New Albums
Musik, Kenangan, Dan Trauma Yang Tak Selesai Dari Brunobauer
Berbicara soal cinta, yang terlintas di benak banyak orang kerap kali adalah kenangan manis, momen-momen hangat yang membekas. Namun, realitas cinta tak selalu semanis itu. Ada pahit, getir, bahkan kekosongan yang menyelinap tanpa diundang.
Cinta, dalam banyak bentuknya, membawa luka dan pengorbanan, namun justru dari situlah rasa itu menjadi abadi, tersimpan sebagai kenangan, entah menjadi warisan, pelajaran, atau bahkan trauma. Gagasan itu pula yang coba dituangkan oleh Brunobauer, band rock asal Surabaya, lewat EP terbaru mereka yang berjudul “…Are The Best Lovers”.
Setelah jeda lebih dari setahun sejak EP debut mereka, ‘A View From Inner Circle‘, Brunobauer, yang digawangi oleh Rizqo, Azizul, Indra, Rizal, dan Fajrian, kembali dengan lima track yang merangkum spektrum emosional dari cinta. Dirilis pada 25 Juli 2025 di bawah naungan Guerilla Records, EP ini hadir di semua platform streaming digital dan juga dalam format kaset beserta merchandise pendukungnya.
Dalam rilisan ini, Brunobauer masih mempertahankan benang merah musik mereka yang terinspirasi dari band-band seperti Weezer, Guided By Voices, Jawbreaker, hingga sentuhan era kini dari Joyce Manor, Pile Of Love, atau Webbed Wing. Tapi alih-alih hanya bermain di ranah nostalgia, mereka justru menyelipkan narasi yang dekat dengan keseharian.
Lagu-lagu dalam EP ini terinspirasi dari pengalaman pribadi dan kenangan masa lalu. Rizqo, yang menulis semua lirik, mengungkapkan bahwa sumber inspirasi terbesarnya berasal dari perjalanan emosi manusia: manisnya jatuh cinta, hangatnya empati, perihnya perpisahan, hingga kehampaan yang kadang terlalu gelap untuk diungkapkan.
Salah satu hal menarik dalam lirik Brunobauer kali ini adalah penggunaan detail tempat di Surabaya sebagai latar cerita, semacam penanda geografis yang memberi identitas pada pengalaman-pengalaman yang mereka tuangkan.
“Ada hal-hal kecil yang kalau disebutkan secara spesifik malah jadi terasa universal,” ujar Rizqo dalam keterangan pers. Lokasi-lokasi tersebut tidak hanya menjadi latar, tetapi juga simbol dari kenangan yang terekam.
Meski awalnya dirancang sebagai bagian dari album penuh, keterbatasan waktu akibat kesibukan masing-masing personel membuat kelima lagu ini akhirnya dirilis dalam format EP. Proses produksinya pun memakan waktu cukup panjang sejak 2024.
Seluruh rekaman dilakukan di dua studio lokal: Self Recs Home Recording dan Studio Pelikan. Dalam proses tersebut, mereka menggandeng Sinatrya Dharaka (Thee Marloes) dan Alwan Hilal (Firstrate, Brightx, Allone) sebagai engineer. Untuk urusan mixing dan mastering, Alwan kembali terlibat dan memberi sentuhan akhir yang memperkuat atmosfer emosional dari masing-masing lagu.
Visual dari EP ini juga tak kalah diperhatikan. Seluruh desain grafis, artwork, hingga fotografi digarap oleh Arfan Maulana, desainer muda asal Surabaya yang dikenal dengan estetika visual yang personal dan tajam. Nuansa artwork EP ini mendukung keseluruhan narasi yang coba dibangun Brunobauer: rapuh, jujur, dan tidak takut terlihat sentimental.
Meski belum mengumumkan tur besar, Brunobauer mengisyaratkan akan tetap menyambangi beberapa kota untuk memperkenalkan materi baru mereka, tentu dengan menyesuaikan jadwal dan kesibukan di luar musik.
Rilisan ini bukan hanya penanda bahwa mereka masih aktif, tapi juga bukti bahwa Brunobauer masih punya banyak yang ingin mereka bagi: tentang cinta, luka, dan hal-hal yang sering kali sulit disampaikan dengan kata-kata, tapi bisa dirasakan dengan jelas melalui musik.
Support Gigsplay Dengan Saweria
