International
Fortuna 500 Luncurkan Single Baru “Swamp In My Hand”
Fortuna 500, band rock baru asal Somerville, Massachusetts, mencuri perhatian lewat perpaduan musik garage rock dan slacker rock yang kasar dan penuh karakter. Grup yang digawangi oleh penyanyi sekaligus penulis lagu Cole Triedman ini menghabiskan musim gugur dengan tur keliling wilayah Timur Laut Amerika.
Di tengah jadwal yang padat itu, mereka merilis single debut “Sara Lee”, disusul “Romantic Civilians” bulan lalu. Kini, mereka kembali memperkenalkan karya terbaru berjudul “Swamp In My Hand”.
Jika “Romantic Civilians” memunculkan sisi slacker rock ala Pavement, maka “Swamp In My Hand” membawa Fortuna 500 ke arah yang lebih kasarnya lagi. Lagu ini mengandalkan riff gitar blues yang serak, groove rock dan lirik penuh sindiran.
Bagian pembuka nyaris terdengar seperti potongan Rolling Stones dari era yang hilang: Ryan DiLello dan Triedman saling melempar petikan gitar blues yang kasar, sementara slide guitar dari Harley Spring merayap masuk memperkaya teksturnya.
Di belakang, “Farmer” Dave Levine pada bass dan Julian Snyder pada drum membentuk fondasi ritmis yang kokoh, sebelum akhirnya melaju menuju klimaks yang terasa seperti ledakan akhir di sebuah bar tua yang panas dan sesak.

Triedman menyebut proses perekaman lagu ini berlangsung secara live dan penuh keringat, sesuai energi Fortuna 500 di panggung. Menurutnya, “Swamp In My Hand” menangkap kekacauan garage country yang sudah mereka bawa dari satu kota ke kota lain sejak terbentuk pada musim dingin lalu. Karakter mentah itu menjadi identitas yang terus mereka dorong selama tur.
Selain kekuatan musiknya, daya tembak “Swamp In My Hand” juga hadir lewat lirik yang tajam. Triedman memadukan suara musik yang “kotor” dengan kritik yang menyentil perilaku sok penting, khususnya mereka yang merasa lebih unggul hanya karena kekayaan atau status.
Ia menyinggung pengendara sok pamer dan para orang kaya dungu melalui baris-baris yang menolak hal-hal dangkal seperti uang, ketenaran, atau kemewahan yang tidak berarti apa-apa dalam hidup.
Triedman berkomentar, “Karena uang tak bisa beli tiket ke surga, dan cinta plus uang… kita semua tahu ke mana arah akhirnya. Kesombongan bisa merenggut nyawamu sebelum usia 27. Jadi, lebih baik kamu fokus pada dirimu sendiri daripada berharap pada keajaiban. Siapa sebenarnya dirimu? Berkeliaran dengan mobil yang konyol itu. Dan apa yang akan terjadi? Melaju secepat itu di jalanan pemukiman.”
Bagi Triedman, lagu ini lahir dari hari-hari ketika dunia terasa berjalan mundur dan banyak orang terlihat semakin kacau. Ia mengakui hari-hari seperti itu belakangan terasa makin sering. Namun, alih-alih larut dalam kekesalan, Fortuna 500 memilih cara mereka sendiri: mengubah keresahan itu menjadi suara yang meledak, bernada marah, tapi tetap menyenangkan untuk diteriakkan bersama.
