International
DIVIL Eksplorasi Kehilangan Lewat Single Baru “ORANGUTAN”
Trio alternatif asal Dublin, DIVIL, kembali membuka lembaran baru menuju perilisan EP debut mereka lewat single terbaru bertajuk “ORANGUTAN”. Lagu tersebut menjadi materi kedua yang diperkenalkan dari EP ‘DIVIL I’, yang dijadwalkan rilis pada 19 Juni mendatang dan semakin memperlihatkan arah musikal band yang lahir dari pengalaman hidup penuh kehilangan, perjuangan, serta upaya bertahan di tengah situasi yang sulit.
Para personel DIVIL adalah Danny Dempsey McMahon sebagai vokalis, Jocelyn Vance sebagai gitaris, dan Conor Cusack di posisi bass. Ketiganya telah bersahabat lama sebelum akhirnya membentuk band ini. Perjalanan DIVIL tidak dimulai dari situasi yang mudah. Proyek ini lahir setelah McMahon kehilangan ayahnya, sebuah peristiwa yang menjadi titik awal bagi kebutuhan untuk mengekspresikan emosi melalui musik.
Tak lama setelah band terbentuk, mereka menghadapi tantangan besar ketika Conor Cusack didiagnosis dengan jenis kanker langka yang agresif. Situasi ini mengubah cara mereka memandang musik. Bagi DIVIL, musik bukan hanya sarana berkarya, tetapi juga ruang untuk mengekspresikan tekanan, ketakutan, dan berbagai perasaan yang sulit diungkapkan dengan kata-kata biasa.
Sebagian besar materi dalam EP ‘DIVIL I’ ditulis saat ketiganya menghadapi masa-masa tersulit dalam hidup mereka. Pengalaman kehilangan, penyakit, kecemasan, dan ketidakpastian menjadi bahan bakar utama yang membentuk identitas emosional band ini.
Perjuangan itu masih terus berlangsung hingga sekarang. Cusack bahkan baru-baru ini harus melakukan perjalanan ke Belgia untuk menjalani prosedur operasi darurat yang diharapkan dapat mengurangi perkembangan kanker yang dideritanya secara signifikan. Dukungan terhadap sang bassis pun mengalir dari berbagai penjuru komunitas musik Irlandia. Kampanye penggalangan dana yang dibuat untuk membantu proses pengobatan dan kebutuhan keluarganya berhasil mengumpulkan lebih dari 100 ribu euro (sekitar Rp. 2.1 miliar).
Jika single sebelumnya, “Thanks A Million”, membahas tentang bantuan dan dukungan yang mampu menarik seseorang keluar dari masa tergelap dalam hidupnya, “ORANGUTAN” menyajikan sisi cerita yang berbeda. Lagu ini menggambarkan pergulatan internal yang lebih kacau, penuh dorongan untuk melarikan diri, kebiasaan merusak diri sendiri, serta pikiran yang terus berputar tanpa arah yang jelas.
DIVIL menggambarkan lagu tersebut sebagai potret seorang pria yang terkurung sendirian di dalam rumah, berjalan mondar-mandir, berusaha melawan keinginan-keinginan yang menghantuinya, sambil berteriak ke arah sebuah iPad sebagai pelampiasan emosinya.
Menariknya, proses penciptaan “ORANGUTAN” bermula dari eksperimen sederhana yang dilakukan Jocelyn Vance. Saat itu ia banyak mendengarkan musik samba dari penyanyi legendaris Dean Martin dan mencoba memainkan progresi akor dengan bantuan loop pedal. Ide yang awalnya hanya berlangsung singkat itu kemudian berkembang menjadi fondasi utama lagu.
Menurut Vance, McMahon langsung merespons ide tersebut begitu mendengarnya. Potongan musik yang hanya berdurasi sekitar satu menit perlahan berkembang menjadi demo awal sebelum akhirnya berubah menjadi lagu utuh.
McMahon kemudian menyempurnakan materi tersebut saat menghabiskan akhir pekan seorang diri. Dalam suasana penuh tekanan, ia merekam vokal kasar menggunakan iPad sambil berjalan mengelilingi rumah. Proses spontan itu justru menghasilkan luapan emosi yang dianggap paling jujur oleh band.
Alih-alih menghapus rekaman awal tersebut, DIVIL memilih mempertahankannya dalam versi final “ORANGUTAN”. Keputusan itu diambil karena mereka merasa energi mentah dan rasa mendesak yang muncul dalam rekaman pertama tidak mungkin diciptakan ulang di studio. Setelah bagian bass ditambahkan oleh Cusack, sebagian besar elemen lain sengaja dibiarkan tetap apa adanya.
Semangat spontan dan emosional itulah yang menjadi fondasi utama EP ‘DIVIL I’. Selain “ORANGUTAN”, rilisan tersebut juga akan memuat “Thanks A Million” serta lagu penutup berjudul “Chewing Gum”, yang kembali mengangkat tema kehilangan, ketahanan mental, dan proses bertahan hidup.
Meski tercipta dari serangkaian peristiwa yang menyakitkan, ‘DIVIL I’ tidak sepenuhnya terjebak dalam keputusasaan. Di balik suasana kelam yang menyelimutinya, EP ini mengisahkan tentang persahabatan, dukungan, dan hubungan antarindividu yang mampu bertahan saat hidup berada di titik paling rapu.
Melalui karya-karya ini, DIVIL menunjukkan bahwa musik bisa menjadi tempat berlindung sekaligus cara untuk terus melangkah maju ketika segalanya terasa runtuh.


