International
KUN Tampilkan Fase Baru Lewat Album Self-Titled Dan Single “Colder”
KUN resmi merilis album penuh keduanya yang bertajuk ‘KUN’ sekaligus menjadi proyek debutnya bersama label 88rising. Dalam rilisan berisi 11 lagu ini, KUN kembali menelusuri spektrum bunyi yang selama ini membentuk identitas musikalnya. Seluruh materi ditulis dan diproduksi oleh KUN, dan menampilkan pendekatan yang beragam, mulai dari rock, soul, jazz, pop, hingga R&B.
Dengan kombinasi tersebut, ia menciptakan tekstur klasik yang berakar pada tradisi musik Amerika, dipadukan dengan sentuhan produksi modern yang menonjolkan jangkauan vokalnya. Album ini juga menampilkan kolaborasi dengan Free Nationals, grup yang dikenal sebagai mitra dekat Anderson .Paak dan pernah dinominasikan untuk Grammy.
Seiring dengan peluncuran album, KUN juga merilis video musik untuk single utama “Colder”. Lagu yang berbasis gitar ini memiliki nuansa alt rock yang gelap, menggambarkan tema penyesalan dan keterasingan dengan cara yang paling personal.
Video musiknya memiliki nuansa sinematik yang unik. Disyuting di lanskap Islandia, KUN digambarkan mendarat di planet asing dengan hanya boneka salju sebagai teman. Visual ini disutradarai oleh Folkert Verdoorn dan Simon Becks, yang sebelumnya bekerja dengan FKA Twigs dan A$AP Rocky, dengan arahan seni dari Eggert Ketilsson, yang terlibat dalam proyek film seperti Dunkirk dan Interstellar.
KUN menyebut proses pengerjaan album ini sebagai pengalaman yang sangat personal. Ia menjelaskan bahwa setiap lagu membawanya ke ruang dan suasana yang berbeda, baik secara fisik maupun emosional. Saat menggarap “Colder”, ia mengikuti energi lagu itu hingga ke gletser Islandia, merasakan dingin yang ekstrem sekaligus ketenangan yang menurutnya bersifat menyembuhkan.
Lagu lain seperti “Jasmine” menggambarkan suasana kota yang padat dan bising, tetapi tetap memberikan rasa kebebasan. Saat pertama kali membawakan “What a Day” secara langsung, ia merasakan energi panggung yang sangat kuat. Ia berusaha menangkap perasaan itu di studio dengan menggunakan metode rekaman yang terinspirasi oleh teknik-teknik lama, untuk menjaga nuansa spontan dan ketidaksempurnaan yang ia anggap penting dalam musik.
Menurut KUN, album ini lahir dari perubahan cara pandangnya sebagai seniman. Jika sebelumnya ia kerap mempertimbangkan ekspektasi pendengar, kini ia memilih berfokus pada apa yang benar-benar ingin ia nyanyikan.
Ia tertarik pada karakter suara yang terasa hangat dan manusiawi, seperti rekaman vintage, film klasik, serta melodi yang seolah telah hidup melintasi waktu. Ambisinya adalah menciptakan musik yang mampu menjembatani generasi dan budaya, sekaligus tetap relevan secara emosional bagi pendengar masa kini.
Seiring dengan peluncuran album, KUN juga mengumumkan tur musim semi yang akan mencakup Amerika Utara, Inggris, dan Eropa, dengan jadwal singgah di kota-kota seperti Los Angeles, San Francisco, Dallas, Chicago, New York, Washington DC, London, dan Paris.
Tur ini menyusul rangkaian penampilan besarnya di Amerika Serikat sepanjang 2025, termasuk konser utama yang tiketnya terjual habis di Fonda Theatre serta partisipasinya di Head In The Clouds Festival di New York dan Los Angeles.
Di kawasan Asia, pengaruh KUN terus menguat. Ia baru saja menerima penghargaan All-Round Artist of the Year di ajang JOOX Top Music Night Bangkok dan tampil sebagai headliner di festival perdana Bubbling & Boiling di Singapura. Kehadirannya sebagai bintang tamu dalam penampilan khusus di Indonesian Idol juga memperluas jangkauannya ke jutaan penonton televisi nasional.
Dikenal dengan nama lengkap Cai Xukun, KUN telah berkembang menjadi figur budaya global yang melampaui ranah musik. Ia mencatat rekor streaming, meraih berbagai penghargaan internasional termasuk dari Billboard, serta berkolaborasi dengan kreator seperti Dave Meyers dan DJ KSHMR.
Selain memimpin proyek inovatif ART LAB LIVE milik Tencent, KUN juga berperan sebagai duta global untuk sejumlah rumah mode ternama dan kerap masuk dalam daftar figur berpengaruh versi Forbes dan Business of Fashion. Melalui album terbarunya, ia kembali mempertegas posisinya sebagai seniman yang menggabungkan ekspresi emosional, eksplorasi visual, dan visi musikal yang terus berkembang.


