International
‘This Is Normal Now’ Rekam Kegelisahan Zaman Dalam Versi PABST
PABST, trio garage-rock asal Jerman, merilis album terbaru berjudul ‘This Is Normal Now‘ yang terasa relevan dengan suasana dunia saat ini. Di tengah arus berita kelam yang terus bergulir, mereka mencoba menghadirkan karya yang bukan hanya mencerminkan kondisi sosial, tetapi juga memberi ruang bagi pendengar untuk merasakan sesuatu selain murung dan putus asa. Album ini direkam di Leipzig dan dirilis melalui Alcopop! Records/Ketchup Tracks.
Dalam proyek terbarunya, PABST mengambil sudut pandang yang lebih tajam dan memposisikan diri sebagai pengamat dibandingkan rilisan sebelumnya. Mereka menyoroti kemunculan kembali ideologi sayap kanan dan populisme yang kini terasa semakin biasa dalam percakapan publik.
Sang basis, Tilman Kettner, menyatakan bahwa beberapa tahun terakhir memperlihatkan betapa cepat hal-hal yang dulu dianggap mustahil dapat berubah menjadi sesuatu yang dianggap wajar, baik dalam hal positif maupun negatif. Pandangan itu kemudian menjadi fondasi utama dari album ini.
Album dibuka dengan “Limbo No.5”, sebuah nomor bernapas pop-punk yang memperlihatkan kematangan baru dari karakter garage-rock mereka. Lagu ini sekaligus menjadi penanda arah sonik yang mereka ambil pada album ini.
Namun pengaruh yang mereka serap tidak berhenti di situ. Selama proses penulisan, PABST juga mengambil inspirasi dari figur-figur pop eksperimental seperti Charli XCX dan Sophie. Eksplorasi berani semacam ini bukanlah hal baru untuk mereka. Sejak debut ‘Chlorine’ pada 2018, PABST selalu tampil dengan pendekatan yang anti-arus, penuh energi, dan berjiwa eksperimental.
Di album terbaru ini, beberapa kolaborasi ikut memberi warna tambahan. Shane Parson dari DZ Deathrays menyumbang vokal untuk single “I Felt All There is to Feel” yang menambah dimensi kasar pada lagu tersebut.
Sementara Katja Seiffert, musisi indie-rock Leipzig yang dikenal dengan nama Blush Always, hadir di lagu “Twenty Three”, sebuah nomor bernuansa nostalgia yang lebih lembut dan sendu. Kolaborasi seperti ini membuat ‘This Is Normal Now’ terasa lebih terbuka, berbeda dari rilisan-rilisan awal mereka yang cenderung lebih tertutup dan mandiri.
Secara tema, album ini jelas bergerak dalam orbit ide-ide kiri dan kritik terhadap kapitalisme. “Orca Whale” menjadi contoh paling eksplisit, dengan gitar bergaung dan gebukan drum yang padat, mencerminkan pikiran-pikiran nihilistik yang mengisi benak para personel band.
Lagu ini mungkin menjadi salah satu potongan paling mudah dicerna, tetapi tetap memperlihatkan sikap tanpa kompromi PABST. Sementara itu, “Destroy Everything” hadir lebih singkat dan lebih meledak, dengan repetisi lirik “There’s nothing left to do” yang terasa gelap. Lagu tersebut menyiratkan rasa pasrah sekaligus kelegaan aneh yang muncul saat seseorang berhenti melawan sesuatu yang tampak mustahil diubah.
Erik Heise, vokalis dan gitaris, menyebut bahwa situasi dunia saat ini sering terasa seperti bayangan dari berbagai skenario distopia yang dulu hanya hidup dalam imajinasi. Banyak momen yang membuatnya berpikir bahwa apa yang dulu dianggap ekstrem, kini menjadi kenyataan yang bisa disentuh.
Album ini juga memuat beberapa lagu lain yang memperluas palet mereka, seperti “Heavy Metal Junk Island” yang beraroma Americana, “Song on the Radio” yang menghentak tanpa kompromi, dan tentu saja single utama “Big Big Heart” yang memperlihatkan aransemen paling menonjol di album.
PABST menutup album ini dengan track penutup yang lebih senyap, memberi jeda setelah rangkaian lagu yang terus menuntun pendengarnya kembali pada kenyataan dunia luar yang rumit.
‘This Is Normal Now’ hadir sebagai penyegaran modern untuk sebuah genre yang kerap jatuh ke pola yang bisa ditebak. Di tengah kekacauan yang terus melingkupi dunia, album ini seolah memberi napas sejenak, sekaligus meninggalkan rasa penasaran tentang seberapa jauh PABST akan mendorong batas kreativitas mereka di rilisan berikutnya.

