International
“Easter Lily”, EP Kejutan Dari U2
Grup rock asal Irlandia, U2, kembali mengejutkan penggemarnya dengan merilis EP terbaru berisi enam lagu bertajuk ‘Easter Lily’. Rilisan ini dilepas bertepatan dengan perayaan Easter, selaras dengan konsep tematik yang diusung dalam materi di dalamnya. Salah satu lagu dalam EP tersebut juga melibatkan kolaborasi dengan Brian Eno, sosok yang sudah lama memiliki hubungan kreatif dengan band ini.
‘Easter Lily’ menjadi rilisan kedua U2 sepanjang tahun ini, setelah sebelumnya mereka merilis EP ‘Days of Ash’ pada Februari lalu. EP tersebut hadir dengan muatan politis yang kuat dan dirilis bertepatan dengan Ash Wednesday. Salah satu lagunya, “American Obituary”, sempat menyita perhatian karena terinspirasi dari kasus kematian tragis yang melibatkan aparat imigrasi di Amerika Serikat.
Dalam pernyataan resminya, vokalis Bono menyatakan bahwa bandnya saat ini masih dalam fase eksplorasi di studio, mengerjakan materi album yang ia sebut “bising, berantakan, dan penuh warna yang tak masuk akal”, dengan tujuan utama untuk dibawakan secara langsung di panggung.
Ia menegaskan bahwa energi rock and roll masih mereka anggap sebagai bentuk perlawanan terhadap dunia yang semakin dipenuhi dengan distraksi layar dan kekacauan informasi.
Lebih jauh, Bono menyebut periode ini sebagai masa refleksi bagi banyak orang, termasuk bagi U2 sendiri. Band ini menggali pengalaman pribadi untuk merespons situasi global yang tidak menentu. Melalui ‘Easter Lily’, mereka mengajukan berbagai pertanyaan yang bersifat intim dan universal, mulai dari ketahanan hubungan pribadi di tengah tekanan zaman, arti persahabatan, hingga relevansi iman di era yang dipenuhi distorsi makna akibat algoritma digital.
EP ini juga membawa nuansa spiritual yang cukup kental. Inspirasi dari siklus kehidupan, ritual, hingga simbol kebangkitan menjadi benang merah yang mengikat keseluruhan lagu. Bono bahkan menyebut album ‘Easter’ milik Patti Smith sebagai salah satu referensi emosional yang membekas baginya sejak remaja, dan menjadi alasan di balik pemilihan judul ‘Easter Lily’.
Secara musikal, setiap lagu dalam EP ini menghadirkan pendekatan yang berbeda. “Song for Hal” menjadi sebuah refleksi duka atas masa pandemi COVID-19, dengan vokal utama yang dinyanyikan oleh The Edge, didedikasikan untuk mendiang Hal Willner. Di sisi lain, “In a Life” mengangkat tema persahabatan, sementara “Scars” berbicara tentang penerimaan diri, termasuk luka-luka yang membentuk kepribadian seseorang.
“Resurrection Song” menggambarkan perjalanan menuju hal yang tidak diketahui bersama orang-orang terdekat, sedangkan “Easter Parade” merayakan kehidupan baru dan pembaruan. Lagu “COEXIST (I Will Bless The Lord At All Times?)” menutup EP dengan nuansa yang lebih reflektif, berfungsi sebagai lagu pengantar tidur bagi keluarga yang terdampak konflik, dengan lanskap suara yang diciptakan oleh Brian Eno.
Kolaborasi dengan Brian Eno bukanlah hal baru bagi U2. Ia sebelumnya terlibat dalam beberapa proyek penting mereka, seperti album ‘Achtung Baby’, ‘Zooropa’, serta proyek eksperimental ‘Original Soundtracks 1’.
Selain merilis EP, U2 juga menghidupkan kembali zine legendaris mereka, “Propaganda”, yang pertama kali terbit pada tahun 1986. Kini hadir dalam format digital dengan edisi cetak terbatas, publikasi ini menjadi ruang tambahan bagi band untuk berbagi perspektif kreatif mereka.
Dengan formasi yang terdiri dari Bono, Larry Mullen Jr., Adam Clayton, dan The Edge, U2 terus menunjukkan bahwa mereka belum berhenti bereksperimen. ‘Easter Lily’ hadir sebagai potret reflektif dari band yang masih berusaha memahami dunia, sekaligus diri mereka sendiri, di tengah perubahan yang terus berlangsung.
Support Gigsplay Dengan Saweria