Flash News
Menyusuri Evolusi Musik Verenathania Melalui ‘1st EP (Live Session)’
Dikemas dalam format video spesial yang memuat tiga lagu yang diaransemen ulang dalam versi live session.
Verenathania tumbuh sebagai salah satu talenta muda dari Malang yang menaruh kecintaan kuat pada musik sejak usia yang masih sangat belia. Ketika teman-teman seusianya masih sibuk bermain, ia sudah menekuni gitar lewat berbagai jalur les privat.
Nama-nama seperti Robby Glyph dan Bayu Priaganda pernah menjadi gurunya, dua sosok yang cukup dikenal di kota itu dan memberi fondasi penting pada perjalanan musikalnya. Dari tahap inilah benih keseriusan bermusik mulai terlihat jelas.
Saat memasuki jenjang SMP, ruang mainnya makin luas. Ia mulai tampil bersama band sekolah dalam berbagai festival dan semakin rajin mengunggah cover lagu di media sosial serta kanal YouTube. Repertoarnya tidak terpaku pada satu genre; ia melompat dari pop hingga rock alternative, dari Justin Bieber hingga Coldplay, dari Paramore sampai Joe Satriani. Keberanian mengeksplorasi banyak gaya itu membuka jalan menuju fase berikutnya: menulis lagu sendiri.
Langkah besar itu muncul pada 2023 ketika ia merilis single pertamanya, “Alien”. Lagu ini lahir dari kekagumannya pada Lee Seung Hyub, sosok idola yang terasa begitu jauh dan sulit tersentuh. Baginya, jarak itu menciptakan perasaan seperti berasal dari dunia berbeda.
Ia bercerita bahwa sang idola sempat mendengar lagu tersebut namun tidak menyadari bahwa suara di dalamnya adalah miliknya. Cerita kecil yang sederhana tetapi manis, dan memperlihatkan bagaimana lagu menjadi medium penghubung antara penggemar dan idolanya.
Setahun berselang, ia kembali dengan “Red Glasses”, single yang menyoroti dinamika hubungan yang tidak sehat. Verenathania menggambarkan dirinya seperti memakai kacamata berwarna merah, sehingga semua tanda bahaya tampak samar dan seolah tidak berbeda dari kenyamanan semu yang sedang ia jalani. Ceritanya lugas, personal, dan memberi gambaran lain tentang cara ia memaknai pengalaman emosional dalam hubungan.
Tahun 2025 ia menghadirkan lagu “to: the future u”, sebuah surat cinta terbuka tentang seseorang yang ia bayangkan sebagai pasangan ideal di masa depan. Ada keluguan yang terasa natural di balik cara ia bercerita, semacam refleksi tentang betapa mudahnya ia jatuh cinta pada sebuah gambaran harapan.
Ketiga lagu ini kemudian disusun ulang dalam format live session dan dirilis sebagai video spesial bertajuk ‘1st EP (Live Session)’ pada 8 November 2025 di kanal YouTube miliknya.
Proyek tersebut lahir dari obrolan santai dengan Rexi Tegar Pratama, sosok yang kemudian terlibat sebagai sutradara, DOP, dan editor video. Dari perbincangan itu muncul ide untuk mengeksplorasi ulang lagu-lagunya.
Menurutnya, tiga lagu itu merepresentasikan proses pencarian warna musikal yang kini semakin matang. Ia bekerja bersama sejumlah musisi yang mendampinginya pada versi live session ini: Oddy Satya pada gitar dan keyboard, Hanafi Madu Wanandi pada bass, serta Bogi Satya pada drum. Keterlibatan banyak pihak menambah kekayaan karakter pada hasil akhirnya.
Proses penggarapannya sendiri tidak mudah. Ia harus bolak-balik antara Kediri dan Malang, menyesuaikan jadwal dengan berbagai timeline yang tidak selalu sejalan. Meski begitu, ia menyebutnya sebagai pengalaman yang menyenangkan sekaligus menantang.
Proyek ini dikerjakan bersama Kondimen Malang, yang tengah menyiapkan rubrik baru berjudul “Bermusik di Kopian”. Lokasi syuting dilakukan di Culture Club Coffee dan sengaja diambil saat kafe beroperasi agar suasananya terasa alami, memberi ambience khas yang menjadi bagian dari visual.
Dukungan dari berbagai pihak juga mengalir, mulai dari Bacchus Indonesia, Bromo Guitar, hingga NUX yang memposisikannya sebagai salah satu brand ambassador. Menurutnya, kesempatan itu terbuka karena ia berani melawan rasa malu dan mulai aktif membangun kehadiran di ranah digital. Pandemi menjadi titik balik yang mendorongnya untuk lebih aktif berkonten hingga perlahan mendapatkan perhatian yang lebih besar dari publik.
Di luar musik, Verenathania juga bekerja di sebuah bank swasta, sebuah kondisi yang menuntutnya terus belajar membagi waktu. Ia tidak menutupi bahwa rasa lelah sering muncul, namun dorongan untuk terus memanfaatkan anugerah yang ia terima membuatnya tetap bertahan. Ada semacam rasa syukur yang mendorongnya untuk terus melangkah, meski ritmenya berat.
Melalui ‘1st EP (Live Session)’, ia berharap karya ini bisa menjadi jembatan menuju album penuhnya yang ditargetkan rilis tahun depan. Ia ingin pendengar bisa menikmati versi yang berbeda dari lagu-lagunya dan melihat dirinya bereksperimen lebih jauh bersama tim yang telah memberinya banyak dukungan.
Tahun 2026 ia targetkan sebagai momentum bagi album perdananya, sebuah proses yang ia jalani dengan tekad untuk menemukan identitas musikal yang lebih solid. Baginya, tujuan akhirnya sederhana: sampai pada titik di mana orang bisa mendengar sebuah lagu dan langsung tahu bahwa itu adalah warna khas dirinya.
Video ‘1st EP (Live Session)’ kini sudah tersedia di kanal YouTube resminya sejak 8 November 2025, membuka dunia baru dalam perjalanan bermusik seorang Verenathania yang terus berkembang.


