International
Gorillaz Kembali Dengan Single “The Happy Dictator”, Album The Mountain Menyusul 2026
Gorillaz resmi mengumumkan album baru bertajuk ‘The Mountain’ yang akan dirilis pada 20 Maret 2026. Kabar ini datang bersamaan dengan pengumuman rangkaian tur mereka di Inggris dan Irlandia, serta perilisan single perdana “The Happy Dictator” yang menampilkan kolaborasi teatrikal bersama duo legendaris Sparks.
Album ini sebelumnya sudah sempat diperdengarkan secara eksklusif dalam empat pertunjukan eksklusif di Copper Box Arena, London, awal bulan ini. Pada momen tersebut, penonton diminta untuk tidak menggunakan ponsel sehingga detail mengenai album baru hanya beredar dari mulut ke mulut dan unggahan para penggemar setelah konser usai. Meski begitu, antusiasme langsung meluas ketika informasi mengenai daftar kolaborator hingga nuansa musikal mulai tersebar di media sosial.
‘The Mountain’ akan menjadi rilisan pertama Gorillaz di bawah label baru mereka, KONG. Album ini menghadirkan daftar kolaborator yang mengesankan, mulai dari Black Thought, Omar Souleyman, Asha Puthli, Asha Bhosle, Gruff Rhys, Kara Jackson, Yasiin Bey, Paul Simonon, Joe Talbot dari IDLES, Johnny Marr, Ajay Prasanna, Trueno, hingga Anoushka Shankar. Nama Sparks juga masuk dalam daftar, sekaligus hadir mendampingi Albarn dalam single perdana.
Selain itu, sejumlah musisi pendukung seperti London Arab Orchestra, Demon Strings, Chris Storr, James Copus, dan Matthew Gunner turut memperkaya nuansa musik album ini. Bahkan beberapa sosok yang sudah tiada tetap dihadirkan sebagai “Voices from Elsewhere”, seperti Dennis Hopper, Bobby Womack, Dave Jolicoeur dari De La Soul, Tony Allen, Proof, serta Mark E. Smith dari The Fall.
Di sisi lain, single “The Happy Dictator” menampilkan atmosfer teatrikal dengan vokal Damon Albarn yang menyampaikan kalimat, “No more bad news, so you can sleep well at night and the palace of your mind will be bright”. Lagu ini menjadi pengantar pertama menuju album penuh yang dijanjikan akan penuh pengaruh musik India, Asia Selatan, Timur Tengah, hingga warna-warna world music.
Hal ini semakin diperkuat oleh bocoran visual dari pertunjukan di Copper Box, yang memperlihatkan karakter fiksi Murdoc digambarkan bak dewa Hindu dengan kulit biru, janggut panjang, serta tasbih menggantung di lehernya. Dalam rilis resminya, album ini digambarkan sebagai kisah perjalanan Murdoc, Russel Hobbs, 2D, dan Noodle di India. Mereka seolah meninggalkan gemerlap pop internasional dan kini lebih berfokus pada pencarian musikal yang bersifat mistis.
Pengumuman album ini juga dibarengi dengan jadwal tur Inggris dan Irlandia pada Maret 2026. Gorillaz akan tampil di Birmingham, Glasgow, Leeds, Cardiff, Nottingham, Liverpool, Belfast, dan Dublin. Mereka juga menyiapkan pertunjukan tunggal berskala besar di Stadion Tottenham Hotspur, London, dengan Sparks dan rapper Argentina Trueno sebagai penampil pendukung.
Empat konser di Copper Box Arena yang digelar Agustus hingga awal September lalu juga menjadi penanda 25 tahun perjalanan Gorillaz. Dalam penampilan perdananya, mereka membawakan album debut ‘Gorillaz’ secara penuh, termasuk “Double Bass” dan “Ghost Train” yang untuk pertama kalinya dimainkan live. Pertunjukan ketiga menghadirkan album ‘Plastic Beach’ secara keseluruhan, lengkap dengan kejutan berupa penampilan lagu-lagu dari ‘The Fall’ seperti “Phoner To Arizona” dan “California And The Slipping Of The Sun”.

Penampilan Gorillaz diatas panggung (credit: Denholm Hewlett)
Serangkaian konser tersebut digelar bersamaan dengan pameran House of Kong, yang membuka tirai proses kreatif Gorillaz sejak single debut “Tomorrow Comes Today” pada tahun 2000 hingga saat ini. Pameran itu memberikan pengalaman interaktif kepada penggemar, memperlihatkan bagaimana konsep band virtual ini terus berevolusi dalam seperempat abad terakhir.
Ke depan, Gorillaz juga menyiapkan langkah baru dengan meluncurkan kembali Kong Studios dalam format video game daring, memperluas semesta fiksi mereka sekaligus menghadirkan pengalaman baru yang menghubungkan musik, visual, dan interaktivitas digital.
Dengan ‘The Mountain’, Gorillaz nampaknya tidak hanya hanya merayakan perjalanan panjang mereka, tetapi juga membuka dunia baru yang berani, penuh eksperimen lintas budaya, dan tetap setia pada semangat kolaborasi yang sejak awal menjadi ciri khas band ini.

