New Tracks

Airportradio Rilis Dua Lagu Baru Sebagai Ruang Aman Bagi Penyintas Kekerasan

Profile photo ofamelia

Diterbitkan

pada

Airportradio

Airportradio kembali bergerak dengan cara yang terasa personal dan penuh empati. Bertepatan dengan Kampanye 16 Hari Anti Kekerasan terhadap Perempuan yang berlangsung dari 25 November sampai 10 Desember, kuartet hazy dream pop asal Jakarta ini merilis dua lagu baru berjudul “Semesta Kecil” dan “Bunga Tengah Hari”.

Keduanya dirilis pada 6 Desember 2025 lewat kerja sama dengan demajors, dan membawa pesan yang sangat dekat dengan pengalaman para penyintas kekerasan berbasis gender. Airportradio menghadirkan ruang aman melalui musik, sekaligus mengajak pendengar memahami bagaimana dukungan orang terdekat dapat membantu seseorang bangkit dari trauma.

Sejak berdiri dua dekade lalu, Airportradio memilih tidak menggunakan gitar dalam musiknya. Mereka menahan diri dari suara yang terlalu bising agar bisa membangun atmosfer yang sunyi, penuh ruang, tetapi kaya tekstur. Pilihan ini membentuk identitas mereka sejak awal, dan tetap terlihat jelas dalam dua single terbaru ini.

“Semesta Kecil” dibuka dengan lantunan puisi yang sangat hening, seperti menempatkan pendengar di titik awal perjalanan emosional seorang penyintas. Lagu ini perlahan berkembang, sebelum akhirnya ditutup oleh komposisi yang lebih hangat dengan ketukan drum yang terasa sebagai dorongan halus menuju pemulihan.

Di bagian akhir, suara sintetis, bass, french horn, biola, dan cello bergerak bersama membentuk keramaian kecil yang terasa menguatkan. Lagu ini bercerita tentang kehadiran aman dari orang-orang terdekat penyintas, kehadiran yang tidak heboh tetapi mampu menyembuhkan. Nama “Raka Senyawa” muncul sebagai simbol energi yang dibangun bersama.

Sementara itu, “Bunga Tengah Hari” mengambil pendekatan berbeda. Lagu ini dibuka oleh rekaman suara hutan Kalimantan selama satu menit, yang diambil dari proyek Points of Listening. Suara alam ini ibarat jeda panjang untuk bernapas, ruang bagi sesuatu yang rapuh agar bisa tumbuh kembali. Lagu ini berkisah tentang kebangkitan penyintas yang mulai menemukan kembali nilainya setelah bertahun mengalami kekerasan.

Lirik “Namanya disebut Bunga Tengah Hari, padahal ia senja yang enggan pergi. Tumbuh diam di reruntuh yang asri”, menggambarkan sosok yang perlahan belajar berdiri lagi. Tidak ada drum di lagu ini, hanya permainan sintetis, bass, cello, dan suara simbal yang dikerjakan untuk menggambarkan proses pertumbuhan bunga. Lagu ini juga kembali ditutup oleh suara hutan Kalimantan, seolah menegaskan bahwa ketenangan adalah titik awal seseorang menemukan rasa aman.

band Airportradio

Dua lagu ini sejalan dengan tema Kampanye HAKTP tahun 2025 yang diangkat Komnas Perempuan, “Kita Punya Andil, Kembalikan Ruang Aman”. Airportradio tidak hanya bergema dalam pendekatan artistik, tetapi juga dalam tenaga emosional yang mereka bawa.

Keduanya terinspirasi dari pengalaman nyata para personel dan sejumlah kontributor yang merupakan penyintas KBG dan berhasil bangkit menuju hidup yang lebih utuh. Sejak 6 Desember, dua lagu ini dapat diakses dan diunduh secara gratis melalui situs demajors di tautan ini, bersamaan dengan Hari Tanpa Toleransi bagi Kekerasan terhadap Perempuan.

Kami merilis keduanya secara bersamaan karena saling berkaitan dan kami persembahkan untuk para penyintas, termasuk mereka yang masih berjuang, serta siapa pun yang menjadi sistem pendukung,” ujar Deon, pemain kibor Airportradio. Menurutnya, kekuatan sering muncul dari kebersamaan, terutama ketika sistem belum selalu berdiri di pihak penyintas.

