New Albums
Fraidé Hadirkan Narasi Emosional Dalam Empat Lagu Di Debut EP ‘Reflection’
Skena musik Yogyakarta kembali memunculkan nama baru yang patut diperhatikan. Kali ini datang dari kuartet indie pop/alternatif bernama Fraidé, band yang terbentuk dari semangat serupa di antara empat musisi yang telah cukup lama bersinggungan dengan dunia musik, baik di panggung lokal maupun proyek pribadi mereka sebelumnya.
Diisi oleh Gie Seddon (vokal), Gilang Hermani (gitar), Kade Agus (bass), dan Nano Rasendria (drum), Fraidé menjadi proyek yang menyatukan kembali energi musikal yang sempat tertunda karena kesibukan masing-masing anggotanya dalam urusan keluarga dan pekerjaan.
Meski terbentuk di tengah padatnya rutinitas, Fraidé bukan pelarian atau proyek iseng. Ada kesadaran kolektif bahwa musik tetap menjadi bagian penting dari hidup mereka. Alih-alih hanya bernostalgia, keempat personel ini justru membangun identitas baru lewat Fraidé, yang lahir dari kesepakatan untuk kembali berkarya secara utuh.
Nama Fraidé berasal dari momen kebersamaan yang sederhana. Jumat adalah satu-satunya hari di mana keempatnya bisa berkumpul, berlatih, dan berdiskusi. Dari sinilah muncul ide nama “Fraidé”, adaptasi dari kata “Friday”. Sebuah nama yang bukan hanya mewakili waktu, tapi juga rasa. Jumat adalah titik jeda dalam seminggu yang sibuk. Hari yang identik dengan kebersamaan, pulang ke rumah, dan mencari ketenangan. Sebuah makna yang ingin mereka bawa ke dalam musik mereka: tentang pulang, tentang ketulusan, dan tentang harapan.
Secara musikal, Fraidé berada di ranah indie pop/alternatif, namun mereka tidak ragu untuk mengeksplorasi nuansa overdrive dan distorsi tebal pada gitar. Pengaruh kuat datang dari musik era 90-an, mulai dari The Cranberries, Placebo, The Smashing Pumpkins, hingga The Cardigans dan Alanis Morissette. Semua referensi ini tidak hanya muncul dalam bunyi, tapi juga dalam warna emosional dan narasi lirik yang mereka sajikan.
Di saat banyak band memilih jalur aman dengan merilis satu lagu sebagai perkenalan, Fraidé justru memilih rute yang lebih berani. Mereka langsung mengeluarkan mini album berisi empat lagu bertajuk ‘Reflection‘. Sebuah keputusan yang cukup langka untuk sebuah band baru, namun bisa dimengerti ketika mendengarkan alasan di baliknya. Menurut Gie Seddon, keempat lagu tersebut saling terhubung dalam satu alur cerita emosional yang tidak akan utuh jika dilepaskan satu per satu.
Selain berfungsi sebagai judul, ‘Reflection’ juga menjadi benang merah yang menghubungkan seluruh isi EP ini. Ada perjalanan batin yang terekam dalam empat track ini: tentang pencarian, keraguan, penerimaan, dan kesadaran. Ini adalah karya yang mereka harapkan dapat menjembatani pengalaman pribadi dengan pengalaman universal para pendengar.
Gilang Hermani menambahkan bahwa dalam membangun identitas musikal, bentuk utuh seperti EP atau album penuh memiliki nilai yang lebih besar dibandingkan hanya mengandalkan single. Bagi Fraidé, keseriusan dalam berkarya harus terlihat dari cara mereka mengemas narasi dalam lebih dari satu lagu, sehingga pendengar bisa mengalami perjalanan emosional yang lebih menyeluruh.
Menariknya, seluruh lirik dalam ‘Reflection’ ditulis dalam bahasa Inggris. Keputusan ini diambil dengan pertimbangan matang. Gie Seddon menjelaskan bahwa sejak awal, Fraidé memang ingin agar karya mereka dapat menjangkau pendengar yang lebih luas, tidak hanya terbatas pada wilayah domestik.
