpet Salesman” memukul keras secara emosional, sementara “Kalimba Song” menyajikan momen kontemplatif yang lebih halus namun tetap menyimpan kegelisahan di baliknya.
Sebelumnya pada tahun ini, DITZ merilis album ‘Never Exhale‘, yang memperkuat posisi mereka di kancah musik alternatif Inggris sebagai salah satu band paling tak terduga dan progresif.
Dengan rilisan terbaru ini, DITZ tampak terus menggali batas antara musik, noise, dan seni konseptual, memperlihatkan bahwa mereka tidak berhenti pada struktur lagu konvensional, melainkan terus menantang cara kita mendengarkan musik.

