International

Hasil Eksplorasi Emosi Yang Berani Dari Talk To Her Di Album “Pleasure Loss Desire”

Profile photo ofArduino

Diterbitkan

pada

Talk To Her

Talk To Her, band post-punk asal Italia yang semakin mencuri perhatian dalam beberapa tahun terakhir, resmi merilis album kedua bertajuk ‘Pleasure Loss Desire‘ melalui Shyrec dan Icy Cold Records. Setelah sebelumnya mengangkat tema kerinduan dan hasrat penuh gejolak dalam ‘Love Will Come Again’, kali ini mereka melangkah ke wilayah emosi yang lebih gelap, dingin, dan penuh keterasingan.

Pleasure Loss Desire menyelami ruang batin yang terasa makin jauh dari kenyataan. Dunia di dalam album ini bergerak seperti pusaran tempat kenikmatan dan kehilangan yang menyatu, menciptakan rasa terombang-ambing antara ingin merasakan dan ingin mati rasa.

Ketika hidup tidak lagi mencerminkan diri ideal yang kita bayangkan, menjauh dari segala sesuatu terkadang menjadi cara bertahan. Namun jarak itu lambat laun berubah menjadi perangkap yang menahan langkah, membuat kebebasan semakin terasa mustahil.

Setiap lagu menghadirkan perjalanan menuju kedalaman yang semakin beku. Kejernihan sesekali muncul, namun cepat terseret kembali ke kabut pelupa. Ritme dan melodi bergerak seperti denyut yang tak seimbang: tenang dalam satu detik lalu meledak tanpa peringatan di detik berikutnya. Album ini menyoroti pertarungan batin antara keterpisahan dan keasingan yang menjadi ciri zaman serba tak menentu seperti hari ini.

Talk To Her Band credit Carlotta Bianco

Talk To Her menampilkan potret jujur tentang rapuhnya manusia modern. Hasrat yang belum padam, luka yang belum sembuh, kenangan yang terus menghantui, serta ketakutan yang semakin mengeras. Mereka tidak menutupi semuanya dengan metafora rumit, melainkan membuka lebar-labar retakan emosional yang kerap kita sembunyikan.

Secara musikal, Pleasure Loss Desire memperlihatkan perkembangan yang cukup berani. Pengaruh new wave masih terasa, namun dominasi unsur post-punk kini jauh lebih kuat. Suaranya lebih dingin dan lebih agresif. Gitar yang menggigit, detak drum yang lugas, dan vokal yang terdengar seperti terperangkap dalam ruang kosong menambah nuansa suram yang memikat.

Pengaruh post-rock dan alternatif rock akhir era 90-an hingga awal 2000-an turut memberi warna lebih gelap dan tebal pada keseluruhan album. Semua itu diramu dalam produksi Maurizio Baggio, sosok yang juga pernah menangani The Soft Moon dan Boy Harsher. Sentuhannya membuat atmosfer album ini terasa semakin pekat dan terus menyelimuti sejak detik pertama.

‘Pleasure Loss Desire’ mempertegas identitas Talk To Her sebagai band yang tidak takut menantang batas emosional maupun sonik. Mereka menatap tajam sisi paling lembut dan paling hancur dari diri manusia, lalu menerjemahkannya menjadi musik yang sulit dilupakan. Sebuah karya yang menegaskan bahwa keterasingan tak selalu sunyi, kadang ia justru bersuara paling lantang.

Support Gigsplay Dengan Saweria

🙏 Terima Kasih Atas Dukungan Anda!

Dukungan Anda sangat penting dan membantu Gigsplay untuk mendukung musisi independen Indonesia.

✅ KLIK UNTUK DONASI
Pilihan mode pembayaran
Pilihan metode pembayaran
Berikan Komentar

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *