International
“Grazer” Dan Cara Ain’t Membaca Ulang Budaya Pop
Band indie rock asal London, Ain’t, membuka 2026 lewat perilisan single terbaru berjudul “Grazer”. Dengan durasi di bawah tiga menit, lagu ini melaju cepat lewat dorongan energi yang padat, dipandu permainan gitar yang mengalir serta harmoni yang mudah diingat, sekaligus memberi gambaran arah untuk EP debut mereka.
Momen ini muncul setelah tahun yang sibuk bagi band tersebut. Mereka berhasil masuk dalam daftar NME 100 dan menjual habis tiket untuk konser utama perdana mereka di London.
Dalam proses produksinya, “Grazer” direkam bersama Ali Chant, yang dikenal karena kolaborasinya dengan Dry Cleaning dan Yard Act. Hasilnya adalah pendekatan suara yang terinspirasi oleh nuansa “90-an slacker”, menggabungkan elemen shoegaze dengan dream pop yang atmosferik.
Single ini menjadi bagian terakhir dari EP enam lagu mereka yang akan datang, ‘How They Faked The Moon Landing’, yang dijadwalkan rilis dalam format vinyl 12 inchi melalui Fear Of Missing Out Records pada 22 Mei.
Di balik energi yang terdengar ringan, vokalis Hanna Baker Darch menyisipkan lapisan gagasan yang cukup dalam. Ia menyoroti kecenderungan sebagian orang yang menganggap budaya populer sebagai sesuatu yang dangkal. Bagi Darch, proses menciptakan karya seni itu sendiri sudah memiliki dimensi yang bersifat mistis. Pandangan tersebut kemudian dituangkan dalam “Grazer”, dengan mengambil referensi dari film horor klasik Hellraiser.
Darch melihat film tersebut bukan hanya sebagai waralaba slasher yang menghibur, tetapi juga memiliki hubungan dengan pemikiran Gilles Deleuze dan Félix Guattari.
Ia mengangkat karakter Frank Cotton sebagai representasi dari “body without organs” dan “desiring machine”, dua konsep yang sering muncul dalam diskusi filsafat mereka. Dengan pendekatan ini, “Grazer” berusaha menjembatani antara budaya populer dan pemikiran filosofis yang lebih kompleks.
Di tengah perkembangan teknologi, termasuk kehadiran kecerdasan buatan, Darch juga menekankan pentingnya menjaga nilai kreativitas dalam berbagai bentuk, tidak terbatas pada karya yang dianggap “tinggi”. Ia melihat ekspresi artistik, dalam bentuk apa pun, memiliki posisi yang semakin penting untuk dipertahankan.
Meski terdengar santai di permukaan, “Grazer” menyimpan bobot wacana yang cukup tajam. Bersama EP yang akan datang, rilisan ini bukan hanya simbol perayaan atas pencapaian awal mereka, melainkan sebagai pengantar menuju fase dan kesempatan yang lebih besar.

