New Tracks
Jugo Djarot Angkat Metafora Kebisingan Di “DERAU”, Single Perdana Dari ‘ALTAR’
Lima tahun terakhir, nama Jugo Djarot mungkin lebih banyak terdengar di balik layar, menjadi kolaborator bagi sejumlah musisi Indonesia. Namun hari ini, 30 September, ia akhirnya kembali menampilkan suaranya sendiri lewat single berjudul “DERAU”. Lagu ini menjadi pembuka untuk EP debutnya bertajuk ‘ALTAR’, yang akan dirilis melalui Kolibri Rekords pada 21 November mendatang.
“DERAU” diproduksi bersama Sinatrya Dharaka dari Thee Marloes. Keduanya merangkai lapisan aransemen yang kaya, menggabungkan nuansa pop klasik Indonesia era 70-an dengan sentuhan soul dan R&B yang hangat. Di balik alunan yang terasa manis, tersimpan kisah personal tentang adiksi, kegelisahan emosional, dan pergulatan batin yang sering tak mudah diungkapkan.
“Lagu ini tentang seseorang yang berhadapan dengan adiksi,” ungkap Jugo. “Dari sudut pandang orang yang berusaha menyembunyikannya dari orang-orang terdekat. Ada rasa bersalah, ada keinginan berhenti, tapi sulit karena ini adiksi. Tetap ada harapan untuk bisa diterima. Dan ini bukan melulu tentang narkotika, bisa juga kebiasaan toksik lain yang terus kita bawa.”
Judul “DERAU”, yang berarti kebisingan, dipakai Jugo sebagai metafora bagi gangguan emosional yang tak kunjung hilang, bahkan di tengah momen hening. Liriknya mengaduk ketegangan itu dengan cara lembut, disertai melodi yang nostalgik, seperti menyelipkan sedikit kenyamanan di tengah rasa bersalah. Ada nuansa “guilty pleasure” yang kuat, membuat lagu ini terasa intim sekaligus menohok.
Dalam pengerjaan “DERAU”, Jugo tidak berjalan sendiri. Ia menggandeng beberapa musisi untuk memberi warna pada produksinya, mulai dari Alit Djarot, Fransiskus Artika, Faris Bahasuan, hingga Yuyi Trirachma. Sinatrya Dharaka turut menjadi mitra penting dalam membentuk keseimbangan antara kekayaan aransemen dan kesederhanaan emosi yang ingin disampaikan.
Sementara itu, ‘ALTAR’ sebagai proyek penuh akan menampilkan sisi paling personal Jugo sejauh ini. Mini album tersebut mengeksplorasi tema-tema berat seperti kerinduan, kehilangan, trauma bonding, dan upaya berdamai dengan luka. Namun alih-alih tenggelam dalam muram, ‘ALTAR’ menghadirkan romantisasi terhadap detail-detail kecil kehidupan, ruang-ruang hening, dan perasaan yang jarang terucap.
Selama ini Jugo dikenal lewat kolaborasi bersama nama-nama seperti Diskoria dan Swadaya Insani (Lafa Pratomo). Namun lewat ‘ALTAR’, ia memilih untuk berbicara dengan suaranya sendiri. Intim, reflektif, sekaligus penuh kedekatan emosional, proyek ini menjadi langkah baru bagi Jugo sebagai penyanyi-penulis lagu dan produser dengan identitas musikal yang semakin jelas.
Dengan “DERAU” sebagai pembuka, Jugo Djarot mengajak pendengar menelusuri perjalanan batin yang rapuh sekaligus jujur. Sebuah undangan untuk menghadapi kebisingan dalam diri, alih-alih terus menekannya dalam diam.
