New Albums
Marsmolys Rilis Album Kedua, Sebuah Catatan Dari Rimba Psikedelia Yogyakarta
Marsmolys, kuartet psychedelic hard rock asal Yogyakarta, kembali menyuarakan eksistensinya lewat album penuh kedua bertajuk ‘The Progeny of Holy Moly’, yang akan dirilis pada 10 Oktober 2025 di berbagai platform digital. Album berisi 12 lagu ini menjadi penanda episode baru perjalanan musikal mereka, sekaligus refleksi atas segala yang telah dilalui sejak terbentuknya band ini di skena bawah tanah Yogyakarta.
Bagi Marsmolys, album ini adalah dokumentasi emosional tentang perjuangan hidup dan proses menjadi. Mereka menggambarkan ‘The Progeny of Holy Moly’ sebagai catatan dari rimba yang penuh duri, sebuah pengingat bahwa hidup tak boleh tandas meski terus melintasi jalan yang melukai.
Album ini merekam segala momen yang membentuk mereka: dari masa merilis single, mini album ‘Splitual‘ (kolaborasi dengan Kavaleri pada 2018), hingga debut album ‘Verticalysm‘ yang hadir tahun lalu.
Dalam keterangan resminya, Marsmolys menyebut ‘The Progeny of Holy Moly’ sebagai “kompas menuju dunia entah”, metafora untuk realitas yang membingungkan, tetapi justru melahirkan keberanian untuk terus bergerak.
“Album ini ditulis di masa penuh pertanyaan. Kami ingin merekam suara kepala kami sendiri: tentang keraguan, keberanian, dan semua yang belum selesai,” ungkap mereka.
Secara musikal, Marsmolys tetap mempertahankan energi psikedelik yang menjadi ciri khas mereka. Lapisan gitar yang berliku, dentuman bass yang tebal, dan gebukan drum yang menghipnotis berpadu membangun atmosfer trance yang intens, tapi tetap menyisakan ruang untuk emosi. Lirik-liriknya terdengar seperti monolog personal: di satu lagu penuh amarah, di lagu lain menghadirkan ketenangan dan penerimaan.
Dibentuk oleh Antino Restu (gitar, vokal), Yoga Bhakti (gitar), Ferdy Listant (bass), dan Fahrenno Asnawan (drum), album ini juga melibatkan banyak rekan kolaborator yang selama ini tumbuh bersama mereka di berbagai panggung dan studio.
Ada sembilan musisi yang ikut memperkaya bunyi dalam album ini, di antaranya Said Abdullah dengan permainan lapsteel-nya, Atasiaishii 石井羽⺠, Tarsisius Bima (Rahardjj), Desta Wasesa (Akadama & The Yoyo Connection), Daniel Ryan dengan sentuhan saksofon, Dhandy Satria (Aamaga), Elang Nuraga (Hunian dan additional guitar Sheila On 7), Jacky Murak (The Ring), serta Bable Sagala.
Kehadiran paduan suara dari Himasik UNY, yang diarahkan oleh Alfian Kurnia Ramadhan, menambah dimensi spiritual sekaligus teatrikal pada beberapa trek.
Proses rekaman berlangsung di beberapa tempat di Yogyakarta. Instrumen direkam di Watchtower Records, sementara vokal, paduan suara, dan beberapa sesi kolaborasi dilakukan di Jogja Audio School (JAS), Catpaws Lab Studio, dan HOUS Bureau Studio. Semua elemen akhirnya disatukan dan diselaraskan oleh Bable Sagala, yang juga berperan penting dalam penataan akhir album.
Untuk visual album dikerjakan oleh Antino yang menampilkan montase yang menggambarkan tiap trek secara psikologis dan simbolik. Setiap gambar berfungsi seperti potongan pikiran yang menuntun pendengar untuk menelusuri narasi album lebih dalam.
Melalui ‘The Progeny of Holy Moly’, Marsmolys tampak ingin mengajak pendengarnya untuk ikut menyelami proses pencarian yang mereka jalani: tentang rasa, waktu, dan ketahanan diri. Ini bukan hanya album rock psikedelik dengan aransemen tebal, tapi juga perjalanan batin yang jujur dan kompleks.
“Semoga apa yang kami pertanyakan lewat bunyi, teks, dan visual juga dirasakan oleh para pendengar di luar sana,” tulis Marsmolys dalam penutup pernyataannya. Sebuah harapan sederhana dari band yang masih percaya bahwa musik, pada akhirnya adalah cara paling jujur untuk bertahan hidup.
Support Gigsplay Dengan Saweria
