International
The Red Jumpsuit Apparatus Rilis Album Baru “X’s For Eyes”
Mereka juga melepas single terbaru berjudul “Perfection” lengkap dengan video musiknya.
The Red Jumpsuit Apparatus kembali menunjukkan konsistensi mereka di ranah rock alternatif dengan merilis album studio keenam bertajuk ‘X’s For Eyes’. Album ini menjadi rilisan penuh pertama mereka bersama label Better Noise Music dan sekaligus membuka dunia baru perjalanan band yang sudah mengantongi sertifikasi 5x Platinum tersebut. Untuk menandai perilisan ini, mereka juga melepas single terbaru berjudul “Perfection” lengkap dengan video musiknya.
“Perfection” hadir sebagai lagu yang berfokus pada gagasan menerima diri apa adanya. Ronnie Winter, vokalis sekaligus pendiri band, menjelaskan bahwa lagu ini berbicara tentang menemukan keindahan dalam bagian diri yang tidak sempurna.
Menurutnya, ada kekuatan tersendiri ketika seseorang menerima bekas luka, kekurangan, dan hal-hal yang selama ini dianggap tidak layak ditampilkan. Alih-alih menutupinya, lagu ini mendorong pendengar untuk merayakannya. Semangat itu terasa melalui permainan gitar yang hangat dan vokal Ronnie yang tetap menjunjung emosionalitas tanpa kehilangan karakter khas yang ia bawa sejak era awal band ini mencuat.
‘X’s For Eyes’ memperlihatkan formasi lengkap The Red Jumpsuit Apparatus saat ini: Ronnie Winter pada vokal, Randy Winter pada gitar, Josh Burke pada gitar, Joey Westwood pada bass, John Epsy pada drum, Nadeem Salam pada keyboard, serta K Enagonio yang baru bergabung sebagai vokalis tambahan.
Formasi ini memberi ruang yang lebih luas untuk eksplorasi dinamika suara, terutama dalam perpaduan elemen elektronik dan garis melodi yang menonjolkan karakter alternatif rock modern tanpa mengabaikan akar emosional band.
Ronnie menyampaikan bahwa judul ‘X’s For Eyes’ membawa memori masa kecilnya. Simbol mata berbentuk X yang dulu muncul di kartun atau video game ketika karakter melakukan kesalahan, menurutnya, kini terasa relevan untuk menggambarkan kondisi sosial hari ini, sebuah pengingat bahwa setiap tindakan punya konsekuensi, dan dunia saat ini sedang berada di titik di mana kesalahan kolektif mudah terlihat.
Ia menegaskan bahwa sejak mereka merilis “Face Down” pada 2006, lagu yang berbicara tentang kekerasan dalam rumah tangga, band ini sudah mengambil posisi yang jelas dalam isu-isu sosial.
Pada album baru ini, mereka tetap mempertahankan sikap vokal tersebut. Ronnie menegaskan bahwa bandnya terus berdiri melawan rasisme, diskriminasi, dan homofobia. Menurutnya, musik adalah medium yang cukup kuat untuk menyuarakan keberpihakan, dan mereka ingin para penggemar tahu bahwa sikap itu tidak berubah. Album ini menjadi wadah untuk menegaskan kembali posisi moral band di tengah iklim sosial yang semakin kompleks.
Sebelum merilis “Perfection”, The Red Jumpsuit Apparatus sudah melepas tiga single lain yang menjadi gambaran arah musik ‘X’s For Eyes’. “Home Improvement” hadir dengan energi pop-rock yang segar, “Slipping Through (No Kings)” menghadirkan pendekatan yang lebih agresif, sementara “X’s For Eyes” sebagai single bertajuk sama dengan album, berperan sebagai titik tengah album, menggabungkan melodi yang lebih gelap dengan tema reflektif. Ketiga lagu ini memperlihatkan bagaimana band mencoba mempertahankan identitas lama mereka sambil merangkul tekstur modern.
Album ‘X’s For Eyes’ berisi total 11 lagu dan menampilkan eksplorasi cukup luas dalam struktur dan warna musik. Selain permainan riff yang keras dan ritme yang rapat, vokal Ronnie yang melengking tinggi, ciri khas band sejak era ‘Don’t You Fake It’ yang kembali mendapat spotlight besar.
Album ini juga menghadirkan dua kolaborasi menarik: Kellin Quinn dari Sleeping With Sirens tampil di “Always the King”, sementara Craig Mabbitt dari Escape the Fate hadir di “Worth It”. Kedua kolaborasi ini memperkaya spektrum album dan memberi kesan bahwa meski sudah hampir dua dekade berjalan, The Red Jumpsuit Apparatus tetap menjadi bagian penting dari jejaring alternatif rock internasional.
Dengan ‘X’s For Eyes’, band ini menegaskan bahwa perjalanan panjang mereka masih penuh bahan bakar. “Perfection” sebagai pintu masuk album terasa seperti undangan untuk kembali melihat apa yang membuat banyak pendengar jatuh hati pada band ini sejak dulu: melodi kuat, emosi yang jujur, dan keberanian untuk terus berbicara tentang hal-hal yang lebih besar dari musik itu sendiri.
Support Gigsplay Dengan Saweria