New Albums

“Merekam”, Dokumentasi Awal Perjalanan Harness

Profile photo ofArduino

Diterbitkan

pada

Harness

Setelah bertahun-tahun berjalan di jalur masing-masing, empat musisi dengan latar genre yang berbeda akhirnya bertemu di satu titik yang sama: rasa jenuh. Bukan jenuh yang membuat berhenti, melainkan kelelahan yang justru memicu keinginan untuk kembali mencoba sesuatu yang tidak nyaman.

Dari situ, Harness lahir sebagai proyek yang tidak dirancang dengan ambisi besar, melainkan tumbuh dari kebutuhan untuk keluar dari pola lama dan masuk ke ruang yang terasa asing, sekaligus membebaskan.

Harness diperkuat oleh Adrian Rekso pada vokal dan gitar, Al-Faruq Jogja Saputra di vokal dan bass, Ade Satria Iman di drum, serta Jerrell Ethan pada synthesizer. Mereka mulai berkumpul secara spontan di sebuah rumah sederhana di kawasan Jalan Sekip, Batutulis.

Tempat itu kemudian menjadi pusat gravitasi kreatif mereka, ruang di mana ide-ide muncul tanpa tekanan, dan akhirnya menjadi saksi proses lahirnya EP perdana Harness.

Waktu itu semua lagi bingung sama proyek masing-masing, capek tapi pengen tetap bikin sesuatu. Jadinya ya sudah, kami ngumpul di Jalan Sekip tanpa ekspektasi apa-apa. Ternyata malah jadi titik awal Harness,” ujar Adrian Rekso.

Pernyataan itu terasa jujur, sekaligus menjelaskan bagaimana band ini terbentuk secara alami, tanpa strategi atau target yang dipaksakan.

band Harness

Dari pertemuan-pertemuan yang tidak terjadwal tersebut, Harness kemudian merilis EP bertajuk ‘Merekam‘ pada 5 Desember 2025 dalam format digital. Judul ini terasa sederhana, tapi tepat sasaran. ‘Merekam’ berfungsi sebagai dokumentasi emosional atas keseharian mereka selama fase awal di Jalan Sekip.

Isinya merangkum berbagai perasaan yang muncul silih berganti, mulai dari keresahan, semangat baru, hingga rutinitas kecil yang tanpa disadari membentuk karakter musik Harness.

EP ini diproduseri oleh Adrian Rekso dengan dukungan Al-Faruq dalam eksekusi teknis dan arah musikal. Proses pengerjaannya berlangsung organik dan cair, tanpa tekanan waktu yang kaku. Namun di balik suasana santai itu, ada keseriusan untuk menemukan bentuk yang paling jujur dari dinamika Harness sebagai band baru.

EP ini sebenarnya cuma cara kami untuk mengingat apa yang kami rasakan di masa itu,” ungkap Al-Faruq. Pernyataan tersebut terasa sejalan dengan isi ‘Merekam’, yang berisi sejumlah track sebagai arsip fase awal mereka, baik sebagai kolektif maupun sebagai individu yang sedang mencari ulang alasan bermusik.

Menariknya, setelah EP ini dirilis, Harness tidak langsung melaju ke fase berikutnya. Mereka memilih menahan langkah sejenak, membuka ruang untuk mendengar respons dari lingkar terdekat dan orang-orang yang telah mengikuti perjalanan mereka sebelumnya. Pendekatan ini menunjukkan kehati-hatian sekaligus kesadaran bahwa Harness masih berada dalam proses menemukan bentuk yang paling utuh.

Sebagai bagian dari perilisan ‘Merekam’, Harness juga melepas video musik untuk lagu “All Days”. Video ini mengangkat kisah romansa yang tersendat oleh idealisme, bukan karena hilangnya rasa, melainkan karena arah yang tak lagi sejalan.

Disajikan secara intim dan sederhana, visualnya menangkap emosi yang sunyi dan jujur, selaras dengan karakter lagu “All Days” yang terasa personal dan reflektif.

Support Gigsplay Dengan Saweria

🙏 Terima Kasih Atas Dukungan Anda!

Dukungan Anda sangat penting dan membantu Gigsplay untuk mendukung musisi independen Indonesia.

✅ KLIK UNTUK DONASI
Pilihan mode pembayaran
Pilihan metode pembayaran
Berikan Komentar

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *