International

Spiritual Cramp Dan Kegilaan Yang Tetap Menyenangkan Di ‘RUDE’

Profile photo ofstreamous

Diterbitkan

pada

Spiritual Cramp
Spiritual Cramp (credit: Carlos Gonzales)

Ketika bicara tentang rock n’ roll tanpa rem, tak banyak band di era sekarang yang bisa melakukannya sambil tetap terlihat sebebas dan seasyik Spiritual Cramp. Band asal San Francisco ini kembali dengan album kedua berjudul ‘RUDE‘, kumpulan karya yang terasa hidup, eksentrik, dan seolah lahir langsung dari energi panggung mereka sendiri.

Album dibuka lewat “I’m An Anarchist”, ledakan pertama setelah intro radio bergaya Queens of the Stone Age. Bass-nya terasa tebal, membawa suara Michael Bingham yang terdengar lugas dan percaya diri. Sejak menit pertama, ‘RUDE’ memperlihatkan bahwa band ini tak kehilangan kegilaan khas mereka, kegilaan yang justru membuat setiap nada terasa spontan dan jujur.

Di tengah kekacauan itu, ada momen-momen cinta dan nostalgia untuk San Francisco. Lewat “Go Back Home” dan “Young Offenders”, Bingham berbicara seperti seseorang yang benar-benar tumbuh bersama kota itu, dengan lirik yang hangat. “Where every day is the best day of my life,” katanya, seperti menyatakan cinta tanpa malu-malu.

Spiritual Cramp juga membuka ruang bagi sisi romantis mereka di “You’ve Got My Number”, lagu duet bersama Sharon Van Etten. Suara Van Etten menempel mulus di antara vokal Bingham, menghadirkan momen yang terasa lembut di tengah energi album yang liar. Sementara itu, “At My Funeral” memunculkan kembali humor khas band ini, lirik seperti “I went to your funeral and no one even knew you” terdengar sarkastik namun tetap menghibur.

Spiritual Cramp Band

Meski secara musikal ‘RUDE’ cenderung riang dan menyenangkan, isi liriknya kadang berlawanan arah. Lagu seperti “I Hate The Way I Look” memuat kejujuran dan kerentanan pribadi, namun tetap dikemas dalam aransemen yang mengundang kepala bergoyang. Eksperimen mereka dengan elemen ska, hip-hop, dan dub terasa natural, tidak seperti parodi, melainkan perayaan atas pengaruh musik yang mereka cintai.

Menjelang akhir, “New Religion” memperlihatkan sisi kontemplatif Bingham dengan petikan gitar akustik dan pengakuan bahwa ia sama tersesatnya dengan orang lain. “I never said that I knew anything, I’m just as lost as you,” katanya, memberi ruang napas sebelum penutup emosional di “People Don’t Change”. Di sana, Bingham melepas semua lapisan karakternya, bertanya pada dirinya sendiri: “People can change, and why can’t I?”. Lagu ini menjadi penutup yang introspektif, diselimuti perpaduan synth dan horn yang megah.

‘RUDE’ bukanlah album yang berusaha mengubah arah Spiritual Cramp. Tapi mungkin itu justru intinya: mereka tak perlu berubah untuk tetap relevan. Dalam dunia yang sering terlalu serius, Spiritual Cramp masih tahu bagaimana cara bersenang-senang sambil tetap mengguncang telinga pendengarnya.

Support Gigsplay Dengan Saweria

🙏 Terima Kasih Atas Dukungan Anda!

Dukungan Anda sangat penting dan membantu Gigsplay untuk mendukung musisi independen Indonesia.

✅ KLIK UNTUK DONASI
Pilihan mode pembayaran
Pilihan metode pembayaran
Berikan Komentar

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *