New Tracks
Musuffer Lepas Single Debut “Last Trip”, Awal Perjalanan Panjang Sebuah Pencarian
Musuffer, band indie asal Magelang, resmi memperkenalkan diri lewat single debut berjudul “Last Trip”. Lagu ini menjadi pernyataan awal dari sebuah kelompok yang sejak awal menempatkan musik sebagai ruang pencarian, bukan hanya sebagai hiburan. Mereka menyebut apa yang mereka mainkan sebagai Sufi rock, sebuah pendekatan yang lahir dari kegelisahan personal, refleksi spiritual, serta pengalaman bermusik yang beragam dari tiap personel.
Terbentuk pada November 2024, Musuffer digawangi Adi Safari pada vokal dan gitar, Bagas di gitar utama, Sukma pada bass, serta Edo di drum.
Pertemuan mereka berawal dari keresahan yang sama soal kehidupan bermusik yang kerap terasa stagnan, juga pertanyaan panjang tentang ketuhanan dan kemanusiaan yang tidak selalu menemukan jawaban. Dari titik itu, Musuffer hadir sebagai medium untuk merangkum suara-suara yang selama ini berputar di kepala masing-masing.
Secara musikal, “Last Trip” mencerminkan keberanian Musuffer meramu berbagai spektrum rock. Pengaruh rock n roll, stoner rock, mediteranian rock, psychedelic rock, hingga sentuhan disco terasa mengalir tanpa dipaksakan.
Semua itu dirangkai dengan nuansa modern yang membuat lagu ini tidak terjebak sebagai eksperimen semata, melainkan tetap komunikatif untuk pendengar masa kini. Setiap instrumen bergerak dinamis, memberi ruang pada vokal Adi yang terdengar reflektif dan penuh tekanan emosi.
Nama Musuffer lahir dari diskusi panjang. Terinspirasi dari berbagai istilah liturgis seperti musafir, suffer, dan mushaf, mereka memaknainya sebagai sekelompok orang yang melakukan perjalanan. Sebuah perjalanan untuk membaca setiap kejadian dan tanda, meski harus melewati jalan yang penuh penderitaan dan pengorbanan demi menemukan jawaban yang paling mendasar. Definisi ini terasa relevan dengan ruh “Last Trip” yang sarat perenungan.
Adi Safari menjelaskan bahwa lagu ini berangkat dari kegelisahannya melihat manusia dengan ego yang kerap berlebihan. Banyak yang terlarut dalam hal-hal duniawi, bahkan tanpa sadar mengagungkan isi kepalanya sendiri, tanpa memikirkan dampak yang menyertainya. Padahal di saat terpuruk, manusia sering kembali berlindung pada doa dan lafaz kepada Tuhan yang mereka yakini. Kontradiksi itulah yang menjadi napas utama “Last Trip”.
Lewat liriknya, Adi mengangkat konsep eksistensialisme manusia dan relasinya dengan dogma agama di berbagai belahan dunia. Lagu ini hadir sebagai pengingat bahwa posisi manusia di muka bumi hanyalah setitik pasir di tengah lautan luas. Bagi Musuffer, “Last Trip” juga menjadi cermin bagi mereka yang kerap angkuh dan merasa berada di atas segalanya.
Meski judulnya menggambarkan akhir, “Last Trip” justru menjadi awal perjalanan Musuffer menuju album perdana yang direncanakan rilis pada 2026. Single ini membuka pintu bagi arah musikal dan gagasan yang akan mereka bawa ke depan, sembari berharap lagu ini bisa menemani pendengar dan berjalan seiring dengan alasan utama Musuffer dibentuk sejak awal.
