International
Indie Rock Yang Lebih Dalam Dari The Royston Club Di Album “Songs for the Spine”
Setelah debut dengan sukses lewat ‘Shaking Hips and Crashing Cars‘ pada 2023, The Royston Club kembali dengan album kedua mereka yang diberi judul ‘Songs for the Spine‘.
Album kedua memang selalu jadi momen krusial. Setelah euforia album perdana, ada tekanan besar untuk membuktikan bahwa kesuksesan sebelumnya bukan kebetulan. Sang vokalis, Tom Faithfull sempat berseloroh, “Album pertama bisa kamu tulis seumur hidup, tapi yang kedua? Mereka maunya dalam setahun, dan kamu cuma bisa bilang… oh, sial.”
Tapi alih-alih terburu-buru, mereka memilih untuk menarik napas lebih panjang. ‘Songs for the Spine’ baru dirampungkan dua tahun setelah debut mereka, dan itu adalah keputusan yang mereka yakini.
Ditulis selama akhir 2023 hingga awal 2024, album ini direkam di Liverpool saat musim dingin bersama produser Rich Turvey yang pernah bekerja dengan Blossoms dan The Coral. Menurut Tom, Turvey memahami arah yang mereka inginkan. “Kami nggak pengin bikin album indie biasa lagi. Kami ingin lebih jauh, dan dia mendorong kami ke arah sana,” jelasnya. Hasilnya adalah album yang terasa lebih padat, dewasa, dan penuh pertimbangan.
Kalau album pertama menangkap semangat band muda yang baru keluar dari garasi, ‘Songs for the Spine’ terdengar lebih matang dan personal. “Kami buang semua yang nggak perlu. Tiap bagian di lagu ini ada karena memang harus ada,” kata Tom.
Judul albumnya sendiri sempat bikin bingung. “Kami punya ribuan ide tapi nggak ada yang enak didengar,” ujarnya sambil tertawa. Akhirnya, mereka mengambil potongan lirik dari lagu pembuka, “Shivers”, dan menjadikannya judul utama.
Tiga lagu dalam album ini, yaitu “Spinning”, “Through the Cracks”, dan “Crowbar”, ditulis oleh Tom. Sisanya adalah karya gitaris Ben Matthias. Menariknya, proses penulisan awal dilakukan secara individual sebelum dibawa ke ruang latihan dan dibentuk ulang bersama.
“Biasanya kami bikin di akustik dulu, baru dibawa ke ruang latihan dan dibentuk bareng-bareng,” jelas Tom. Salah satu lagu favoritnya adalah “Ballad of Glen Campbell”, yang menurutnya menjadi titik balik kreatif selama proses penulisan. “Begitu lagu itu selesai, rasanya baru deh kayak kita beneran bikin album.”
Sebagian materi dalam album ini belum pernah dimainkan di panggung. “Ada lima atau enam lagu yang belum pernah kami bawa ke atas panggung, dan kami nggak sabar ngebawa lagu-lagu itu ke hidup baru. Itu yang bikin semuanya jadi seru,” kata Tom.
Band ini memang dikenal dengan energi live yang menggebu. Dari panggung kecil di pub-pub Wrexham hingga Glastonbury, reputasi mereka sebagai band live yang total sudah lama menyebar. “Main di Reading & Leeds nanti akan jadi panggung terbesar kami sejauh ini,” ungkap Tom antusias.
Tapi meski festival besar punya pesonanya sendiri, Tom tetap menyimpan cinta untuk venue kecil. “Dua hari lalu kami main di tenda kecil di Tramlines, dan itu luar biasa. Di panggung kecil, kamu bisa ngerasain energi yang padat dan intim, yang nggak kamu dapat di panggung besar,” katanya.
Bagi Tom, tempat-tempat seperti itu punya nilai sejarah tersendiri. Wrexham, misalnya, adalah kota yang membesarkan mereka. Tempat mereka diberi ruang, bukan demi untung, tapi karena orang-orang di sana mencintai musik.
Tom tak segan menyuarakan kekhawatirannya soal penutupan venue kecil di Inggris. “Venue yang isinya cuma 40 orang di hari Sabtu itu mungkin aja jadi tempat kamu nemu band favorit berikutnya,” ujarnya dengan nada serius. Itulah kenapa mereka memutuskan untuk merayakan perilisan album ini di The Rockin’ Chair, venue kecil di Wrexham pada 8 Agustus 2025. Sebuah momen pulang kampung yang penuh makna.
Kini, The Royston Club bersiap menghadapi musim sibuk: tur album, gigs di record store, festival, dan berbagai panggung yang lebih besar dari sebelumnya. Tapi yang paling penting: mereka punya album yang mereka percaya dan pendengar yang terus bertambah.