Kekerasan berbasis gender masih menjadi persoalan besar di Indonesia. Data SIMFONI-PPA yang dikutip AMAN Indonesia mencatat 17.355 kasus hingga awal Agustus 2025, dengan 14.919 korban adalah perempuan. Sementara itu, UN Women mencatat hanya 40 persen perempuan yang mencari bantuan setelah mengalami kekerasan.

Angka ini menunjukkan bahwa hambatan terhadap akses pertolongan masih besar, mulai dari kendala hukum sampai tekanan sosial. Airportradio mencoba menyajikan sudut pandang lain, bahwa pemulihan bisa tumbuh lewat dukungan sesederhana kehadiran orang-orang terdekat.

Dua lagu tersebut adalah bagian dari album ketiga Airportradio yang dijadwalkan rilis pada 2026. Album ini kembali dipayungi oleh demajors Independent Music Industry, yang selama ini terlibat dalam berbagai program yang memberi ruang aman bagi perempuan, termasuk #SalingSilang di Synchronize Fest melalui kerja sama dengan Yayasan Pulih dan LBH Apik.

Proses pembuatan album berlangsung cepat. Airportradio, yang hanya berkumpul setiap delapan tahun, bertemu kembali pada Juli 2025. Mereka menghabiskan empat hari bersama di sebuah rumah sewa di Yogyakarta untuk menulis lagu dan menyusun tujuh aransemen awal.

Band dream pop Airportradio

Proses ini dilanjutkan dua hari di studio Kua Etnika, sebelum rekaman dilakukan pada hari ketujuh. “Yang paling kami nikmati justru obrolan pagi, kopi, dan tawa di tengah proses. Semuanya mengalir tanpa beban, hanya kebersamaan,” kata Moki, pemain drum.

Ade menambahkan bahwa “Semesta Kecil” menggambarkan ruang aman yang dirawat bersama. Di dalamnya, luka diakui, dirawat, dan dibiarkan tumbuh berdampingan. “Bunga Tengah Hari”, menurutnya, adalah potret penyintas yang mulai tumbuh di atas reruntuhan hidupnya.

Benedicta menegaskan bahwa KBG bukan hanya isu bagi mereka, tetapi realitas yang dialami sebagian personel dan kolaborator. Trauma panjang, ketidakadilan, stigma, dan kerusakan reputasi adalah beban yang sering harus ditanggung penyintas. “Dalam situasi seperti ini, musik menjadi cara kami merebut kembali narasi kami sendiri, mengakui luka, saling menjaga, dan menyuarakan bahwa semua orang berhak atas ruang aman,” ujarnya.

Airportradio berharap dua lagu ini bisa menggambarkan perjalanan utuh seorang penyintas. “Semesta Kecil” adalah lingkar aman yang menopang dan memulihkan. Dalam ruang itu, “Bunga Tengah Hari” tumbuh sebagai simbol kebangkitan dan penemuan diri. Keduanya dirancang sebagai alur pemulihan yang menyatu, membentuk energi kolektif yang ingin mereka bagikan.

Pesan kami sederhana, bahwa album ini adalah bentuk komitmen untuk saling jaga dan tumbuh bersama para penyintas, serta mengingatkan bahwa tidak seorang pun harus menghadapi luka sendirian,” tutup Benedicta.

Airportradio dibentuk pada 2003 oleh Moki, Ade, dan Deon. Mereka bereksperimen dengan karakter suara yang tenang, rendah, dan penuh ruang. Tidak ada gitar yang keras, hanya eksplorasi bunyi rendah dan minimalis untuk menggambarkan kebisingan di dalam kesunyian.

Nama Airportradio merujuk pada suasana bandara yang sunyi tetapi penuh lalu lintas suara tersembunyi. Benedicta bergabung pada 2005 dan tidak mengambil peran vokalis yang mendominasi, melainkan menjadi bagian dari instrumen lain yang menyampaikan nuansa lagu.

Hingga kini, Airportradio terus menjaga pendekatan musikal yang memberi ruang bagi pendengar untuk membangun narasinya sendiri, sesuatu yang kembali terasa kuat dalam dua lagu terbarunya.

Support Gigsplay Dengan Saweria

🙏 Terima Kasih Atas Dukungan Anda!

Dukungan Anda sangat penting dan membantu Gigsplay untuk mendukung musisi independen Indonesia.

✅ KLIK UNTUK DONASI
Pilihan mode pembayaran
Pilihan metode pembayaran
Berikan Komentar

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *