International
Jelang Album Baru, Lamb of God Lepas Single Agresif “Blunt Force Blues”
Lamb of God kembali memanaskan mesin jelang perilisan album terbaru mereka, ‘Into Oblivion‘, yang dijadwalkan rilis pada 13 Maret melalui Century Media Records dan Epic Records. Sebagai penutup rangkaian perkenalan menuju album tersebut, unit metal asal Richmond ini melepas single “Blunt Force Blues”, sebuah lagu yang mengingat kembali akar komunitas yang telah membesarkan mereka.
Jika lagu utama “Into Oblivion” membahas tentang dunia yang terus berubah dan terasa tak menentu, “Blunt Force Blues” hadir dengan sudut pandang yang lebih personal. Vokalis Randy Blythe mengenang masa-masa awal band, ketika mereka belajar memainkan musik dengan menyaksikan dan bergaul bersama musisi lokal di Richmond.
Menurutnya, band-band lokal itulah yang memberi dorongan besar, sama pentingnya dengan pengaruh dari nama-nama besar di luar kota. Ada semangat untuk terus menyamai kualitas kawan seperjuangan di skena sendiri, sebuah etos yang kemudian membentuk karakter Lamb of God.
Gitaris Mark Morton melihat lagu ini sebagai cerminan perjalanan panjang lebih dari 25 tahun karier mereka. Baginya, album terbaru ini lahir dari ruang kreatif yang lebih bebas, tanpa tekanan untuk mengikuti tren atau ekspektasi tertentu. Mereka memilih untuk kembali pada semangat awal: menciptakan musik yang terasa autentik dan menyenangkan bagi diri mereka sendiri, tanpa agenda lain di luar itu.
Dalam beberapa bulan terakhir, Lamb of God telah merilis tiga single yang memberi gambaran tentang spektrum album ini. “Sepsis”, materi pertama mereka sejak 2022, mengangkat nuansa underground Richmond era awal 1990-an.
Lagu tersebut menonjolkan riff berat dengan tempo yang lebih lambat, memberi ruang bagi vokal Blythe yang terdengar garang dan teatrikal. Setelah itu hadir “Parasocial Christ”, sebuah gempuran tiga menit yang padat dan agresif, mengingatkan pada era klasik Lamb of God dengan energi thrash yang langsung menghantam.
Lagu utama “Into Oblivion” kemudian mempertegas intensitas album ini. Karakter musikalnya keras, penuh tekanan, dan sarat kemarahan yang terkontrol. Ketiga single tersebut menunjukkan bahwa Lamb of God masih memiliki daya tarik yang kuat, sambil tetap membuka ruang untuk eksplorasi dinamika yang lebih luas.
Album ini diproduseri dan di-mix oleh kolaborator lama mereka, Josh Wilbur. Proses rekaman dilakukan di beberapa lokasi yang memiliki makna penting bagi identitas band.
Drum direkam di Richmond, Virginia, menjaga kedekatan dengan kota asal mereka. Gitar dan bass dikerjakan di studio rumahan milik Morton, sementara vokal Blythe direkam di Total Access Recording di Redondo Beach, California, studio legendaris yang pernah melahirkan karya-karya penting dari Black Flag, Hüsker Dü, dan Descendents.
Into Oblivion kini sudah tersedia untuk pre-order, termasuk edisi vinil terbatas, CD koleksi lengkap dengan zine eksklusif berisi sketsa artwork, lirik tulisan tangan, serta foto studio yang belum pernah dipublikasikan.

