International
“The World, So Madly”, Single Baru Ratboys Menjelang Album Terbaru
Band indie rock asal Chicago, Ratboys, bersiap merilis album terbaru mereka berjudul ‘Singin’ to an Empty Chair’ pada 6 Februari mendatang lewat label New West. Album ini menjadi debut mereka bersama label tersebut, sekaligus membuka fase baru setelah perjalanan panjang yang semakin mengukuhkan posisi Ratboys di skena indie Amerika.
Menjelang perilisannya, mereka kembali merilis single keempat berjudul “The World, So Madly”, sebuah lagu yang memberikan gambaran jelas tentang arah emosional album terbaru mereka.
Ratboys digerakkan oleh Julia Steiner sebagai vokalis dan gitaris, didampingi Dave Sagan di gitar, Marcus Nuccio di drum, dan Sean Neumann di bass. Formasi ini tetap konsisten menghadirkan lagu-lagu dengan nuansa hangat, tajam, dan memadukan sensibilitas folk, indie rock, dan lirik yang terasa dekat dengan keseharian. “The World, So Madly” adalah contoh bagaimana Ratboys tidak berusaha berteriak, tetapi memilih untuk berbicara perlahan dengan dampak yang bertahan lama.
Dalam keterangan pers, Steiner bercerita bahwa ide awal lagu ini direkam lewat voice memo pada 1 Januari 2023. Ia menyebutnya sebagai lagu tentang permulaan baru. Liriknya terinspirasi dari usaha untuk berdamai dengan perubahan besar dalam hidup, serta menerima kenyataan bahwa hidup selalu bergerak dan berubah. Steiner mengaku terpengaruh oleh berbagai peristiwa yang muncul di berita saat itu, tetapi ia sengaja menjaga liriknya tetap terbuka agar pendengar dapat menemukan kisah mereka sendiri dalam lagu ini.
Kembali ke album, ‘Singin’ to an Empty Chair’ berisi sejumlah lagu yang sebelumnya sudah lebih dulu diperkenalkan. “Light Night Mountains All That”, yang dirilis pada September lalu, sempat menempati posisi teratas di berbagai tangga lagu. Disusul “Anywhere” yang hadir bersama video musik dan kembali meraih posisi nomor satu, lalu “What’s Right” yang mengulang capaian serupa.
Rangkaian ini memperlihatkan konsistensi Ratboys dalam merangkai lagu-lagu yang kuat secara komposisi sekaligus emosional. Album sebelumnya, ‘The Window‘, bahkan dinobatkan sebagai album terbaik 2023 versi Top 100 Albums, sebuah pencapaian yang menempatkan ekspektasi tinggi pada rilisan terbaru ini.
Sean Neumann menggambarkan pendekatan album ini seperti merangkai sebuah quilt. Lagu-lagu direkam di berbagai tempat dengan suasana berbeda, dan bagian-bagian tertentu sengaja berpindah ruang rekam untuk membangun cerita masing-masing lagu. Pendekatan ini membuat album terasa seperti kumpulan potongan hidup yang saling terhubung, bukan satu narasi lurus yang kaku.
Secara tematik, ‘Singin’ to an Empty Chair’ sangat dipengaruhi pengalaman personal Steiner yang mulai menjalani terapi sebelum proses album dimulai. Judul album merujuk pada teknik empty chair, sebuah latihan terapi di mana seseorang berlatih melakukan percakapan sulit dengan seseorang yang tidak hadir, seolah berbicara pada kursi kosong.
Steiner menjelaskan bahwa benang merah album ini adalah upayanya mendokumentasikan pengalaman keterasingan dari seseorang yang sangat dekat dalam hidupnya. Album ini ia bayangkan sebagai cara untuk memberi kabar, mencoba menjangkau kembali, dan mengulurkan tangan ke ruang kosong yang memisahkan.
Bagi Steiner, album ini adalah arsip dari hari-hari yang beragam. Ada hari-hari yang penuh persahabatan dan cinta, ada pula hari-hari ketika ia terjebak dalam keinginan untuk menutup jarak yang terasa tak terjangkau. Semua itu dirangkai bersama, seperti sebuah quilt yang disimpan dalam kapsul waktu, menunggu saat yang tepat untuk dibuka kembali.