Proses penulisan lirik juga melibatkan James Seddon, pasangan Gie, yang kemudian dielaborasi dan disesuaikan dengan aransemen oleh Gie sendiri. Meski menggunakan bahasa asing, pesan yang dibawa tidak kehilangan kedalamannya. Bagi mereka, bahasa hanyalah media. Rasa adalah inti dari semua lagu yang mereka ciptakan.
Apa yang membuat Fraidé berbeda dari band lainnya bukan hanya genre atau sound, tetapi juga cara mereka menyampaikan pesan. Lirik-lirik mereka lahir dari pengalaman nyata dan fase hidup yang umum dialami siapa saja. Mereka ingin lagu-lagu itu terasa dekat, seolah-olah mencerminkan diri kita. Ketika seseorang mendengarkan dan merasa, “Ini tentang saya”, di situlah koneksi emosional itu terjalin.
Lagu utama dari EP ini, “Reflection”, terinspirasi dari perjalanan pribadi Gie Seddon saat melakukan solo trip ke luar negeri. Dalam keheningan, ia menemukan banyak suara dari dalam dirinya sendiri. Lagu ini menjadi titik balik dan bentuk rekonsiliasi dengan suara-suara batin yang selama ini terpendam. Ini adalah lagu tentang kesempatan kedua untuk mendengarkan diri sendiri, dan menyadari bahwa musik adalah bagian dari identitas yang tak terpisahkan.
Lagu kedua, “Y&G” (Yellow and Green), menghadirkan suasana yang lebih melankolis. Lagu ini menangkap momen-momen ketika seseorang merasa ragu, terjebak di antara dua pilihan, tetapi tetap harus melangkah. Sebuah narasi tentang keteguhan dan keberanian yang tenang.
Masuk ke track ketiga, “Déjà Vu”, nuansa personalnya semakin dalam. Lagu ini mengangkat tema cinta terhadap diri sendiri, tentang bagaimana versi terbaik dari diri kita sudah ada sejak lama dan selalu ada di sekitar kita, hanya saja sering kali kita abaikan. Lagu ini mengajak pendengarnya untuk mengingat dan merayakan versi terbaik dari diri mereka sendiri.
Track terakhir, “Is Love”, menjadi penutup yang hangat. Lagu ini merangkum pesan bahwa cinta yang mengelilingi kita sering kali tidak kita sadari, dan baru terlihat ketika kita berhasil terhubung kembali dengan diri sendiri. Ini bukan lagu cinta romantis, melainkan tentang cinta dalam bentuk yang paling mendasar: penerimaan, pengakuan, dan kehadiran.
Semua proses rekaman dilakukan di dua studio yang berbeda. Instrumen drum dan sebagian vokal direkam di Abel Studio, sementara vokal lainnya, bass, dan gitar direkam di Neverland Studio. Proses mixing dan mastering ditangani oleh Bayu Randu, yang berhasil mengemas keseluruhan materi dengan kepekaan terhadap tekstur suara dan dinamika emosional.
EP ‘Reflection’ resmi dirilis pada Jumat, 18 Juli 2025, dan tersedia di berbagai platform musik digital seperti Spotify, Apple Music, dan Deezer. Selain audio, versi video lirik dari semua lagu juga sudah tayang di kanal YouTube resmi Fraidé.
Usai merilis ‘Reflection’, Fraidé tidak berencana berhenti. Mereka tengah menyiapkan konten live performance dan mulai membangun materi untuk album penuh yang ditargetkan rilis tahun depan.
Dengan pendekatan yang tulus dan narasi yang kuat, Fraidé mengajak pendengarnya untuk masuk lebih dalam, menemukan cerminan diri di dalam lagu-lagunya. Ini adalah awal yang menjanjikan bagi band yang tidak ingin sekadar muncul, tetapi juga ingin meninggalkan jejak.
Support Gigsplay Dengan Saweria
